Masih Impor 80%, kok Bangga Ekspor Susu

0
415
Fasilitas susu sapi perah Greenfield, di Malang, Jawa Timur.

Nusantara.news, Blitar – Sebanyak 2.150 sapi betina atau sapi perah dari Australia datang ke Indonesia. Setelah menjalani perjalanan laut selama 11 hari dari Melbourne, Australia, Senin (9/10), kini sedang menjalani proses karantina di peternakan PT Greenfields Indonesia di Wlingi, Blitar.

Impor sapi betina ini menjadi momen penting karena jumlahnya terbesar di Indonesia, yang dilakukan dalam satu ekspedisi perusahaan swasta.

Peternakan kedua Greenfields ini akan menjadi peternakan sapi perah terbesar dan modern se-Asia Tenggara. Sebab Greenfields menargetkan akan menternakkan 10 ribu ekor sapi perah, dengan total laktasi yang diperah sekitar 4.000 ekor. “Dari sisi produksi susu yang dihasilkan oleh farm kami akan menghasilkan 125 ton per hari saat full capacity,” kata Head of Dairy Farm Indonesia PT Greenfields Indonesia Heru Prabowo.

Menurut Heru, dengan beroperasinya peternakan sapi kedua, pihaknya akan menambah kontribusi terhadap produksi susu nasional lebih dari 10 persen. Sebab, produksi susu nasional masih kurang 20 persen dari konsumsi susu nasional sebesar 3,8 juta ton per tahun. Adapun kontribusi PT Greenfields Indonesia saat ini baru sekitar 6 persen melalui peternakan pertama mereka di kaki Gunung Kawi, Desa Babadan, Kabupaten Malang.

Peternakan sapi perah baru ini berlokasi di lahan seluas 172 hektare di Ngadirenggo, Wlingi, Blitar, dengan biaya investasi sebesar Rp 600 miliar. Dana tersebut akan membiayai infrastruktur, bangunan, dan pengadaan sapi perah secara bertahap. Rencananya, peternakan akan mulai beroperasi penuh pada 2018.

Sebelumnya Greenfields menginvestasikan Rp 335 Miliar untuk membangun pabrik pengolahan susu di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Anak perusahaan AustAsia Dairy Group itu akan menambah kapasitas produksi susu segar dari 20.000 sapi perah. Peternakan Greenfields telah menghasilkan susu sejak tahun 1997, dan kini memproduksi sekitar 42 juta liter susu segar murni tiap tahunnya.

Penelusuran Nusantara.News, selama ini Greenfields memproduksi susu segar berkualitas tinggi, higienis, dan kaya nutrisi yang berasal dari sumber alami; yakni sejumlah lebih dari 8.600 ekor sapi Holstein yang diimpor hanya dari Australia dan juga dikembangbiakkan secara lokal.

Di sini Greenfields memelihara 8.688 ekor sapi. Sebanyak 3.883 di antaranya sedang dalam kondisi bisa diperah. Sedangkan 700 ekor dalam keadaan bunting, 2.758 ekor pedet (anakan) dewasa dan 1.310 pedet usia 0-2 bulan.

Dengan teknologi canggih, susu segar dari sapi perah jenis Holstein ini diolah dengan cara pasteurisasi dan Ultra High Temperature (UHT) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia.

Bahkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengakui peternakan Greenfields sebagai pabrik yang menerapkan konservasi energi dalam berproduksi. Untuk memastikan pengolahan limbah yang aman, Greenfields menerapkan proses bioteknologi dalam sistem pengolahan air limbah. Air yang dihasilkan dari pengolahan limbah diolah dan dengan aman dapat didaur ulang serta digunakan dalam proses produksi. Peternakan kedua di Blitar diakui ramah lingkungan lantaran menggunakan pembangkit listrik bertenaga biogas, purifikasi, dan daur ulang limbah, daur ulang pasir untuk alas tidur sapi perah. Juga pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk.

Nah, terkait kedatangan kelompok pertama 2.150 sapi betina di Blitar, sebagian pihak menganggap hal itu merupakan komitmen Greenfields untuk menjadi terdepan di industri susu nasional. Apalagi setelah ini, pihak Greenfields akan kembali mengimpor sapi betina sebanyak 4.600 ekor lebih di awal tahun 2018. Kemudian berlanjut hingga Juli 2019 untuk mencapai 9.000 ekor sapi perah. Dengan jumlah itu, produksi susu Greenfields bisa mencapai 40.000 liter per tahun.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Dirjen (PKH), Ir. Fini Murfiani, MSi mengapresiasi kepada Greenfields dalam upayanya mengembangkan peternakan sapi perah yang berkualitas. “Ini menjadi contoh baik untuk industri sejenis, baik di dalam negeri maupun luar negeri,” tambah Fini Murfiani.

Sementara bagi Asisten Deputi Peternakan dan Perikanan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jafi Alzagladi, kebijakan pemerintah dalam persusuan adalah untuk penambahan populasi yang bertujuan pada peningkatan produksi susu, guna pemenuhan kebutuhan konsumsi susu segar bagi masyarakat.

Peran swasta seperti Greenfields mendatangkan sapi perah dari Australia sebanyak 2.150 ekor ini merupakan hal yang sangat baik. “Kami berharap inisiatif ini bisa mendukung penyediaan susu segar dalam negeri, sekaligus mengurangi disparitas dari produksi dalam negeri yang saat ini ada di angka 23% dan impor 77%,” tambahnya saat menyaksikan kedatangan sapi impor itu.

Sayangnya, tidak semua produksi Greenfields bisa dinikmati kebanyakan masyarakat Indonesia. Pasalnya di saat 80 persen kebutuhan susu nasional masih impor, Greenfields justru mengekspor 20 persen produk ke wilayah Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina, Myanmar dan Kamboja) dan Hongkong.

Karena itu pemerintah menerbitkan Permentan No. 26/2017 tentang penyediaan dan peredaran susu. Ya, setelah belasan tahun tidak ada regulasi baru di bidang persusuan, Permentan ini diharapkan dapat membantu sektor hulu dan peningkatan kerjasama dengan pelaku usaha di sektor hilir.

Disebutkan pula, masing-masing pelaku usaha membuat rencana kemitraan yang di dalamnya termasuk pemanfaatan susu segar dalam negeri. Selanjutnya tim analisis akan melakukan penilaian disesuaikan dengan ketersediaan susu segar dalam negeri. Dengan begini sektor swasta dapat mengembangkan industri susu melalui program kerja sama dan pemberdayaan peternak lokal. Pasalnya, sektor peternakan susu merupakan salah satu industri strategis pemerintah, karena selain dapat terus menyediakan produk susu segar kepada generasi muda Indonesia, industri ini juga memiliki kontribusi tinggi pada persediaan daging lokal.

Kebutuhan nasional 

Diakui atau tidak, selama ini pasokan susu sapi dalam negeri masih bergantung pada impor. Produksi susu segar dalam negeri hanya mampu memenuhi 20 persen kebutuhan susu nasional.

Ketua Asosiasi Peternak Sapi Perah Indonesia (APSPI) Agus Warsito pernah menyampaikan, bahwa konsumsi susu dalam negeri sebanyak 3,3 juta ton per tahun. Dari angka tersebut sekitar 2,6 juta ton masih bergantung pada negara lain. Sedangkan produksi dalam negeri hanya mampu memproduksi susu segar sebesar 690 ribu ton.

“Selama dua dekade terakhir, kita hanya mampu mengisi produksi sekitar 20 persen dari kebutuhan nasional? Jadi 80 persen berasal dari impor. Jadi seolah susu dalam negeri hanya bumbu saja?” ujar Agus.

Menurutnya, produksi susu dalam negeri masih sulit berkembang karena banyak kendala yang dihadapi peternak. Padahal, industri peternakan sapi perah merupakan salah satu indikator ketahanan pangan nasional.

Agus menjelaskan, populasi sapi perah nasional juga terus mengalami penurunan. Pada 2015, populasi sapi nasional hanya 525.171 ekor. Angka ini turun 16,5 persen dari tahun 2012 sebesar 611.940 ekor. Menurutnya, penurunan populasi sapi perah membuat produksi susu segar dalam negeri menjadi ikut menurun.

Pada tahun 2015 saja, produksi menjadi 805.000 ton. Catatan ini jauh lebih kecil dibandingkan tahun 2012 bisa mencapai 960.000 per ton. Padahal generasi muda Indonesia membutuhkan protein yang terjangkau, dan ini bisa terpenuhi dari susu sapi lokal.

Sementara hingga 2016, rata-rata konsumsi susu nasional tercatat berada di angka 4,45 juta ton, atau setiap orang rata-rata mengkonsumsi susu 17,2 liter per kapita per tahun. Angka ini sedikit naik dari data sebelumnya di mana tingkat kosumsi susu di Indonesia berada di kisaran 12,87 liter per kapita per tahun. Namun bila dibandingkan sejumlah negara di ASEAN sekira 20 liter per kapita per tahun, maka konsumsi Indonesia masih terendah di Asia Pasifik.

Karena itu APSPI menyesalkan langkah industri pengelola susu atau IPS yang melakukan impor susu mencapai 80%, sehingga serapan susu lokal mengalami penurunan setiap tahun. Kata Agus, IPS menyerap susu lokal dari para peternak sapi perah mencapai 38% pada era 1998. Namun 10 tahun kemudian atau pada 2008, IPS hanya menyerap susu segar dalam negeri (SSDN) di angka 28%. Malah turun.

Penurunan terus berlanjut hingga sekarang di mana serapan susu untuk kebutuhan bahan baku IPS hanya 20%, sedangkan sisanya 80% diperoleh dari impor.  Impor dilakukan dari New Zaeland dan Australia dalam bentuk skim milk powder (bubuk) dan butter milk powder. Skim ini hanya seperti pemutih kopi, yang mayoritas sebenarnya gula. Jadi bukan dalam bentuk susu segar lagi. Kondisi itu membuat peternak sapi perah kian tidak berdaya dengan serbuan impor susu dalam bentuk skim. Alhasil, serapan susu segar dari peternak sapi sangat rendah.

Jika dicermati, ada beberapa masalah mendasar mengenai alasan mengapa konsumsi susu Indonesia rendah. Pertama, produksi susu di Indonesia cukup rendah, atau hanya menguasai 20% dari total kebutuhan susu nasional. Artinya, 80% sisanya diperoleh secara impor. Rendahnya produksi susu disebabkan karena produktivitas susu segar masih terlampu minim. Setiap satu sapi, rata-rata hanya memproduksi 10 liter susu per hari. Adapun total sapi perah di negeri ini mencapai sekitar 600.000 ekor. Tentu, jumlah itu jauh dari cukup jika ingin memenuhi 250 juta jiwa populasi Indonesia.

Produktivitas yang rendah juga terjadi karena sebagian besar peternak sapi di Indonesia berternak dalam skala kecil, yaitu rata-rata dua hingga tiga sapi ekor. Berbeda dengan peternak sapi di Australia dan Selandia Baru di mana satu peternak bisa mengelola 50-60 sapi perah.

Tak hanya itu, pola pengelolaan pun masih tradisional, alias peternak masih banyak memerah dengan menggunakan tangan, tanpa bantuan mesin.

Karenanya, dalam meningkatkan produksi susu, peternak membutuhkan pakan ternak yang unggul dan pengelolaan yang berkualitas. Akan tetapi, biasanya itu baru memungkinkan dilakukan oleh peternak sapi skala besar seperti Greenfields yang telah memiliki modal mumpuni.

Tak heran, dengan produksi dan kualitas yang rendah, harga susu sapi perah di level peternak lokal cukup rendah, berkisar Rp 5.000 hingga Rp 5.500 per liter. Hal ini lah yang memicu pemerintah untuk segera menetapkan harga dasar (floor price) susu segar nasional di level peternak. Tujuannya untuk menstimulus gairah peternak agar memproduksi susu sapi lebih banyak lagi.

Selain masalah produksi, masalah kedua yang turut berkontribusi terhadap tingkat konsumsi susu adalah distribusi. Di Indonesia, infrastruktur belum merata, sehingga membuat produsen susu sulit memasarkan susunya di seantero Tanah Air. Infrastruktur yang belum merata, membuat distribusi pun sulit menjangkau daerah-daerah terpencil.

Karena itu dibutuhkan revitalisasi industri susu nasional. Caranya dengan meningkatkan produksi susu segar lokal mulai dari hulu hingga hilir. Revitalisasi sapi perah nasional seyogyanya meliputi beberapa komponen, seperti skill dan inovasi dari peternak, teknologi dan investasi untuk mendukung bisnis, pasar yang kondusif serta kebijakan yang pro peternak.

Selain itu pemerintah harus membuat regulasi yang jelas supaya serapan susu IPS lebih mengutamakan susu lokal dalam negeri. Jangan hanya melihat satu pokok permasalahan yakni demi swasembada susu, tetapi mengorbankan banyak peternak lokal. Jangan pula pemerintah ‘menganak-emaskan’ IPS asing yang telah berinvestasi di dalam negeri dengan membiarkan regulasi diacak-acak demi ekspor, sementara kebutuhan susu nasional dikorbankan.

Jika kemudian regulasi dirusak, maka jangan harapkan produksi susu nasional tidak tercapai. Yang terjadi saat ini, banyak peternak sapi perah memutuskan beralih ke pedaging atau sapi potong. Pasalnya, menjadi pedaging lebih jelas biaya operasionalnya ketimbang peternak sapi perah. Misalnya, target penggemukan sapi bakalan selama lima bulan, artinya biaya yang mesti disiapkan hanya lima bulan saja.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here