Marmer Tulungagung Mendunia Tapi Juga Mencekam

0
401

Nusantara.news, Tulungagung – Kita sering melihat betapa megahnya bangunan Masjid Istiqlal di Jakarta, yakni mampu menampung 200.000 orang. Bagian gedung utama Masjid Istiqlal memiliki panjang 100 meter dengan lebar juga 100 meter. Tingginya 60 meter.

Lantai utama yang disediakan untuk ruang shalat terletak di gedung utama dengan daya tampung 61.000 orang. Selain di lantai utama, bagian lain yang mampu menampung jamaah adalah bangunan pendahuluan yang mampu menampung 8 ribu orang, ruang teras terbuka di lantai dua mampu menampung 50 ribu orang, dan semua koridor mampu menampung 81 ribu orang.

Kubah Masjid Istiqlal ditopang 12 tiang berdiameter 2,6 meter dan tinggi 60 meter. Jumlah pilar ini merupakan simbol angka kelahiran Nabi Muhammad SAW yaitu 12 Rabiul Awal tahun Gajah atau 20 April 571 M. Pilarnya berlapis marmer.

Di belakang gedung utama terdapat gedung pendahuluan. Tingginya 52 meter. Panjang 33 meter dan lebar 27 meter. Bagian ini memiliki 5 tingkat dengan luas lantai 39.980 meter persegi yang 17.300 meter juga dilapisi marmer yang didatangkan dari Tulungagung, Jawa Timur.

Ya, kepopuleran Tulungagung sebagai penghasil marmer telah menjamah dunia. Berbagai hasil kerajinan marmer telah diekspor ke berbagai negara di dunia seperti Jepang, Amerika, Australia, dan lain-lain. Berkat kemajuan penambangan marmer inilah, tidak heran jika Kabupaten Tulungagung dijuluki Kabupaten Marmer. Karena selain memiliki tambang batu marmer terbesar juga penghasil kerajinan marmer di dunia.

Menurut beberapa sumber, penambangan Marmer di Tulungagung ini sebenarnya ditemukan oleh pemerintah Belanda pada tahun 1934 masehi. Kemudian setelah kemerdekaan penambangan Marmer dilanjutkan oleh sebuah perusahaan yang bernama Industri Marmer Indonesia Tulungagung (IMIT) dan PT Dwi Tunggal Marmer Indonesia.

Pengolahan marmer awalnya hanya dimonopoli oleh PT IMIT saja. Lalu beberapa warga memanfaatkan limbah dari pabrik tersebut yang berupa pecahan-pecahan batu Marmer menjadi sebuah produk berupa Traso (kepala tegel) untuk campuran semen. Namun usaha masyarakat ini hanya berskala rumahan.

Warga Desa Gamping trampil mengolah batu menjadi lebih bernilai.

Secara demografi, bagian selatan Kabupaten Tulungagung berbatasan langsung dengan Samudra Hindia. Di situlah terdapat wilayah pegunungan selatan. Gunung-gunung yang megah itu menjadi benteng kokoh Tulungagung. Dan, di balik kokohnya gunung-gunung Tulungagung menyimpan anugerah dan berkah bagi masyarakatnya. Di sanalah gunung-gunung berbalut marmer berdiri.

Mengapa potensi daerah ini sangat besar untuk menghasilkan marmer, karena menurut penelitian di daerah ini terdapat cadangan marmer yang sangat besar dengan kualitas yang baik untuk digunakan sebagai penghasil marmer dan bahan bangunan.

Setidaknya kurang dari 9500 orang menggantungkan hidup dari penambangan marmer ini. Di daerah tersebut kurang lebih terdapat 2500 unit usaha yang bergerak di bidang penambangan marmer.

Mereka bekerja untuk perusahaan-perusahaan penambang ataupun insiatif sendiri. Berbagai alat dikerahkan untuk melakukan penambangan mulai dari alat berat maupun alat sederhana yang sifatnya manual.

Otot menjadi kekuatan utama dalam menambang batuan marmer. Gumpahan-gumpahan batuan marmer siap untuk di tambang kapan saja. Dengan bermoda otot semua itu dapat dilakukan. Kemampuan fisik ini dilakukan bagi para penambang-penambang yang bermodal pas-pasan. Bagi para pengusaha yang memiliki dan perusahaan penambangan dilakukan dengan menggunakan alat-alat berat sehingga memudahkannya.

Setelah ditambang maka selanjutnya dilakukan proses pembuatan berbagai kerajinan. Mulai dari prasasti marmer, papan nama (berbagai macam ukuran), patung, relief, motif, souvenir, prasasti peresmian gedung, lantai, meja, kursi, asbak, gantungan kunci, dan lain-lain.

Memotong bongkahan batu marmer besar menjadi lempengan.

Menelisik Jejak Marmer

Marmer dikenal sebagai batu pualam. Kemudian metamorfosis batu gamping atau dolomit yang mengalami proses perubahan tekanan dan temperatur selama ratusan tahun. Batu marmer yang ada di Indonesia diperkirakan berusia antara 30 hingga 60 juta tahun.

Nah, batuan ini berbentuk kompak, padat, tanpa pelapisan, menunjukkan adanya proses rekristalisasi, dan banyak mengandung mineral kalsit. Adapun mineral tambahannya berupa kuarsa, talk, klorit, amphibol, pirit, piroksen, hematit, dan grafit.

Berbagai macam mineral tersebut saling berpadu dan memberikan corak warna yang beragam. Marmer kalsit berwarna putih jernih dan berkualitas tinggi. Kandungan grafit akan menimbulkan warna abu-abu, kandungan hematit akan menimbulkan warna pink dan merah, sedangkan berwarna kuning dan krem dilahirkan oleh kandungan limonit.

Berdasarkan kandungan mineral dan proses terjadinya, marmer dikelompokkan menjadi dua jenis. Pertama, marmer onix. Berasal dari kalsit kristalin yang terbentuk dari larutan air dingin. Pada umumnya, ditemukan di daerah gua-gua batu gamping. Kedua, marmer verde-antik, yakni serpentin masif yang dipotong oleh urat-urat kuarsa.

Daerah penambangan banyak ditemukan di kecamatan Campurdarat dan Kecamatan Besuki. Dua desa sentral marmer yang ada di Tulungagung adalah Desa Besole dan Desa Gamping. Kedua desa tersebut berjarak sekitar 25 km dari pusat kota Tulungagung.

Sentra kerajinan marmer di Desa Gamping, Kabupaten Tulungagung.

Desa Besole dan Desa Gamping merupakan daerah perbukitan kapur (gamping) dan tanahnya tandus. Awalnya, mata pencaharian penduduk desa sebagai petani. Namun jika musim paceklik tiba, mereka akan pergi ke kota untuk mengadu nasib karena tanah pertanian di desanya tidak lagi memberikan hasil.

Kondisi tersebut jelas menimbulkan keprihatinan bagi Pemda setempat. Akhirnya, pada tahun 1989, Pemda menyelenggarakan workshop untuk warga setempat. Tujuannya, memberikan pelatihan kepada warga desa agar memiliki keterampilan yang cukup, sehingga bisa digunakan untuk mengalihkan mata pencarian mereka, yang semula di sektor pertanian menuju sektor industri. Warga desa kemudian mencoba menekuni kerajinan marmer secara lebih serius lagi, yang sebenarnya sudah mereka warisi secara turun temurun sejak dahulu.

Atas keuletan warga dalam mengembangkan kerajinan marmer di desanya, hal ini membuahkan hasil. Kini, kedua desa tersebut telah memiliki sekitar 700 unit usaha batu marmer maupun onix, baik skala kecil maupun besar yang mampu menampung ribuan tenaga kerja.

Ratusan etalase yang memajang hasil kerajinan marmer juga terdapat di sana. Cara inilah yang menarik minat pengunjung, khususnya para wisatawan yang sedang menuju ke Pantai Popoh yang melewati jalur ini.

Setiap harinya, para perajin mengerjakan berbagai pesanan hiasan interior maupun aksesoris, dengan produksi hingga mencapai ribuan ton.

Menurut para pembeli, harga yang ditawarkan di show room asalnya jauh lebih murah bila dibandingkan di tempat lain. Para pembeli lokal biasanya datang dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang dari Blitar, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, maupun yang berasal dari luar Jawa.

Pada awalnya, kerajinan marmer ini hanya dipasarkan di etalase yang berada di sepanjang jalan Desa Gamping dan Desa Besole. Konsumen datang sendiri untuk membeli produk yang ditawarkan.

Namun, seiring dengan permintaan yang terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu, para perajin kemudian mendirikan show room di tempat lain, bahkan hingga ke kota-kota besar, semisal Surabaya, Yogyakarta, Jakarta, dan Denpasar.

Memang, tidak semua perajin membuka show room di tempat lain atau di luar daerah. Alasannya, mereka kewalahan melayani pesanan yang sudah melebihi kapasitas, sehingga mereka hanya memproduksi barang berdasarkan permintaan konsumen.

Mitra Usaha Stone adalah salah satu perusahaan kerajinan marmer yang terdapat di Tulungagung. Perusahaan yang beralamat di jalan Raya Popoh, Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat ini memproduksi beraneka produk kerajinan marmer, seperti sink marmer, wastafel batu kali, bak mandi, shower tray, outdoor lamp river stone, handycraft, dan aneka produk lainnya.

Selain membuat aneka kerajinan dengan bahan dasar marmer, perusahaan ini juga menjadi pabrik pengekspor dan pemasok batu alam asli Indonesia. Berbagai produk yang dihasilkannya bisa diaplikasikan untuk kamar mandi, dapur, ruang tamu, taman, maupun interior dan eksterior lainnya.

Dalam menjaga kualitas, Mitra Usaha Stone selalu menyediakan produk dengan kualitas ekspor terbaik. Bahkan, mereka menjanjikan harga yang kompetitif sekaligus memberikan pelayanan terbaik kepada setiap konsumen yang datang.

Hingga saat ini, usaha kerajinan marmer dan onix di Tulungagung terus berkembang pesat. Bahkan, mampu meningkatkan taraf ekonomi masyarakat setempat. Pendapatan bersih dari kerajinan marmer memang cukup menggiurkan.

Untuk pasar dalam negeri saja bisa mencapai Rp 10 juta per bulannya, sedangkan untuk pasar luar negeri hingga mencapai Rp 2,4 miliar. Negara yang menjadi tujuan utama ekspor marmer Tulungagung adalah Amerika Serikat, Australia, Korea, Jepang, Brunei, dan sejumlah negara Eropa.

Pasang Surut Industri Marmer

Kabupaten Tulungagung berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) arahan pengembangan Kabupaten Tulungagung yaitu terfokus pada pengembangan sektor sumber daya alam yang meliputi sektor pertanian, sektor perikanan, sektor peternakan, sektor pariwisata, dan sektor pertambangan marmer.

Berdasarkan RTRW Kabupaten Tulungagung dapat diketahui bahwa Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dilihat dari harga konstan yang tercatat untuk tahun 2008-2010 terjadi kenaikan sebesar 1,81%. Tahun 2008 sampai 2010 terjadi penurunan sebesar -3,29%. Tahun 2011-2012 terjadi kenaikan lagi sebesar 0,81% dan tahun 2013 terjadi lonjakkan kenaikan lagi sebesar 7,11%. Untuk sektor pertambangan dan penggalian naik rata-rata sebesar 2,64%.

Pemerintah daerah Kabupaten Tulungagung sebenarnya memiliki peran penting dalam menentukan sektor unggulan dan daya saing daerah Kabupaten Tulungagung. Pengembangan wilayah Kabupaten Tulungagung tidak terlepas dari pengembangan sektor unggulan yang dimiliki oleh Kabupaten Tulungagung.

Sebelumnya, Bupati Tulungagung, Jawa Timur Syahri Mulyo mengakui iklim investasi daerahnya sampai saat ini masih stagnan. Hal ini mengacu masih rendahnya minat investor nasional maupun asing untuk menanamkan modal di Tulungagung.

Justru tawaran penanaman modal yang paling banyak saat ini adalah untuk industri penambangan dan pengolahan batu marmer. “Satu-satunya sektor industri yang banyak melibatkan investor nasional dan mancanegara dan selama ini sudah berjalan adalah industri penambangan dan pengolahan batu marmer,” ujarnya.

Kondisi ini bisa dikatakan mencekam. Pasalnya, kedatangan investor diharapkan mendatangkan pendapatan asli daerah (PAD), namun kenyataan berkata lain. “Jika ingin mendatangkan PAD, kalau bisa dibebankan kepada orang yang kaya. Dengan begitu pembangunan akan kondusif,” terang Syahri.

Dinas perdagangan dan perindustrian Kabupaten Tulungagung mencatat pada tahun 2012 setidaknya ada satu sentra industri marmer berskala besar dengan kapasitas produksi 90.000 m2 pertahun serta ada 13 perusahaan marmer yang tercatat ditahun yang sama.

Pada tahun 2013 jumlah industri yang tercatat di Disperindak Kabupaten Tulungagung sebanyak 79 Perusahaan yang memiliki tenaga kerja berkisar antara 2-20 tenaga kerja per industri tergantung seberapa besar skala tersebut, industri yang tercatan merupakan industri dengan skala produksi kecil sampai besar yang terbesar memiliki 20 tenaga kerja.

Sayang, tidak ada data resmi terkait angka investasi tahunan yang dicatat oleh Pemkab Tulungagung melalui dinas industri dan perdagangan setempat.

Sebaliknya, data yang sempat terpublikasi pada 2013 hanya menyebut angka investasi daerah sekitar Rp8 triliun yang didominasi oleh sektor pertambangan batu marmer.

Hal ini ditunjukkan dengan aset industri marmer telah menembus pasar Internasional. Sehingga industri batu marmer dapat menjadi potensi yang baik untuk perekonomian Kabupaten Tulungagung karena industri marmer merupakan salah satu komoditi ekspor antar negara dengan omset per tahun mencapai Rp 850 juta rupiah.

Pembangunan di Kabupaten Tulungagung sebagian besar bersifat teori ketergantungan yaitu adanya pusat pembangunan yang mendorong daerah pinggirannya untuk lebih mandiri, yaitu pembangunan di pusat Kabupaten Tulungagung mendukung pembangunan di kecamatan lain, misalnya adanya industri marmer di Kecamatan Campurdarat menyebabkan adanya sumber usaha baru bagi masyarakat Kabupaten Tulungagung, serta adanya industri-industri pengolahan marmer di Kecamatan lain yang jaraknya berdekatan dengan Kecamatan Campurdarat, seperti Kecamatan Besuki, Kecamatan Pakel dan Kecamatan Bandung.

Sebenarnya masa kejayaan industri marmer ini memasuki puncaknya pada era 90 an. Saat itu masyarakat seakan bisa merasakan sumber alam secara menyeluruh. Sayangnya, krisis moneter serta guncang gancing politik nasional di tahun 1998 telah membuat industri marmer Tulungagung mulai lesu. Akibatnya, banyak pengrajin gulung tikar, namun ada pula yang masih bertahan hingga sekarang.

Dampak krisis moneter itu tidak hanya merugikan kalangan pengusaha tapi juga pengrajin marmer. Banyak di antara para pekerja yang harus kehilangan mata pencariannya. Sehingga masyarakat beralih profesi menjadi buruh migran. Baca: Tulungagung Pemasok TKI Terbesar se-Indonesia, Ini Kisahnya

Sekarang ini industri marmer di Tulungagung memang masih berjalan. Walaupun begitu para pengusaha tidak secara baku memakai batu marmer menjadi produk utamanya. Mereka mulai beralih dengan produk berbagai bebatuan yang ada di sekitarnya, seperti batu kali yang berukuran besar dibuat menjadi westafel, bak mandi maupun tempat cuci. Sementara yang berukuran kecil ditata menjadi keramik ataupun dinding.

Meski tidak seramai zaman keemasannya, namun industri marmer di Tulungagung masih mampu beradaptasi dengan segala kondisi.

Dian Nurarifin, pemilik Marmer Prima Alhajar, mengatakan sudah beberapa tahun belakangan, penjualan kerajinan marmer dan batu onix memang sepi. Penjual bak menanti hujan di musim kemarau. “Sudah sepi, dihajar pula kondisi politik Timur Tengah,” keluhnya.

Pengeleman batu onyx yang berlubang.

Ya, selain pasar lokal, produk-produk kerajinan marmer dan batu oniks yang lahir dari tangan perajin Campurdarat memang menyasar pasar ekspor. Contoh, Dian menjual produknya ke banyak negara, mulai dari Jerman, Uni Emirat, Korea Selatan, hingga Jepang. Produk kerajinan yang paling banyak dipesan pembeli asing adalah ubin dan perlengkapan kamar mandi, seperti wastafel dan tempat sabun.

Dulu, setiap mendapat permintaan dari Jepang, Dian yang telah merintis usaha kerajinan ini sejak 1990 bisa meraup omzet Rp 1,3 miliar. Tahun ini, selama Januari hingga Maret, total pesanan yang masuk hanya Rp 275 juta. Makanya, “Saya pesimistis omzet tahun ini mampu mengejar ketertinggalan omzet sepanjang tahun lalu,” ujar dia.

Tahun lalu, Dian hanya mengantongi penghasilan sebesar Rp 1,8 miliar. Angka ini turun Rp 600 juta atau 25% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 2,4 miliar.

Jauh sebelum itu, penjualan kerajinan marmer dan batu onix sudah terpukul oleh peristiwa bom Bali yang meledak tahun 2002 dan 2005. Sejak itu, Rahmad Supriyanto, pengusaha kerajinan marmer dan batu oniks lain di Campurdarat, menuturkan, pesanan yang datang ke tokonya langsung turun drastis hingga 60%. “Buyer saya dari Italia ikut kena bom Bali, tepat sehari setelah dia datang ke Tulungagung,” katanya.

Padahal, lanjut Rahmad, hampir semua pembelinya memborong marmer Tulungagung melalui kawan-kawannya yang tinggal di Bali. “Semacam tengkulaknya, nanti mereka jual lagi ke Italia, Jerman, atau negara lain,” ujarnya.

Akibat penjualan yang terus anjlok, banyak pengusaha yang menghentikan produksi atau bahkan gulung tikar. Salah satunya PT Dwi Tunggal Marmer Indah. Eksportir kerajinan marmer dan batu onyx terbesar di Tulungagung ini terpaksa merumahkan 200 karyawan gara-gara sepi order.

Padahal, di 2005, Dwi Tunggal menyumbang 57% dari total ekspor kerajinan marmer dan batu oniks Tulungagung. Mereka menjual produknya ke Australia, Korea Selatan, Jepang, dan Amerika Serikat. Selain pesanan menyusut drastis, diperkirakan Dwi Tunggal juga memiliki permodalan yang tidak kuat karena banyak ditopang utang, demikian data Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tulungagung.

Koleksi kerajinan marmer dan onyx yang sudah jadi.

Kehadiran industri tambang marmer ini memiliki dua sisi yang saling melengkapi, yakni manfaat dan dampak buruk yang diterima masyarakat lokal. Di sinilah dilema masyarakat lokal menghadapi industri pertambangan.

Salah satu efek negatif dari hadirnya industri pertambangan bagi masyarakat lokal, yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani adalah hilangnya akses mereka pada aset utama masyarakat agrarian, yaitu tanah. Kegiatan agraria yang berlangsung secara turun temurun telah tergusur untuk kepentingan industri pertambangan.

Di sini peran Pemerintah Kabupaten Tulungagung sangat penting dalam pemberdayaan industri marmer. Setidaknya pemerintah dapat menyusun kebijakan-kebijakan khusus guna menunjang kegiatan pemberdayaan tersebut. Selama ini Pemerintah Kabupaten Tulungagung hanya berpatokan pada kebijakan yang bersifat umum (untuk seluruh jenis industri). Sehingga kebijakan yang dibuat tidak sesuai dengan jenis industri yang ada karena setiap industri itu memiliki karakter dan permasalahan yang berbeda-beda. Tentunya hal itu perlu membutuhkan penanganan yang berbeda-beda pula.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here