Masa Depan ISIS Setelah Tewasnya Al-Baghdadi

0
111
Pemimpin ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi

Nusantara.news – Kabar tewasnya pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar Al-Baghdadi  kembali menyeruak. Kali ini pihak yang mengkonfirmasi diklaim dari ISIS sendiri yang secara langsung mengumumkan tewasnya pemimpin mereka melalui stasiun televisi Irak al-Sumaria, Selasa (11/7). Al-Bahgdadi dinyatakan telah tewas di Provinsi Nineveh Irak. Meski demikian, masih banyak juga yang meragukan pernyataan itu.

Sebelumnya, Observatory for Human Rights (SOHR), sebuah badan independen yang selama ini memantau perang sipil di Suriah dan memiliki reputasi baik, juga mengonfirmasi tewasnya Al-Baghdadi. Lembaga yang berbasis di London Inggris itu menerima informasi yang dapat dipercaya dari seorang komandan lini pertama dan lini kedua ISIS, dari daerah pedesaan timur Deir Ezzor. Mereka memastikan, pimpinan mereka, Abu Bakr Al-Baghdadi telah meninggal. Deir Ezzor adalah sebuah wilayah di Suriah timur dekat dengan perbatasan Irak, dimana ISIS baru-baru ini dikepung.

Sumber-sumber itu mengindikasikan Al-Baghdadi tewas setelah dalam tiga bulan terakhir dia berada di desa tersebut. Namun tidak dijelaskan, berdasarkan informasi SOHR, kapan tepatnya Al-Baghdadi tewas.

Sebelumnya, atau tepatnya bulan lalu pemerintah Rusia mengklaim bahwa serangan udara di Suriah yang dilakukan oleh pasukan mereka, bergabung dengan pasukan pemerintah Suriah, telah menewaskan Al-Baghdadi, dedengkot ISIS yang licin dan sulit dicari itu.

Serangan terjadi pada tanggal 28 Mei di pinggiran kota Raqqa, yang disebut-sebut sebagai ibukota Khilafah ISIS. Serangan pada saat itu menargetkan sebuah pertemuan para komandan militer ISIS. Al-Baghdadi, kata Rusia, termasuk ada di antaranya.

Namun demikian, Amerika Serkat dan sejumlah analis skeptis dengan informasi kematian Al-Baghdadi itu. AS memastikan bahwa Rusia memang melakukan penyerangan di wilayah tersebut pada tanggal tersebut, tapi mengenai nasib Al-Baghdadi, menurut juru bicara Pentagon, “Kami tidak memiliki informasi yang kuat mengenai laporan tersebut.”

Situasi di seputar dugaan kematiannya, berdasarkan informasi Rusia, juga patut dipertanyakan. Karena menurut para ahli, tidak mungkin begitu banyak pemimpin tingkat tinggi ISIS bertemu dalam satu tempat di zona yang secara militer sedang panas itu. Al-Baghdadi sebelumnya berkali-kali telah dikabarkan tewas, tapi ternyata belum.

Keyakinan AS itu kemudian diperkuat oleh pernyataan pejabat senior di Kementerian Dalam Negeri Irak yang menyatakan, pemimpin tertinggi ISIS itu masih hidup di Suriah. Pernyataan ini sekaligus membatah sejumlah laporan yang tersebar luas tentang kematian Al-Baghdadi.

Abu Ali Al-Basri, kepala intelijen kementerian dan kontraterorisme Irak mengatakan, Al-Baghdadi masih hidup di Suriah, namun berada di luar kota Raqqa, ibu kota ISIS di sana.

Cell Soqour (intelijen Irak) menyangkal berita tentang kematiannya, dan baru saja beredar informasi tidak benar,” kata Al-Basri kepada harian milik negara Al-Sabah, Sabtu (16/7).

Terlepas dari benar atau tidaknya tentang kematian Al-Baghdadi. Pada kenyataannya wilayah kekuasaan ISIS di Mosul (Irak) dan Raqqa (Suriah) sudah semakin melemah. Bahkan pemerintah sudah Irak mendeklarasikan, pihaknya telah berhasil merebut kembali kota Mosul dari tangan ISIS pada 9 Juli lalu.

Namun demikian, menurut sejumlah analisis, kematian Al-Baghdadi tidak akan banyak berpengaruh dalam pertempuran melawan ISIS. Sebab, hanya sedikit saja yang diketahui tentang komandan “hantu” itu, kecuali seorang pria Irak yang merupakan anggota kelompok Al-Qaeda yang mengumumkan berdirinya ISIS pada 2014 dari mimbar Masjid Agung al-Nuri di Mosul.

Buktinya, sejak November tahun lalu, ketika ditengarai Al-Baghdadi mengeluarkan rekaman audio, namanya sudah tak terdengar lagi. Selepas itu, pasukan AS berhasil mengalahkan banyak agen utama ISIS. Hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang peran strategis yang dimiliki Al-Baghdadi dalam pertempuran-pertempuran di Mosul dan Raqqa jika dia masih hidup.

Hidup atau tidaknya Al-Baghdadi juga ternyata tidak membuat ideologi ISIS makin surut, tapi malah semakin berkembang. Bahkan, saat ISIS mengalami kekalahan secara teritorial di Irak dan Suriah, ideologi mereka terus mengilhamu para penganutnya, dan telah melancarkan serangan ke seluruh dunia dalam beberapa bulan terakhir dari mulai Inggris, Prancis, Filipina hingga Indonesia.

Al-Baghdadi mungkin sudah tewas, atau dia mungkin saja masih hidup, bagaimanapun para penerusnya sudah menunggu.

Kekalahan ISIS di dua ibu kota mereka Mosul di Irak dan Raqqa di Suriah bukan berarti merupakan kekelahan total bagi ISIS, dan tidak berarti perang terhadap ISIS teah selesai. ISIS telah mempersiapkan para pengikut dan simpatisannya berbulan-bulan lamanya, mereka saat ini sedang sibuk menyiapkan perebutan wilayah baru di Asia Selatan atau wilayah lainnya. Penguasaan kota Marawi Filipina oleh kelompok Isnilon Hapilon, cabang ISIS di Asia tenggara, selama berminggu-minggu, menunjukkan gerakan mereka benar-benar nyata.

Pada saat ISIS di Irak dan Suriah mengalama masa-masa sulit, mereka akan membiarkan ratusan “pejuang asing” kembali ke negaranya masing-masing, membawa ideologi mereka ke negara asalnya atau ke wilayah-wilayah ISIS lainnya di Asia Selatan atau Afrika Utara.

Pada titik ini, ISIS mungkin akan menggunakan sistem “Khilafah Virtual” mereka beroperasi dengan komando online lewat sejumlah media memanfaatkan internet. Sementara itu, ISIS akan kehilangan para pemimpin seniornya, termasuk Abu Bakar Al-Baghdadi, jika memang dia terbunuh. Tapi bukankah tidak ada pemimpin teroris yang tak tergantikan? Mungkin untuk sementara ini ribuan pejuang akan kehilangan prestise dan pergerakan ISIS bakal mengalami penurunan, tapi mesin rekrutmen mereka akan terus berajalan.

Apakah Khilafah Virtual bisa dicegah, dan bagaimana membatasi penyebaran sel-sel ISIS ke sejumlah negara di dunia?

Pendapat Ahmet S. Yayla, Ph.D., profesor kriminologi, hukum, dan masyarakat di Universitas George Mason Turki, dan pernah menjabat kepala departemen kontraterorisme dan operasi Kepolisian Nasional Turki di Sanliurfa tahun 2010-2013, yang menyebutkan setidaknya tiga strategi, mungkin bisa dipertimbangkan:

Pertama, menekan sumber ideologi kebencian (Wahhabisme). Memberi pemerintah Saudi lebih banyak insentif untuk memutus pendanaan terhadap kelompok Salafisme. Mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton pernah menulis dalam sebuah email yang dibocorkan WikiLeaks dua tahun lalu, “Arab Saudi dan Qatar telah mendanai ISIS.” Clinton tidak pernah menyangkal tentang ini.

Kedua, polisi negara-negara di Eropa (atau di negara lain) yang banyak berkontribusi mengirim jihadis ke ISIS di Suriah, harus  giat melacak, memantau dan mengisolasi warganya yang diduga terlibat dan telah kembali  Timur Tengah. Orang-orang ini cenderung menjadi perekrut ISIS. Pantau terus dan tunggu momen pertemuan para jihadis tersebut. Organisasi-organisasi mereka juga harus diawasi secara ketat.

Ketiga, rantai rekrutmen harus diputus dari tingkat yang paling dasar dengan mencegah rekrutmen secara tatap muka. Menurut pengalaman, ditemukan bahwa sebagian besar perekrutan terjadi secara tatap muka, bahkan mungkin telah dimulai lewat dunia maya.

Tiga saran di atas mungkin dapat dipertimbangkan, termasuk untuk diterapkan di Indonesia. Sebab, Indonesia termasuk negara yang tidak sedikit “mengirim” para jihadis ke Suriah. Selain itu, dalam sejumlah kasus, ada benarnya bahwa rekrutmen kader teroris masih kerap terjadi kendatipun sang ideolog berada di dalam penjara, konon mereka didoktrin saat melakukan kunjungan ke penjara. Dalam waktu singkat, sang ideolog bisa meyakinkan mereka untuk melakukan tindakan teror atau istilahnya untuk menjadi “pengantin”.

Harus ada penanganan secara holistik dari Pemerintah agar ideologi terorisme ISIS tidak mudah menyebar, misalnya dengan tidak lagi membiarkan para ideolog di dalam penjara bertatap muka dengan pihak-pihak dari luar, seperti yang masih terjadi selama ini. Program deradikalisasi juga harus dijalankan secara sungguh-sungguh, sebab dalam sejumlah kasus, pelaku teror adalah orang-orang lama yang sebelumnya juga pernah terlibat dalam perilaku yang sama, artinya mereka tidak benar-benar “sembuh” setelah mengikuti program deradikalisasi baik di dalam penjara maupun di tempat lain.

Dengan kemungkinan runtuhnya Mosul dan Raqqa sebagai basis ISIS, tentu saja tantangan ke depan akan lebih berat, sebab medan-medan “perjuangan” anggota ISIS menyebar ke sejumlah negara, bukan tidak mungkin, Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia, menjadi salah satu targetnya.

Hal yang tidak kalah penting, salah strategi untuk mencegah terorisme, terutama di negara mayoritas berpenduduk Muslim, pemerintah harus menjamin stabilitas Negara, menetralisasi konflik yang bersifat sektarian, menghentikan “penindasan” terhadap rakyat kecil, serta menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Seperti di Irak, tanpa stabilitas, kaum Salafis akan selalu merekrut teroris yang tengah mencari jalan keluar dari kesengsaraan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here