Marine Le Pen, Tokoh Populis Calon Kuat Presiden Prancis

0
277

Nusantara.news – Marine Le Pen adalah nama yang mungkin tidak diperhitungkan sebagai calon pemimpin di Prancis sebelumnya. Tapi perjalanan waktu membuktikan popularitas dan elektabilitas Le Pen semakin menguat, tangga untuk meraih kepemimpinan di negeri Menara Eiffel itu pun semakin dekat. Le Pen dalam sejumlah jajak pendapat di Prancis diperkirakan memenangkan Pemilu Prancis di putaran pertama (April 2017) meski di putaran kedua (Mei 2017) masih harus bersaing ketat dengan calon lainnya dari Partai Sosialis, Emmanuel Macron.

Siapa Marine Le Pen?

Nama Le Pen tidak terlalu banyak dikenal orang saat ayahnya Jean-Marie Le Pen menjadi politisi besar di Prancis, sebagai pendiri Partai Front Nasional (FN) pada 5 Oktober 1972. Di bawah bayang-bayang ‘kebesaran’ nama sang ayah Le Pen cenderung tidak diperhitungkan di kancah politik Prancis.

Tapi saat ini, Le Pen bukan lagi sekadar ‘anak bawang’. Dia sekarang memimpin partai yang didirikan sang ayah, sekaligus menjadi kandidat kuat calon presiden Prancis dari Partai FN.

Keberadaannya seolah menebar “ancaman”, tidak saja bagi kalangan sosialis Prancis, tetapi juga bagi para sokoguru kapitalisme dunia. Tak kurang dari Direktur IMF Christie Lagarde hingga taipan pasar modal George Soros, mengkhawatirkan kemenangan Le Pen di Prancis. Bahkan Soros, jauh-jauh hari menuding Le Pen didukung Rusia. Negara yang salah satu banknya bersedia meminjamkan dana untuk Le Pen, karena pengajuan pinjaman tokoh sayap kanan ini ditolak oleh bank-bank Prancis.

Le Pen atau Marion Anne lahir pada 1968 di Neuilly-Sur Seine, Paris. Sejak kecil, dia sudah menunjukkan minat politiknya, terutama saat terlibat menemani sang ayah berunjuk rasa memprotes kebijakan pemerintah. Ini berlanjut ketika Le Pen menginjak usia 18 tahun, dia memutuskan untuk bergabung dengan partai Front Nasional, partai berideologi nasionalis konservatif warisan sang ayah.

Le Pen akhirnya terpilih sebagai ketua umum partai FN pada 2011. Selama memimpin Partai, dia berupaya keras membersihkan reputasi anti-semit dan rasis yang sering dialamatkan kepada partai warisan orangtuanya itu.

Bahkan atas upayanya, Le Pen sempat bertengkar hebat dengan pendiri partai, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Tapi Jean-Marie Le Pen akhirnya “disingkirkan” oleh Marine Le Pen, setelah melalui rapat eksekutif partai.

Partai FN memang dikenal sebagai partai rasis. Beberapa tokoh nasionalis mitra Nazi diketahui turut bergabung dengan partai tersebut sejak tahun 1970-an. Kesuksesan perdana FN terjadi pada tahun 1984 saat partai tersebut memenangkan kursi dalam pemilu Eropa.

Kesuksesan terbesar FN adalah pada tahun 2002. Jean-Marie Le Pen menang telak atas kandidat dari Partai Sosialis. Sayangnya, Jacques Chirac mampu mengalahkan ayah Marine Le Pen ini di putaran kedua.

Sejak meminpin FN, Marine Le Pen terus menerus menyuarakan penentangan terhadap imigran dan anti-Uni Eropa. Demi menarik perhatian rakyat Perancis dalam pemilu 2017, Le Pen pun menggunakan slogan In the Name of People (Atas nama Rakyat). Tidak hanya itu, melalui kampanyenya Le Pen berjanji jika terpilih, Prancis akan mengikuti jejak Inggris melakukan Brexit, dan membuat aliansi baru melawan Uni Eropa.

Le Pen juga terang-terangan akan mengkuti jejak Donald Trump, tokoh yang termasuk dikaguminya, terkait kebijakan pelarangan imigran dari negara tertentu. Dia juga sepakat dengan Trump terkait cara-cara penanganan terorisme yang lebih represif. Prancis memang dikenal sebagai negara yang sering mendapatkan ancaman terorisme.

Bayangan-bayang sang ayah

Pada usia 48 tahun, Le Pen adalah seorang ibu yang telah mengalami dua kali perceraian. Dia pernah memohon untuk mendapatkan privasi bagi anak-anaknya, berusaha melindungi mereka dari sorotan media. Bagaimanapun, sebagai anak politisi kenamaan di Prancis, Le Pen kerap menjadi subyek pengawasan banyak media.

Sebuah ledakan bom di apartemen keluarganya di Paris, membuat Le Pen menyadari tentang ketenaran sang ayah sebagai politisi.

Bakat Le Pen berbicara di muka umum, membawanya mendalami ilmu hukum. Pada tahun 1998 dia pun berperan sebagai penasihat hukum bagi sang ayah. Setelah itu, karir Le Pen di politik mulai nampak, dia terpilih sebagai anggota dewan daerah (1998 – sekarang), anggota Parlemen Eropa (2004 – sekarang), dan anggota dewan kota di Hénin-Beaumont (2008-2011).

Pada tahun 2012, Le Pen berada di posisi ketiga pada pemilihan presiden dengan meraih 17.90% suara, di bawah François Hollande dan Nicolas Sarkozy. Kini Le Pen mencalonkan kembali dalam pemilihan presiden Prancis 2017.

Le Pen percaya bahwa hanya dengan politik ‘isolasionisme’ dan ‘nasionalisme ekonomi’ dapat melindungi Prancis dari dua kejahatan yang disebutnya sebagai ‘Anglo-Saxon multikulturalisme” dan liberalisme politik.

Le Pen mendukung Prancis kembali pada mata uang franc. Dia juga berjanji akan melakukan referendum rakyat  a la Brexit jika nanti  terpilih sebagai presiden. Selain itu, diamendukung penarikan Perancis dari NATO. Dalam sejumlah isu, posisi Le Pen memang seperti cermin dari presiden AS Donald Trump.

Untuk saat ini, meskipun Le Pen diperkirakan lembaga survei akan lolos ke putaran kedua Pemilu Prancis 2017. Tapi sama seperti pada Pemilu tahun 2002, terakhir kali partai Le Pen lolos ke babak kedua, dia akan menghadapi ‘front republikan’ yang tentu bakal mengumpulkan pendukung kandidat lawan dalam upaya menjauhkan partai FN dari kekuasaan.

Partai Front Nasional selama beberapa tahun terakhir, mencapai peringkat tinggi dalam jajak pendapat, tapi masih harus berjuang lebih keras lagi untuk memenangkan kekuasaan. FN hanya mengendalikan selusin kota di Prancis,  di tingkat regional FN juga masih jauh dari posisi teratas.

Tapi Le Pen percaya, setelah keputusan Brexit di Inggris dan kemenangan Donald Trump di Amerika Serikat, gelombang populisme mungkin akan cukup kuat untuk mendorong dirinya sampai ke pucuk pimpinan di Prancis. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here