Masih Ada Regenerasi Cita-Cita Habibie

1
154
Pesawat N219 yang diterbangkan Captain Esther Gayatri Saleh melakukan Uji Terbang Perdana di Landasan Pacu Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/8). ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra/aww/17.

Nusantara.news, Jakarta – Presiden ke-3 Republik Indonesia Burhanuddin Jusuf (BJ) Habibie sempat berjuang agar Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) tidak dibubarkan oleh International Monetary Fund (IMF). Tapi belakangan dia kecewa karena IPTN yang kini berganti nama menjadi PT Dirgantara Indonesia dibiarkan “hidup segan mati tak mau” oleh pemerintahan pasca reformasi.

Perjuangan BJ Habibie mengembangkan industri pesawat terbang nasional sempat terhenti saat Indonesia diterjang krisis Moneter yang dimulai pada Juli 1997. Sejumlah mahasiswa yang disekolahkan ke luar negeri tidak bisa kerja di dalam negeri sebab dana pengembangan IPTN dihentikan oleh pemerintah atas saran IMF. Mereka kini, sebut Habibie, bekerja di Air Bus, Boeing, Cassa dan lainnya.

“Padahal mereka belajar membuat N250 dan sudah bisa terbang. N2130 baru mau terbang. N250 sudah ETA certified, 80 persen. Tahun 2000 (direncanakan) masuk market, assembly di Alabama sudah ada dan di Stuttgart untuk Eropa,” kenang Habibie.

Toh demikian cita-cita Habibie mengembangkan industri pesawat tak pernah pupus. Hingga Oktober 2013 lalu, menjelang 1 tahun berakhirnya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, dia masih berusaha mengembangkan pesawat penumpang baling-baling, penerus dari N250 yang diberinya nama R80 dengan kapasitas 80 penumpang.

Presiden ke-3 RI BJ Habibie pada 2013 lalu masih berobsesi membuat pesawat R80 yang memiliki kapasitas 80 penumpang

Tahun itu, rancang bangun pesawat itu baru tahap studi. Harapannya ketika itu, tahun 2016 yang lalu R80 bisa diproduksi massal. Sejumlah maskapai penerbangan nasional seperti Sriwijaya Air, ungkap Habibie, sudah memesan untuk anak usahanya NAM Air. Tapi sayang, gagasan besar dari pemikir besar bangsa Indonesia itu hingga kini belum terealisasi.

Barter Beras Ketan

Sesungguhnya, hadirnya industri pesawat terbang nasional itu sudah ada dalam jangkauan. Pada April 1996, 21 tahun yang silam, Indonesia dikabarkan akan mengekspor 2 pesawat CN-235 ke Thailand yang akan dibarter dengan beras ketan. Kabar itu ditanggapi ramai oleh masyarakat yang sebagian merasa direndahkan harga dirinya sebagai sebuah bangsa.

CN-235 memang masih produksi patungan antara Cassa dan Nurtanio yang selanjutnya berganti nama menjadi IPTN dan terakhir kali Dirgantara Indonesia. Pesawat itu didisain oleh kedua perusahaan dari dua negara itu sejak 1980. Purwarupa pesawat milik Spanyol dikenalkan pada 11 November 1983 dan milik Indonesia pada 30 Desember 1983. Pesawat ini baru diproduksi massal oleh kedua negara pada Desember 1986

Saat CN-235 dijual ke Thailand dengan barter beras ketan muncul ungkapan-ungkapan sinis di group-group email, bagaimana mungkin produk unggulan nasional itu hanya ditukar 110 ribu ton beras ketan? Bagaimana mungkin ratusan insinyur kita yang cerdas itu disetrakan dengan ribuan petani Thailand yang memproduksi beras ketan? Harga dua pesawat CN-235 itu dibandrol dengan harga 34 juta dolar AS.

Berita itu memang heboh. Hampir semua media massa meliputnya. Namun sangat sedikit yang berusaha mengungkap cerita di balik itu. Cerita itu hanya diungkap dalam buku “Pak Harto, the Untold Story” yang ditulis oleh lima orang Tim Editor masing-masing Donna Sita Indria, Anita Dewi Ambarsari, Dwitri Waluyo, Bakarudin dan Mahpudi itu diluncurkan pada 8 Juni 2011, atau bertepatan dengan hari lahir Presiden ke-2 Republik Indonesia itu.

Merpati Nusantara sempat memiliki 15 unit armada CN-235 buatan Cassa-Nurtanio

Kisah CN-235 terekam lewat penuturan Tengku Zulkarnain, ulama asal Medan yang memang dekat dengan Presiden Soeharto. Dalam suatu pertemuan setelah Soeharto lengser, Tengku Zulkarnain sempat menanyakan tentang kisah CN-235 itu.

“Pak, dulu beberapa orang merasa terhina ketika bapak menjual pesawat buatan Indonesia CN-235 secara barter dengan beras ketan dari negara lain,” tanya Tengku Zulkarnain.

“Sebenarnya saya meniru Indira Gandhi yang ketika menjual Bus Damri kepada kita, ia tidak mau dibayar dengan dolar. Indira minta bus-bus itu dibarter saja dengan beras yang di negara kita saat itu surplus,” jawab pemilik julukan the Smiling General itu yang dengan tenang menanggapi pernyataan koleganya.

Ternyata Indira memiliki alasan tersendiri kenapa tidak mau dibayar dengan dolar. Sebab kalau dibayar dengan dolar toh negaranya juga masih membutuhkan impor beras dan dikenai pajak impor 10 persen. “Kalau barter kan tidak kena pajak sehingga seluruh hasil penjualan bisa seratus persen untuk rakyat. Nah, kalau saya membarter pesawat itu dengan beras ketan, wong kita memang sedang perlu kok,” lanjut Soeharto.

Bahkan Soeharto hanya tertawa saat Tengku mengingatkan pameo yang sedang ngetop ketika itu, tentang CN-235 yang bernama Tetuko, diambil dari nama dunia pewayangan keturunan Gatotkaca yang juga pandai terbang, acap kali diplesetkan orang menjadi “sing teko ora tuku-tuku sing tuku ora teko-teko” atau apabila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia “yang datang tidak segera membeli yang membeli tidak datang-datang.”

Kendati dulu dilecehkan, ternyata hingga 2012 lalu sudah ada 27 negara pengguna pesawat buatan Spanyol Indonesia ini. Karena CN memang singkatan dari Casa (Spanyol) dan Nurtanio (Indonesia). Karena CN-235 memang tangguh untuk melakukan patroli udara. Kebanyakan negara maju menggunakan CN-235 untuk pengamanan pantai dan TIM Search and Rescue (SAR) mereka.

Ke-27 negara pengguna CN-235 adalah USA, Perancis, Venezuela, Australia, Austria, Chili, Columbia, Ekuador, Irlandia, Maroko, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Madagaskar, Malaysia, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Turki, Pakistan, Burkina Faso, Namibia, Botswana, Gabon, Senegal, Papua New Guinea, Panama, Korsea Selata, dan tentu saja Spanyol dan Indonesia sebagai negara pembuat.

PT Merpati Indonesia yang belakangan bangkrut juga menggunakan CN-235 untuk penerbangan perintis mereka. Paling tidak ada 15 unit CN-235 yang dimilikinya. PT DI sebagai kelanjutan Nurtanio atau lebih dikenal dengan IPTN hingga sekarang ini masih menerima pesanan jenis pesawat itu dari sejumlah negara. Karena CN-235 memang dikenal tangguh melakukan manuver di segala cuaca.

Regenerasi Ide Habibie

Kendati menghadapi berbagai rintangan, namun obsesi Presiden ke-3 RI dalam mengembangkan industri pesawat nasional belum kandas. Menjelang peringatan hari kemerdekaan Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia Budi Santoso mengenalkan pesawat N-219 yang terbang Perdana pada 16 Agustus 2017 yang lalu.

Sejak dicanangkan hingga terbang Perdana, N-219 telah menghabiskan anggaran Rp819 miliar yang diambil dari anggaran Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan dari anggaran PT DI sendiri. Namun Budi menjelaskan, setidaknya diperlukan anggaran sekitar Rp200 miliar lagi untuk mendapatkan sertifikat laik terbang sehingga bisa dipasarkan. Jadi total anggaran yang dibutuhkan mencapai Rp1 triliun.

“Pesawat ini masih memerlukan 300 jam terbang lagi untuk sertifikasi, dan kita harus mensimulasi sekitar 30 ribu “flight-cycle” dan kebetulan ada program dari Kementerian Pertahanan untuk pesawat Fighter, laboratoriumnya sudah hampir jadi. Dan bisa kita gunakan sambil belajar untuk testing pesawat Fighter Indonesia nanti,” terang Budi.

Namun Budi mengaku masih mencari sumber dana untuk menuntaskan programnya. Padahal, biaya seluruh program N-219, lanjut Budi, terhitung kecil apabila dibandingkan dengan pembuatan N250 yang anggarannya mencapai 25 kali lipat atau sekitar 1,8 juta dolar AS.

Kelebihan industri pesawat terbang nasional yang diwariskan BJ Habibie adalah Indonesia memiliki pengalaman mendesain pesawat sejak nol. “Kemampuan ini tidak dimiliki semua negara. Hanya negara tertentu yang punya kemampuan ini. Indonesia salah satunya. Kita punya pengalaman lengkap dari industri ini,” beber Budi.

Untuk membuat N-219 PT DI melibatkan 108 engineer untuk merancang pesawat di luar pekerja yang membangun pesawat. “Proyek ini juga untuk regenerasi,” tandas Budi.

Artinya, obsesi Presiden ke-3 RI BJ Habibie untuk mengembangkan industri pesawat terbang nasional belum sepenuhnya mati. Karena lewat LAPAN dan PT DI obsesi itu terus dihidupkan melalui regenerasi keterampilan yang tidak boleh pupus di tengah jalan.

Memang, di luar itu ada cerita lucu, terkait rencana impor pesawat Sukoi Su35 dengan barter komoditas pertanian, termasuk kerupuk ada di dalamnya. Jadi, kalau dulu kita impor 2 pesawat ke Thailand dengan barter beras ketan, sekarang kita mendatangkan pesawat dari Rusia dengan barter kerupuk.

Di balik semua cerita lucu itu, memang, obsesi Habibie tentang pengembangan industri penerbangan nasional tidak boleh mati. Supaya kita juga berdaulat. Di darat, di laut dan di udara.[]

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here