Masa Jabatan Dihapus, Xi Presiden China Seumur Hidup ?

0
299
Xi Jin Ping tampak bertepuk tangan saat Kongres Rakyat Nasional menghapuskan jabatan masa presiden dalam konstitusi yang dibuat sejak 1982 dan diberlakukan sejak 1993

Nusantara.news, Beijing – Di antara 2.964 pemberi suara dalam Kongres Rakyat Nasional China, Minggu Kliwon (11/3) kemarin, hanya 2 suara menolak dan 3 abstain tentang penghapusan masa jabatan Presiden China yang sebelumnya ditetapkan 10 tahun. Artinya, Presiden China X Jinping bisa menjadi Presiden China seumur hidup.

Perubahan konstitusi itu disahkan dalam Kongres Nasional Rakyat China (PKC). Padahal sejak dekade 1990-an China sudah menerapkan periodesasi masa jabatan Presiden selama 5 tahun dan dipilih kembali pada 5 tahun berikutnya dengan didampingi seorang calon penerusnya. Presiden Xi yang jabatannya akan berakhir pada 2023 – menantang tradisi untuk menghadirkan “calon putra mahkota” pada Kongres Partai Komunis bulan Oktober nanti.

Sebagai gantinya Xi Jinping justru membangun kekuatan di tubuh partainya dengan cara : (1) mengabadikan namanya sebagai ideolog, dan (2) merevisi ideologi politik dalam konstitusi partai – sekan-akan menyejajarkan diri dengan pendiri PKC Ketua Mao Zedong.

Di atas kertas – Kongres Rakyat Nasional merupakan badan legislatif yang paling berkuasa di China – serupa dengan parlemen di negara lainnya. Namun – seperti halnya di negara-negara totaliter lainnya – kongres hanya berfungsi mengesahkan apa yang diperintahkan kepadanya.

Kekuatan Penuh

Bedasarkan pengamatan Stephen McDonell – koresponden BBC di Beijing – sekarang ini sulit untuk melihat Xi Jinping ditantang dengan cara apa pun. Padahal, lima tahun lalu – sebelum Xi Jinping berkuasa – China dipimpin oleh pemerintahan kolektif. Terdiri dari mantan Presiden Hu Jintao dan ke-9 anggota tetap polit biro di China. Sehingga tugas presiden adalah membuat “harmonisasi” alias menyenangkan faksi-faksi di tubuh PKC.

Namun ketentuan pembatasan masa jabatan presiden yang baru dimulai pada era 1990-an – kala itu yang diangkat Presiden Jiang Zemin (27 Maret 1993 – 23 Maret 2003) – diteruskan oleh Hu Jintao (23 Maret 2003 – 13 Maret 2013) dan terakhir kali Xi Jinping yang masa jabatannya akan berakhir pada Maret 2023 nanti) – kini akan diubah kembali ke era sebelumnya. Jabatan Presiden – dalam bahasa China “Zhuxi” atau Ketua – tidak dibatasi masa jabatan seperti era Mao Zedong dan penerusnya Deng Xiaoping yang meletakkan dasar “kapitalisme negara” di China.

Konstitusi telah diubah untuk memungkinkan Xi Jinping tetap menjadi Presiden tanpa adanya syarat pembatasan masa jabatan. Padahal sebelumnya, saat Jiang Zemin menjadi Presiden China, lima tahun menjelang jabatannya berakhir sudah menyiapkan calon penggantinya dengan mengangkat Hu Jintao sebagai Wakil Presiden, begitu juga dengan Jintao yang mengangkat Xi Jinping sebagai Wakil Presiden.

Tampaknya pula tak ada riak-riak yang berarti dan semua – kecuali 2 suara menentang dan 3 abstein – mendukung kepemimpinan Xi Jinping yang dikenal tegas membasmi korupsi. Secara diam-diam pula – Xi Jinping yang pernah disebut-sebut sebagai presiden yang tinggal di gua – membangun kekuatan yang telah mengubah cara negaranya diatur – dan dirinya berada dalam inti kekuasaan pengaturan itu.

Sensor Media Sosial

Pertanyaannya, kenapa China dengan penduduk 1,5 miliar lebih itu bisa mengubah konstitusi yang dalam pemikiran Barat sangat fundamental bagi hak-hak warga negaranya itu tanpa gejolak. Padahal penduduk China – seperti halnya penduduk dunia lainnya – sudah sangat melek teknologi informasi yang memungkinkan standar demokrasi barat menyebar luas di kalangan generasi milenial China.

Tampaknya perubahan konstitusi itu sudah disiapkan secara matang. Pemerintah melakukan sensor secara online – antara lain dengan cara memblokir diskusi seputar topik itu di media sosial – termasuk memblokir meme Winnie the Pooh – tokoh kartun Teletubbies – yang mewakili karakter Xi Jinping.

Sebelum penghapusan masa jabatan Presiden seorang kritikus- dalam surat terbuka – getol  menyuarakan, usulan penghapusan itu sebagai lelucon dalam sebuah pertentangan yang jarang terjdi di muka publik. Bahkan seorang mantan redaktur surat kabar Li Datong menulis, penghapusan batas waktu jabatan Presiden dan Wakil Presiden akan menabur benih kekacauan – dalam sebuah pesan yang dikirim ke sejumlah anggota Kongres Nasional.

“Saya tidak bisa menahannya lagi, saya berdiskusi dengan teman-teman saya dan kami sangat marah, kami harus menyuarakan sikap oposisi kami,” ujarnya kepada BBC perwakilan China.

Namun media- media di China yang dikendalikan penuh oleh pemerintah justru menggambarkan yang sebaliknya. Peubahan konstitusi itu sebagai langkah reformasi yang sangat dibutuhkan.

Perubahan konstitusi China itu juga didukung oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang kemudian menuai kritikan pedas di dalam negerinya. Dalam sebuah acara, Trump berkomentar tentang usulan perubahan konsttusi di China itu. “Saya pikir itu bagus, mungkin kita harus mencobanya (suatu hari nanti,” komentar Trump.

Namun pernyataan itu selanjutnya disanggah oleh Trump pada Sabtu Wage (10/3) kemarin lusa. Trump menegaskan dirinya sedang bercanda saat melakukan penggalangan dana – dan komentar dalam candaannya itu dikutip secara tidak adil oleh sejumlah media.

Periode Ketiga

Meskipun mungkin tidak seumur hidup, Xi Jinping akan tetap memimpin China pada periode ketiga jabatannya yang dimulai pada Maret 2023 nanti. Kemungkinan untuk periode ketiga jabatannya akan disetujui oleh Kongres Rakyat Nasional.

Ada hal-hal yang perlu diperhatikan tentang masa depan China itu sendiri. Hal itu bisa dilihat berdasarkan komposisi orang-orang yang ditunjuk polit biro untuk pemerintahan Xi dalam lima tahun nanti, selanjutnya ratifikasi Undang-Undang untuk membentuk semacam Komisi Pemberantasan Korupsi di China, dan mengesahkan masuknya filsafat politik Presiden “Pemikiran Xi Jinping” dalam konstitusi.

“Pemikiran Xi Jinping” adalah ideologi yang sudah disetujui dalam Kongres PKC Oktober lalu. Ideologi itu berbicara tentang pemikiran Xi Jinping tentang Pemikiran Sosialisme dengan Karakteristik Tiongkok untuk Era Baru.”

Anak-anak sekolah, mahasiswa dan staf di pabrik milik negara diwajibkan mempelajari ideologi politik yang disebut oleh PKC sebagai babak baru bagi China modern. Xi Jinping yang diangkat secara resmi menjadi Presiden China pada 14 Maret 2013 diharapkan menjadi tokoh pemersatu China sekaliber Ketua Mao Zedong dalam babak baru China modern.

Selama 5 tahun menjabat Presiden, Xi dikenal tegas memerangi korupsi – menghukum lebih dari satu juta anggota partai – yang beberapa di antaranya membantu popularitas Xi Jinping meroket hingga seperti sekarang.

Namun biar bagaimana – sebagaimana halnya negara tertutup lainnya – China telah banyak memberangus kebebasan yang muncul, meningkatkan program pengawasan dan penyensoran oleh negara. Pengamat China juga mengungkap, Xi telah menggunakan pembersihan korupsi sebagai bagian dari menyingkirkan calon-calon pesaing politiknya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here