Masa Transisi Cantrang, Masa Nelayan Kecil Paceklik Ikan?

0
192

Nusantara.news, Lamongan – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bertahan melarang alat tangkap ikan trawl dan turunannya, termasuk cantrang dan payang, digunakan di seluruh wilayah perairan Indonesia. Larangan yang juga berlaku bagi nelayan tradisional.

Masa transisi 6 bulan sejak larangan diberlakukan per 1 Januari 2017, jadi kesempatan nelayan bermodal kecil untuk memutuskan pilihan, mengganti alat tangkap atau mengakhiri profesi yang sudah digeluti turun temurun? Dampaknya diprediksi akan sangat dirasakan Jawa Timur sebagai kawasan yang memiliki jumlah nelayan terbesar di Indonesia (data 2013 lebih dari 334 ribu jiwa) dari total 2,17 juta.

Kekhawatiran itu diungkap ketua Rukun Nelayan (RN) Blimbing Kabupaten Lamongan Nur Wakhit kepada Nusantara.News. Dia mengungkap punya anggota sekitar 2.500 nelayan. “Itu hanya RN Blimbing. Padahal di pelabuhan Brondong ada beberapa kelompok RN mewakili desa atau kelurahan. Sedangkan RN Blimbing sendiri ada sekitar 1.300 nelayan yang bertumpu pada kapal nelayan mesin (KMN) 5-10 GT,” bebernya, Kamis (26/1/2017).

Kelompok KMN ukuran 5-10 GT (gross Tonage) memang jadi perhatian karena jumlahnya mendominasi anggota RN Blimbing. Data itu diperkuat dokumen Badan Pusat Statistik (BPS) setempat bahwa di seluruh Kecamatan Paciran total ada 14.284 jiwa yang berprofesi nelayan dan bertumpu pada operasional pelabuhan Brondong.

Jika selama 6 bulan ke depan tidak melaut, berapa mulut yang terancam kelaparan? Di satu sisi, keahlian melaut merupakan satu-satunya yang dimiliki sejak lahir. Terutama bagi kepala keluarga yang kesehariannya mengandalkan hasil dari laut. “Sekitar 85 persen nelayan kita melaut dengan alat tangkap cantrang. Ini yang membuat banyak anggota nggak berani melaut. Adapun yang terpaksa karena kebutuhan ekonomi, tetap melaut meski tanpa surat (SIPI, red),” terang Wakhit.

Wakhit juga menerangkan jika selain jenis cantrang, nelayan pemilik KMN 5-7 GT juga memakai payang, turunan trawl yang sudah dimodifikasi. Anggota RN Blimbing sendiri yang memiliki KMN 5-10 GT ada sekitar 240 armada. “Sebenarnya untuk urusan SIPI tidak begitu bermasalah. Saat ini hanya Permen 71/Permen-KP/2016 yang memuat larangan cantrang jadi perhatian kami,” tutupnya.

Tidak Semua Nelayan Terlayani API Gratis

Dalam Peraturan Menteri (Permen) Nomor 71/Permen-KP/2016 tentang Jalur Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia, dalam pasal 21 disebutkan ada beberapa jenis alat penangkapan ikan (API) yang terlarang dioperasikan baik nelayan tradisional maupun nelayan besar. Pertimbangan utama adalah untuk menjaga kelangsungan dan kepunahan habitat ikan.

Namun keputusan itu jadi polemik di kalangan nelayan karena tidak diikuti dengan penggantian secara menyeluruh. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) langkah awal hanya memberi bantuan cuma-cuma paket 1.436 untuk KMN di bawah 10GT pengguna cantrang di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Porsi terbesar paket bantuan didapat Jawa Timur dengan 557 unit.

Jumlah itu sesungguhnya tidak mencerminkan angka kapal eks cantrang di tiga provinsi. Berdasarkan hasil verifikasi KKP Oktober 2016, jumlah kapal eks cantrang di tiga provinsi 4.949 unit, terdiri atas kapal di bawah 10 GT 2.371 unit dan kapal 10-30 GT 2.578 unit. Di Lamongan sendiri, hanya mendapat jatah 84 paket.

Karena sedikitnya bantuan yang diturunkan, kekhawatiran lain muncul. Yakni siapa yang berhak memverifikasi nelayan penerima. Persoalan ini bahkan sudah diprediksi Menteri Susi Pudjiastuti beberapa waktu lalu. Padahal rata-rata pemilik KMN di bawah 10 GT, tidak memiliki modal besar. Sebagian malah merupakan hasil patungan.

Mereka tentu bakal kesulitan jika ingin terus melaut harus membeli API pengganti yang kisarannya mencapai Rp450 juta per unit. “Padahal untuk ukuran 10 GT, paling tidak kita butuh 3 unit sekali melaut,” terang sumber Nusantara.News. Karena potensi polemik itu, pemerintah harus segera mencari solusi agar masa transisi hingga Juni mendatang, nasib ribuan nelayan tradisional bisa kembali melaut dengan tenang. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here