Masjid Tiban, Pesona Budaya Destinasi di Hari Raya

0
471
Tampak depan Masjid Tiban, Turen Kabupaten Malang (Sumber: imgcdn)

Nusantara.news, Kabupaten Malang – Senggangnya waktu selepas merayakan hari raya idul fitri, digunakan pemudik untuk mengunjungi beberapa tempat wisata atau suatu tempat yang dianggap unik di suatu daerah.

Kabupaten Malang, memiliki suatu kawasan destinasi wisata islami  yakni situs bangunan masjid yang unik dengan pesona corak budaya dan sejarah pembangunannya. Yakni Masjid yang berada di kawasan Pondok Pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah yang kerao disebut sebagai Masjid Tiban. Tepatnya terletak di Jalan Wahid Hasyim Gang Anyar RT 27 RW 06, Desa Sananrejo Kecamatan Turen, Kabupaten Malang.

Masjid yang berdiri megah setinggi sepuluh lantai di tengah permukiman penduduk ini mendapat julukan Masjid Tiban oleh masyarakat sekitar, karena pembangunannya yang amat kilat dan tidak diketahui warga. Menurut cerita dari kalangan masyarakat masjid tersebut dibangun oleh jin hanya dalam waktu semalam

Sonny, warga sekitar menuturkan pendapatnya terkait masjid tersebut. “Banyak orang yang menyebut, masjid tersebut adalah Masjid Tiban (Jawa: jatuh langsung), dan Masjid Ghaib, karena bentuknya yang sangat megah, berlantai-lantai dan pembangunanannya pun warga atau masyarakat sekitar jarang yang tahu,” tuturnya kepada Nusantara.news, Selasa (27/6/2017).

Namun, berita yang berkembang di masyarakat mengenai pembangunan masjid ketika dikonfirmasi kepada “orang dalam”, dikatakan bahwa pembangunan masjid – yang sebenarnya merupakan kompleks pondok pesantren secara keseluruhan – semua bersifat transparan karena dikerjakan oleh santri dan jamaah.

“Memang desas-desus yang berkembang banyak seperti itu (red: gaib), namun sebenarnya dikerjakan oleh para santri terdahulu. Begitu yang saya dengar dari senior-senior saya dahulu,” jelas seorang santri.

Pemandu Masjid Tiban,  Gus Ipung, yang juga salah satu santri pondok membantah kisah yang santer beredar itu. “Pembangunan masjid memang tidak melibatkan masyarakat sekitar dan tidak menggunakan alat-alat berat, jadi wajar apabila masyarakat tidak tahu ada pembangunan masjid di balik pagar karena semua dikerjakan oleh santri,” tandasnya

Napak Tilas Masjid Tiban Malang

Berawal pada pendirian Pondok Pesantren Salafiyah pada tahun 1963 yang diberi nama Pesantren Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah (Bi Ba’a Fadlrah). Nama itu mengandung makna lautannya lautan yang berasa madu dan memiliki keutamaan kasih sayang.

Musala kecil yang berada dalam pondok pesantren Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang kemudian menjadi cikal bakal Masjid Tiban. Musala tersebut kemudian dibangun dan diperbaiki pada tahun 1978 oleh Romo KH Rahmat Bahru Mafdoluddin Sholeh Al-Mahbub Rahmat Alam dan istrinya Hajjah Luluk Rifqoh Al Mahbubah.

Musala itu dipergunakan untuk pusat ibadah dan pembelajaran, bagi keluarga dan para santri, yang kini sekitar 350-an orang. Tidak hanya bagi santri namun juga untuk khalayak masyarakat dan penduduk sekitar. Mulai gencar pembangunan dilakukan 1987 yang hingga sampai saat ini pun belum selesai dan masih dalam tahap pembangunan. Namun kini bangunan yang dulunya musala kecil, kini berdiri megah menjulang  sepuluh lantai dengan berbagai pernik corak hiasan pada dinding-dindingnya.

Dibangun oleh Tentara Jin

Tidak adanya pelibatan masyarakat secara langsung dalam pembangunan masjid membuat masyarakat sekitar berspekulasi bahwa masjid tersebut dibangun secara ghaib. Pasalnya bangunan yang sangat besar nan megah dan menjulang tinggi tersebut pastinya dibangun dengan banyak orang. Dan juga memakai alat berat.

Namun, tidak terlihat pelibatan masyarakat sekitar secara massif dalam pembangunan masjid tersebut. Tak nampak juga alat berat yang masuk ke areal pondok pesantren. Sehingga mustahil apabila menggunakan tenaga manusia, dan memunculkan persepsi pembangunan tersebut dengan perarntara ghaib atau jin.

Tampak depan Gapura Masjid Tiban, Turen Kabupaten Malang (Sumber: WstMlg)

Cerita dari mulut ke mulut semakin menguatkan kepercayaan kalau masjid megah berlantai 10 itu dibangun oleh tentara jin. Pengunjung pun berdatangan dari berbagai penjuru daerah yang penasaran akan megahnya dan pesona Masjid Tiban tersebut.

“Isu yang berkembang di masyarakat bahwa masjid ini dibangun dalam waktu satu malam, dan dengan perantara jin. Orang-orang yang tinggal di sekitar masjid tidak mengetahui adanya aktivitas alat berat. Bangunan besar berlantai 10, tentu menggunakan crane atau molen pengaduk semen. Tetapi tidak pernah terlihat sampai sekarang,” jelas Sonny kembali.

Terkadang nampak ada salah satu bangunan yang belum jadi namun tiba-tiba sudah terseleseikan. Lazimnya sebuah masjid di kampung pasti proses pembangunannya akan melibatkan masyarakat sekitar. Biasanya mereka mengajak bergotong-royong untuk pengecoran atau pekerjaan lainnya. Namun, pembangunan Masjid Tiban ini sama sekali tidak melibatkan warga sekitar.

Namun, isu tersebut mendapat bantahan dari pihak pondok pesantren, yang secara jelas terpampang di depan meja penerima tamu dengan tulisan besar-besar, “Apabila ada orang yang mengatakan bahwa ini adalah pondok tiban (pondok muncul dengan sendirinya), dibangun oleh jin dsb., itu tidak benar. Karena bangunan ini adalah Pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri ‘Asali Fadlaailir Rahmah yang murni dibangun oleh para santri dan jamaah.”

Konflik dan Perseteruan Keberadaan Masjid 

Desas-desus dan isu yang santer beredar mengenai  Masjid Tiban dibangun oleh jin, membuat  Pondok Pondoh Romo Ahmad ini pernah di demo masyarakat sekitar tahun 2000. Masyarakat memprotes kegiatan pondok yang dianggap mengajarkan aliran sesat.

H Mustafa, salah satu pengurus pesantren mengungkapkan bahwa ada beberapa bagian masjid yang sempat dihancurkan karena dianggap syirik menyimpan jin dan lainnya. “Bupati dan Kapolres turun tangan menengahi konflik yang terjadi yakni amuk warga. Mereka yang demo dipersilakan untuk melihat kegiatan pondok dan akhirnya dinyatakan bukan termasuk aliran sesat. Dulu sempat juga ada bangunan kotak, mereka menuduh kita bikin kabah sendiri,” jelasnya

Mustafa menegaskan pondok Pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri’asali Fadlaailir Rahmah, adalah pondok tombo ati (obat hati). Pembelajarannya membersihkan penyakit hati berupa iri dengki, riya dan takabur.

Praktik yang dilakukan dengan mawas diri, suudzon (prasangka buruk) terhadap diri sendiri, namun khusnudzon (prasangka baik) pada orang lain. Sedangkan aliran yang diikuti adalah ahli sunnah wal jamaah yang tidak merasa benar sendiri. Kini sepeninggal Romo Ahmad, kepemimpinan pondok dilanjutkan oleh istrinya, Nyai Luluk Rifqo Al Mahbubah.

Pesona Budaya dan Khasanah Masjid Tiban Malang

Apabila kita masuk dan melihat model bangunan arsitektur Masjid Tiban ini terasa nuansa perpaduan budaya Timur Tengah, China, Thailand, Jawa dan Eropa Modern. Dinding yang kebanyakan dikeramik biru putih dan bentuk yang unik, ditambah lagi perpaduan warna emas pada lafadz-lafadz islam yang membuat terasa lebih hidup.

Masjid Tiban memiliki 10 tingkat lantai.  tingkat 1 sampai dengan 4 digunakan sebagai tempat kegiatan para Santri Pondokan, lantai 6 seperti ruang keluarga, sedangkan lantai 5, 7, 8 terdapat toko-toko kecil yang di kelola oleh para Santriwati (Santri Wanita), berbagai macam makanan ringan dijual dengan harga murah, selain itu ada juga barang-barang yang dijual berupa pakaian Sarung, Sajadah, Jilbab, Tasbih dan sebagainya.

Tampak taman dalam Masjid Tiban, Turen Kabupaten Malang (Sumber: 3bp)

Adapun juga kolam renang, dan dilengkapi perahu yang hanya khusus untuk dinaiki wisatawan anak-anak di dalam kompleks pondok pesantren tersebut. keberadaan taman dan area satwa yang  ada berbagai jenis binatang seperti kijang, monyet, kelinci, aneka jenis ayam dan burung, menjadi keunikan tersendiri.

Selain itu, setiap ruangan Masjid Tiban dipercaya memiliki manfaat sendiri-sendiri. Manfaat itu juga menunjukkan keikhlasan orang-orang yang membangun. Semakin ikhlas semakin memberikan manfaat kepada orang lain.

H Mustafa, salah satu pengurus pesantren menyebutkan bahwa, pembangunan ruangan dengan segala desainnya, menunggu shalat Istikharah KH Romo Ahmad dahulu, yang kemudian dikerjakan secara gotong royong sesuai kemampuan. “Dasarnya ada pada istikharah. Selepas sholat pasti ada gagasan pembanguna terkait bentuk ukuran dan hiasan, apabila tidak sesuai pasti disuruh bongkar. Setiap kamar memiliki manfaat sendiri-sendiri,” pungkasnya

Istikharah tersebut yang kemudian dilakukan untuk menyambungkan Allah SWT, jadi desain ini berdasar pada hasil istikharah kyai” ujar Mustafa

Bangunan masjid yang memiliki banyak ruangan dan bertingkat-tingkat membuat pengunjung menamai masjid ini sebagai Masjid 1000 pintu.

Keunikan cerita yang berkembang di masyarakat tersebut yang kemudian menjadikan rasa ingin tahu pengunjung semakin tinggi, sehingga penasaran dengan Masjid Tiban ini. Ditambah-lagi arsitektur masjid yang megah dan memiliki pesona serta nilai khasanah budaya tersendiri, sehingga membuat lokasi ini cocok untuk destinasi wisata islami. Apalagi dalam momentum libur Hari raya Idul Fitri.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here