Masalah Internal PTS, Pengaruhi Kualitas Pendidikan

0
97

Nusantara.news, Kota Malang – Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) dan Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) akan melakukan peningkatan dan perbaikan kualitas pendidikan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Hal ini dilakukan dalam rangka menghadapi era MEA yang dituangkan dalam berbagai kebijakan, sehingga membuat persaingan pendidikan di tingkat global. PTS harus menggenjot kualitas pendidikan agar bisa bersaing dengan perguruan tinggi lain, baik kancah nasional, ASEAN maupun internasional.

Sementara hal tersebut menjadi pekerjaan rumah, di lain sisi masih banyak beberapa konflik internal di beberapa PTS Malang. Konflik internal ini dianggap Aptisi menghambat langkah untuk menggenjot mutu pendidikan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Nusantara.news ada beberapa masalah yang terjadi di PTS,  di antaranya yakni dualisme kepemimpinan, rasio dosen dan mahasiswa tidak seimbang, kurangnya jam tatap muka karena keterbatasan ruang kelas, dan lainnya.

Ketua Aptisi Jatim, Prof. Dr. Suko Wiyono, S.H., M.Hum. mengungkapkan beberapa PTS yang bermasalah masih dalam tahap pembinaan, “Mereka kami beri kesempatan untuk berbenah. Nanti setiap 6 bulan sekali kami evaluasi,” ujar Rektor Universitas Wisnu Wardhana Malang tersebut.

Ketika ditanya PTS mana saja yang diberi pembinaan, Suko menolak menyebutkannya. “Tidak etis jika saya sebut nama dan permasalahannya,” katanya.

Prof Suko menambahkan, bahwa beberapa PTS yang bermasalah masih dalam pantauan Aptisi dan Kopertis karena permasalahan pada rasio dosen dan mahasiswa. “Permasalahan umum PTS itu rata-rata karena rasio dosen dan mahasiswa yang tidak ideal, bahkan ada yang 1 banding 200. Rasio idealnya 1:30 maksimal 1:45. Kami pantau, jika tak ada usaha peningkatkan dosen, pasti ada sanksi,” imbuhnya

Karena mau berbenah, akhirnya ada penambahan dosen. Ada banyak solusi, salah satunya 332 PTS di Jatim harus berpromosi ke luar propinsi, utamanya Indonesia Timur sebagaimana arah pembangunan pemerintah saat ini. ”Mereka butuh mencetak SDM, nah, PTS harus jemput bola ke sana. Bisa bekerjasama dengan Pemda setempat, program beasiswa, atau stimulus apapun, agar mereka memiliki semangat dan tertarik kuliah di Jatim,” papar Prof Suko.

Sementara itu, Aktivis Komite Pendidikan Universitas Brawijaya, Abdurahman Narwastu, menganggap konflik internal di instansi pendidikan yang berkepanjangan akan merugikan mahasiswa dan masyarakat. “Sebab apabila instansi pendidikan mengalami konflik, akan mempengaruhi kualitas pengajaran dan pendidikan. Akibatnya kualitas lulusan yang dihasilkan juga akan kurang matang,” ungkap Narwastu kepada Nusantara.news Kamis, (23/3)

“Apabila lulusan kurang matang, maka tingkat kebodohan semakin tinggi, pengangguran semakin tinggi pula. Kemiskinan dan kesenjangan membuntuti di belakangnya,” tandasnya

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here