Marketing Politik Jokowi di Asian Games

0
165

Nusantara.news, Jakarta – Aksi teatrikal Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Acara Pembukaan Asian Games 2018 pada hari Sabtu (19/8) lalu menjadi sorotan banyak orang. Sebuah video yang ditayangkan dalam acara pembukaan tersebut melibatkan Jokowi yang beraksi di atas motor gede (moge) dan menerobos lalu lintas ibukota yang macet menuju lokasi acara pembukaan tersebut.

Sontak kata “vroom” – menirukan suara knalpot moge – menjadi penghias beberapa media di luar negeri. Sang presiden bahkan disebut-sebut beraksi layaknya Tom Cruise dalam film Mission Impossible – sekalipun sebagian besar adegan dalam video bermotor itu dilakukan oleh stuntman atau akrobat pemeran pengganti yang kabarnya diimpor dari Thailand.

Tidak hanya itu, Presiden Jokowi juga tertangkap kamera sedang menikmati lantunan lagu berjudul “Meraih Bintang” yang dibawakan Via Vallen dengan goyangan seperti mendayung. Sontak saja, goyangan Jokowi ini disebut warganet dengan julukan ‘goyang dayung’. Saat menonton final bulutangkis beregu antara Indonesia versus Cina di Istora Senayan, Jokowi kembali mempertontonkan goyang dayung andalannya. Seakan tak mau ketinggalan, dalam beberapa pertandingan final dan momen pengalungan medali emas bagi atlet Indonesia, mantan Walikota Solo ini pun menyempatkan hadir dan jadi pusat perhatian.

Keikutsertaan Jokowi dalam beberapa ‘panggung’ Asian Games sebenarnya hal wajar dilakukan oleh pemimpin negara tuan rumah. Presiden sendiri memberi klarifikasi bahwa tindakannya di pembukaan Asian Games itu hanya untuk memberikan hiburan kepada masyarakat. Sedangkan kehadirannya di beberapa laga final, tak lain untuk memberi dukungan. Namun, mengingat Indonesia telah memasuki tahun politik, aksi semacam itu banyak dinilai sebagai pencitraan. Sebagai capres petahana yang akan bertanding di Pilpres 2019 nanti, juga lumrah jika Jokowi dituding ‘mencuri panggung’ Asian Games untuk iklan politik.

“Asian Games ini kan sudah masuk tahun politik, terlihat sekali Pak Jokowi menggunakan pembukaan Asian Games untuk menarik perhatian para pemilih menjelang pemilihan presiden tahun depan, memunculkan image bahwa beliau bermotor dan milenial,” kata Andre Rosiade, anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra.

Memang, Asian Games, utamanya saat pembukaan yang spektakuler itu, mau tidak mau atau suka tidak suka, menjadi panggung politik Jokowi. Secara politik, Jokowi lihai memperhitungkan momentum yang sedang jadi sorotan jutaan pasang mata untuk melancarkan marketing politiknya. Dari sana ia akan terus jadi perhatian, diperbincangkan, bahkan membekas di benak publik sehingga pada saatnya bisa mempengaruhi preferensi pemilih, khususnya para pemilih emosional.

Iklan politik atau marketing politik –tidak bisa dipungkiri– menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan kontestasi politik. Pembangunan citra paslon di era pemilihan langsung amat menentukan. Terlebih lagi sekarang ini media begitu masif terlibat dalam politik. Media massa lama maupun baru (new media) berpihak dan tidak netral. Meski keberpihakannya jelas dan nyata, media massa tetap dijadikan rujukan.

Maka, dalam konteks pembukaan Asian Games, aksi Jokowi mulai dari menggunakan moge dengan segala kemeriahan pembukaan gelaran hingga gimmick-gimmick politik lainnya tentu menjadi keberuntungan elektoral bagi sang presiden. Walaupun pihak-pihak yang terkait acara tersebut membantah ada intensi politis dari manuver sang presiden, tidak dapat dipungkiri, Jokowi “bertabur” hal positif di ajang olahraga se-Asia itu.

Di luar itu, aksi Jokowi ini bisa jadi “obat sakit hati” atas kekecewaan kelompok pro-mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan kaum milenial pasca terpilihnya tokoh sepuh Ma’ruf Amin sebagai cawapres Jokowi. Bagi pendukung Ahok, Ma’ruf Amin sulit diterima sebab dia dianggap ‘musuh’ yang turut mengantarkan Ahok dipenjara. Sementara bagi kelompok milenial dan kaum muda, Ma’ruf Amin yang sudah berumur senja dipandang bukan representatif sehingga membuat mereka tak beselera. Tentu saja, aksi Jokowi di pembukaan Asian Games itu seolah jadi titik balik untuk kembali merebut hati dua kelompok ini.

Sepertinya, Jokowi masih akan terus ‘mencuri’ panggung. Rangkaian kegiatan presiden yang padat di hari-hari berikutnya, sulit untuk tidak dipersepsikan publik (utamanya oleh oposisi) memiliki tujuan ganda: melaksanakan tugas kenegaraan dan kepentingan elektoral sebagai incumbent. Inilah keunggulan incumbent: punya anggaran negara dan panggung formal namun kepiawaian mengolah bisa menjadi ajang marketing politik. Ini sekaligus membuat lawan tak berkutik.

Menarik untuk melihat perlawanan yang akan dilakukan oleh kubu penantang, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tentu berat bagi mereka karena harus berpikir dan bekerja ganda: selain harus sering tampil di muka publik secara simpatik dan kreatif, mereka juga harus memberikan bobot poltical marketing yang tinggi untuk meningkatkan ke-dikenal-an, kesukaan, dan keterpilihan. Semoga yang terbaik untuk bangsa ini.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here