Masalah Kelembagaan Menjadi Kendala Serius Penyaluran KUR

0
297
Direktur Budidaya dan Pascapanen Buah Kementerian Pertanian (Kementan) Sri Kuntarsih

Nusantara.news, Surabaya – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada tahun 2016 masih didominasi sektor Perdagangan. Tahun 2017, penyaluran KUR ditargetkan bisa naik dua kali lipat mencapai 40% dari total penyaluran KUR atau senilai Rp44 T dan menyentuh sektor produksi seperti pertanian, perikanan, dan industri pengolahan.

Hal ini dikemukakan Direktur Budidaya dan Pascapanen Buah pada Kementerian Pertanian (Kementan) Sri Kuntarsih, dalam percakapan dengan Nusantara.news di Surabaya, Selasa (23/5/2017).

Menurut Sri Kuntarsih, pada rapat terbatas tentang kebijakan pemerataan ekonomi, tanggal 7 Februari 2017, Presiden Joko Widodo memberikan arahan agar dilakukan penyempurnaan sistem KUR, agar dapat memberikan akses permodalan yang luas bagi sektor mikro, kecil, dan menengah. Presiden Jokowi minta dibuatkan KUR dengan skema-skema khusus, karena KUR yang ada saat ini masih bersifat umum.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, menurut Sri Kuntarsih juga memberikan arahan tentang kebijakan 2017, yakni mendukung kebijakan ketahanan pangan dan hilirisasi industri pada sektor produksi.

KUR di Jatim

Penyaluran KUR di Provinsi Jawa Timur sepanjang 2016 mencapai Rp12,7 triliun atau sebesar 14,46% dari total KUR Nasional. Nilai tersebut 14,46% dari penyaluran kredit industri primer dengan suku bunga 7% sampai 9%.

Sri Kuntarsih, menyatakan bahwa KUR saat ini masih sulit tersalurkan ke petani-petani kecil mengingat lemahnya kelembagaan dari kelompok kerja petani. Lemahnya kelembagaan itu, kata Sri Kuntarsih, membuat pihak penyalur kredit tidak berani mengucurkan dana segar untuk penambahan modal untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Solusinya, Kementan memberikan jalan keluar agar para petani bisa mengembangkan pertaniannya. Bentuknya adalah pemberian modal kepada para petani,  yang sudah dilakukan sejak 2008 lalu.

Meski nilainya tidak besar, namun sedikit-demi sedikit bisa membantu petani dalam akses permodalan untuk meningkatkan usahanya.

“Dari data yang ada di Kementan, sampai saat itu total sudah ada 6 ribu gabungan kelompom tani (Gapoktan) yang sudah mendapat bantuan dari pemerintah,” kata Sri.

Dana perbankan sebenarnya bisa lebih besar. “Tetapi agak sulit perbankan berinteraksi dengan petani karena petani kecil banyak yang belum mengorganisir diri dalam Gapoktan,” katanya.

Sementara petani yang sudah menjadi anggota Gapoktan, tidak bisa sembarang menerima dana, karena harus sesuai dengan ketentuan yang sudah diatur oleh Gapoktan.

“Pemberian modal kepada mereka harus melalui Ketua Gapoktan, termasuk sudah harus direncanakan marketnya,” jelasnya.

Mengapa terjadi seperti itu? Menurut Sri, karena selama ini, yang tahu kondisi real petani kecil adalah Ketua Gapoktannya.

Contohnya di Sukoharjo, dari pengalaman beberapa Gapoktan yang selama ini dipantau, penerima dana bantuan dari Kementan, harus disiasati terlebih dahulu oleh Ketua Gapoktan agar tidak menabrak aturan yang sudah ada.

“Konsekuensinya, dana bantuan kepada para petani hanya bisa dikucurkan saat-saat tertentu saja, terutama saat pembibitan, tebar benih, dan pemupukan. Dalam, hal ini juga ada kendala. Soal pupuk misalnya, sudah ditentukan mereknya oleh Gapoktan. Begitu juga dengan petisida yang digunakan. Kami harus mengikuti, karena yang paham dengan karakter para petani adalah Ketua Gapoktannya. Hal ini yang melatarbelakangi kenapa petani kecil sulit mendapatkan KUR,” ungkapnya.

Kondisinya sangat berbeda dengan petani besar seperti perkebunan yang sama sekali tidak mengalami kesulitan berinteraksi dengan perbankan.

Mantan Bupati Kabupaten Jombang Suyanto, sependapat bahwa kendala pengucuran KUR adalah masalah kelembagaan.  “Itu yang menjadi kendala serius. Tetapi seharusnya perbankan melakukan improvisasi dalam penyaluran KUR,” katanya.

Sesuai temuan di lapangan, Suyanto mengatakan, dalam menyalurkan KUR, perbankan menggunakan pendekatan cover by area bukan cover by addres.

“Seharusnya perbankan berimprovissai, agar penyaluran KUR tidak terbatas hanya pada petani yang sudah mapan dan sudah kuat,” cetusnya,” katanya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here