Masa Depan Hubungan AS-Inggris

0
129
Sumber: The New York Times

Nusantara.news, Washington DC – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Inggris Theresa May telah bertemu Jumat (27/1) waktu setempat di Gedung Putih, untuk membicarakan hubungan antara AS dan Inggris. Trump menyambut hangat May sebagai kepala negara pertama yang bertemu dengannya sejak dilantik sebagai presiden AS beberapa waktu lalu.

Sejak era Winston Churchill, pertemuan pertama antara PM Inggris dan Presiden AS baru menjadi semacam kewajiban untuk meminta sebuah “hubungan khusus”. Namun bagaimanapun pertemua kali ini penuh dengan ketegangan terkait posisi Inggris yang memilih kelar dari UE (Brexit), dan posisi AS sekarang dengan mantra “America First”.

May datang di saat-saat penting bagi kedua belah negara. Para pemimpin dunia telah menyaksikan Trump pada minggu pertama sudah membuat ancaman ‘perang dagang’ tetangganya Meksiko dan mempromosikan “America First”. Jadwal Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto ke Washington pekan depan, kemungkinan batal.

Sama halnya dengan Inggris, negara yang saat ini tengah berada pada ketidak-pastian besar dalam persiapan untuk meninggalkan Uni Eropa (Brexit). May dan Trump sama-sama mendukung Brexit, dan sekarang May berharap kepada Trump untuk mengamankan perjanjian dagang bilateral Inggris-AS dan jaminan komitmen AS untuk NATO.

Pertemuan kedua belah pihak ini adalah awal yang menentukan bagi kerja sama keduanya di masa yang akan datang.

Kepala negara di seluruh dunia, menunggu dan memperhatikan pertemuan pertama kedua kepala negara. Bagaimana presiden baru AS yang dalam seminggu ini mengeluarkan kebijakan-kebijakan mengejutkan, berinteaksi dengan PM Inggris dalam pertemuan tersebut.

Kedua pemimpin memang memiliki gaya berbeda, satu mantan bintang reality show televisi yang sering bombastis, yang satu lagi seorang politisi yang tenang tanpa akun Twitter.

Saat ditanya tentang perbedaan gaya antar keduanya, di hadapan wartawan May mengatakan, “Kadang-kadang bertentangan itu menarik,” kata May sebagaimana dilansir NBC News.

Dalam pertemuan tersebut pemimpin Inggris ini memperingatkan Trump soal pendekatannya dengan Rusia yang terus dilakukan pasca-Trump terpilih sebagai presiden AS.

“Dengan Presiden Putin, saran saya adalah untuk ‘terlibat (berdialog) tapi hati-hati,’” kata May.

Namun dalam pertemuan tersebut May mencoba mengesampingkan terlebih dulu perbedaan pandangan antara kedua negara, termasuk soal Rusia. Ini dia lakukan agar hubungan diplomatis dalam rangka mengamankan komitmen perdagangan dan pertahanan bersama kedua negara dapat tercapai.

Dalam kesempatan itu, May juga menyampaikan undangan dari Ratu Elizabeth II untuk Trump tahun ini. Dalam perbedaan, kedua pemimpin negara tampak mesra, bahkan sempat sesaat berpegangan tangan ketika berjalan.

Trump mengaku bahwa AS punya hubungan istimewa dengan Kerajaan Inggris. Dia juga melontarkan kembali dukungannya agar negara tersebut segera meninggalkan Uni Eropa.

Di tengah hubungan tegang trans-Atlantik, Trump agaknya tengah mencoba untuk menyusun kembali hubungan baik kedua negara. Dia menyebut kepergian Inggris dari Uni Eropa adalah hal yang baik.

“Ketika sudah rampung, Inggris akan mempunyai identitas sendiri dan akan mempunyai orang-orang yang diinginkan di tanah air,” kata Trump sebagaimana dikutip AFP.

“Inggris akan bisa melakukan perdagangan bebas tanpa harus diawasi pihak tertentu dan itu yang kini dilakukannya,” kata Trump seolah menepis keraguan sejumlah pihak tentang kerja sama AS-Inggris yang sulit terlaksana.

May dan Trump tampak lega setelah pertemuan. Mereka berdua tampil dalam konferensi pers yang berlangsung 18 menit. Mereka menegaskan, akan menegosiasikan perjanjian perdagangan bilateral. Soal Rusia, Trump mengatakan belum mengetahui hubungan seperti apa dengan Mr Putin ke depan.

Sementara itu May dengan lega menyatakan, soal komitmen Trump yang telah menyatakan 100 persen dukungannya untuk NATO. Ini membuka peluang soal hubungan AS-Inggris ke depan yang optimis.

Perkembangan Brexit

Sementara itu, Pemerintah Inggris Kamis lalu menyampaikan RUU yang sudah ditunggu sejak lama, yang akan memuluskan keluarnya Inggris dari UE, dan memberi tenggat waktu yang sangat pendek bagi anggota parlemen untuk mempertimbangkan keputusan pemerintah.

Pejabat urusan Brexit, David Davis menyerukan parlemen supaya jangan menghalang-halangi kehendak rakyat – yang bulan Juni lalu telah memutuskan keluar dari Uni Eropa – ketika mempertimbangkan membahas RUU tersebut.

“Saya percaya parlemen yang mendukung referendum dengan suara enam banding satu, akan menghormati keputusan yang telah diambil rakyat Inggris dan meloloskan UU itu segera”, ujar Davis.

Namun partai-partai oposisi menilai waktu yang diberikan terlalu sempit untuk membahas topik yang begitu besar cakupannya. Mereka mengecam seruan itu, dan bertekad menentang amandemen RUU itu secara agresif, untuk memastikan bahwa beragam pandangan atas Brexit tetap bisa didengar.

Anggota-anggota parlemen mengkritisi pemimpin majelis rendah parlemen David Lidington ketika ia mengumumkan tenggat waktu pembahasan RUU. Mereka meneriakkan kata “memalukan” ketika Lidington mengatakan RUU itu harus sudah selesai dibahas dalam tiga hari. Para penentang RUU itu mengatakan pada masa sebelumnya mereka memiliki waktu yang lebih longgar untuk membahas RUU seperti itu. [berbagai sumber]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here