Maskot Macan Putih Pilkada Kediri Identik Ramalan Indonesia

0
371
Selain termasyhur dengan ramalannya, Raja Kediri Joyoboyo juga diperlambangkan sebagai macan putih.

Nusantara.news, Kediri – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Kediri, Jawa Timur, akhirnya memilih macan putih sebagai maskot dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di kota ini yang akan berlangsung pada 2018.

Dipilih maskot ini karena KPU Kota Kediri ingin mengutamakan kearifan lokal. Pihaknya sebelumnya juga telah mengadakan lomba untuk pemilihan maskot di Pilkada serentak 2018. Lomba melibatkan dewan juri dari berbagai unsur, baik dari dewan kesenian, budayawan, serta KPU Provinsi Jatim.

Sebanyak 24 maskot yang diajukan ke panitia. Maskot tersebut dari berbagai macam bentuk. Dewan juri juga melakukan seleksi yang cukup ketat, sebab gambar maskot yang diajukan juga banyak yang menarik.

“Mereka mengkaji seluruh berkas yang masuk dan menelitinya untuk memutuskan maskot yang terbaik. Tim memeriksa semua dokumen yang masuk. Semua diteliti, lalu dilakukan penjurian, disepakati, serta diplenokan. Jadi, atributnya itu akan digunakan di Pilkada ini,” terang Komisioner KPU Kota Kediri Moch Wahyudi di Kediri, Selasa (17/10/2017).

Saat ini KPU Kota Kediri memang belum mengenalkan secara langsung maskot macan putih untuk Pilkada. Rencananya, maskot itu akan dikenalkan pada agenda khusus yang akan digelar akhir November 2017.

Selain maskot, ia juga mengatakan untuk jinggle atau lagu juga sudah dipilih. Nantinya, lagu itu akan dikenalkan bersamaan dengan peresmian maskot Pilkada Kota Kediri tersebut. Namun, untuk teknis peresmian masih akan dibahas.

Macan putih memang bukan sekedar maskot. Tetapi sudah menjadi lambang bagi daerah Kota Kediri. Lambang daerah Kota Kediri diatur dalam surat keputusan DPRD sementara Kota Besar Kediri tgl. 30-3-1952 No. 22/DPRD-S/52 dan tgl. 21-IX-1953 No. 16/DPRD-S/53 yang menetapkan suatu lambang (Wapen) untuk Daerah Kota Besar Kediri, dan Surat Keputusan tersebut telah disyahkan oleh Surat Keputusan Presiden RI No. 127/1954 dimuat dalam Berita Negara tahun 1954 No. 57. Dan berdasarkan surat keputusan DPRD-Kotapraja Kediri tgl. 3-3-1959 No. 5/DPRD/59 yang menimbang, bahwa disamping ‘Lambang Pemerintah’ Kotapraja Kediri perlu memiliki Panji.

Lambang daerah Kota Kediri di tengah terdapat gambar macan putih.

Adapun macan putih merupakan perlambang sosok Sri Aji Joyoboyo, Raja Kediri yang memerintah sekira tahun 1135-1157. Dia juga termasyur karena ramalannya. Dipercaya Sri Aji Joyoboyo adalah titisan Bathara Wishnu yang menitis selama tiga kali.

Sebagai nujum, Sri Aji Joyoboyo kemudian meramalkan berbagai kejadian yang akan datang yang ditulis dalam bentuk tembang-tembang Jawa. Terdiri atas 21 pupuh berirama Asmaradana, 29 pupuh berirama Sinom, dan 8 pupuh berirama Dhandanggulo. Kitab tersebut kemudian dikenal dengan nama Kitab Musarar.

Nujum Sri Joyoboyo itu dibagi dalam 3 zaman yang masing-masing berlangsung selama 700 tahun. Yaitu, jaman permulaan (kali-swara), jaman pertengahan (kali-yoga) dan jaman akhir (kali-sangara).

Dari sekian yang menarik pada ramalan Jayabaya adalah adanya ramalan jaman akhir (Kali-sangara). Itu akan terjadi dari tahun 1401 sampai dengan tahun 2100.

Ramalan Sri Jayabaya dalam periode akhir tersebut menjadi akurat setelah dicocokan dengan catatan sejarah Indonesia pada periode tersebut. Simak saja bangkit dan runtuhnya kerajaan-kerajaan Jawa di Indonesia, naik-turunnya para raja-raja dan ratu-ratunya atau pemimpinnya yang terbagi dalam tiap seratus tahun sejarah. Yaitu Kala-jangga (1401-1500 Masehi), Kala-sakti (1501-1600 M), Kala-jaya (1601-1700 M), Kala-bendu (1701-1800 M), Kala-suba (1801-1900 M), Kala-sumbaga (1901-2000), dan Kala-surasa (2001-2100 M).

Salah satu contoh, naiknya Presiden Sukarno sebagai pemimpin dan pendiri Republik Indonesia masuk dalam periode Kala-sumbaga (1901-2000). Akurat yang lain, Soekarno digambarkan sebagai seorang raja yang memakai kopiah warna hitam (kethu bengi) yang sudah tidak memiliki ayah dan bergelar serba mulia. Raja kebal terhadap berbagai senjata namun memiliki kelemahan mudah dirayu wanita cantik. Tidak berdaya terhadap anak-anak kecil yang mengelilingi rumah (mundurnya Soekarno karena demo para pelajar dan mahasiswa). Sang Raja sering mengumpat orang asing dengan lambang. Untuk menunjukkan bahwa ia anti imperialisme.

Bunyi ramalannya seperti ini: Ratu digdaya ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda, nanging apese mungsuh setan thuyul ambergandhus, bocah cilik-cilik pating pendhelik ngrubungi omah surak-surak kaya nggugah pitik ratu atine cilik angundamana bala seberang sing doyan asu.

Contoh yang lain sangat banyak. Tapi orang awam hanya akan mampu melihat kejadian ketika semua sudah terjadi. Namun orang-orang waskita yang jumlahnya tak banyak di negeri ini pasti akan mampu melihat seperti yang diisyaratkan Sri Aji Joyoboyo. Karena itulah dia juga dijuluki si macan putih, karena memiliki ketajaman mata seperti macan dan mampu memecah kondisi segala jaman kala itu.

Karena isyarat-isyarat yang akurat itu, hingga kini petilasan moksanya Sri Aji Joyoboyo masih cukup ramai dikunjungi orang. Utamanya pada malam-malam Selasa Kliwon dan Jumat Legi pada penanggalan Jawa. Atau pas bulan 1 Sura tempat ini pasti menjadi lautan manusia.

Ramalan Pemberontakan Rakyat Nusantara

Joyoboyo selama memerintah sempat mengalami masa keemasan karena berhasil menyatukan Jenggala kembali ke Kediri. Nah, torehan-torehan mistik filosofis Joyoboyo sangatlah terkenal, meski begitu Joyoboyo jelas bukanlah Naisbitt (Megatrend 2000) yang terkenal dengan pandangan visionernya tentang masa depan ilmu pengetahuan dan peradaban manusia. Ia tidak bisa disandingkan dengan Alvin Tofler (The Third Wave) dengan teori kejutan gelombang perubahan zaman.

Joyoboyo sangat berbeda dengan para futurolog yang mendasarkan visinya dalam menjelajah masa depan berlandaskan data-data empiris. Joyoboyo jelas tidak mempunyai dan menggunakan data-data tersebut untuk menerangkan kejadian-kejadian masa yang akan datang. Namun, tidak bisa dipungkiri banyak kejadian atau peristiwa dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia secara langsung maupun tidak langsung telah diungkapkan oleh ramalan Joyoboyo meski tersamar atau melalui lambang.

Joyoboyo pernah mengambarkan negara ini mengalami peperangan saudara. “ana peperangan ing njero, timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham, Durjana saya ngambra-ambra, penjahat saya tambah, wong apik saya sengsara, akeh wong mati jalaran saka peperangan”.

Dilihat situasi politik negara saat ini, kondisi itu sangat jelas. Kondisi dan keadaan yang sudah memanas, para simpatisan partai, para elit partai, dan juga peserta koalisi partai, sudah saling serang baik dengan cara terpuji, dan tentu saja banyak dengan cara yang tidak terpuji, bahkan ironis, agama dan keyakinan pun ikut dibawa.

Kampanye-kampanye, slogan-slogan hingga tulisan-tulisan yang bersifat fitnah, mendiskriditkan lawan, hingga gambar-gambar yang melecehkan berterbaran seakan dijatuhkan dari langit.

Namun ada juga yang menuliskan dengan jelas dan lebih tegas, bahwa Indonesia mengalami perpecahan tahun 2015. Sekarang sudah terbukti. Sejak Pilpres 2014, Indonesia terpecah menjadi dua kubu. Bahkan saat Pilgub DKI digelar, masyarakat saling bertikai satu sama lain. Agama dan nasionalis menjadi sangat diametral.

Paling terkenal ramalan Joyoboyo adalah “Notonogoro”. Terminologi ini memprediksi siapa-siapa saja yang akan memimpin nusantara. Notonogoro bukanlah nama seseorang melainkan simbolisasi penamaan bagi pemimpin nasional (Presiden). Notonogoro dipisahkan menjadi No-To-No-Go-Ro yang selanjutnya diawali oleh “No” Sukarno, “To” Suharto, dan seterusnya.

Namun selepas Presiden Suharto, belum ada lagi nama Presiden Indonesia yang menyangkut dalam ramalan ini, mulai Habibie, Megawati, maupun Abdurahman Wahid (Gusdur) kecuali “No” untuk Susilo Bambang Yudhoyono. Apakah Habibie, Megawati, dan Gusdur, hanya sekadar pemimpin transisi dan tidak masuk dalam Notonogoro?

Dari tafsiran Joyoboyo, hanya Soekarno dan Soeharto yang cocok dengan perhitungan Notonegoro. Sedang yang lain dianggap sebagai pemimpin transisi.

Kalau iya, bisa jadi hal ini benar mengingat ketiganya tidak genap lima tahun dalam memimpin bangsa ini. Lantas bagaimana dengan Jokowi? Kemungkinan Jokowi juga dianggap sebagai pemimpin-pemimpin transisi seperti pendahulunya. Sebab masa kepemimpinannya masih dua tahun lagi. Dan selama itu banyak hal bisa terjadi.

Selain memprediksi kepemimpinan nasional, Raja Joyoboyo juga meramalkan perjalanan bangsa ini melalui bahasa-bahasa simbolik. Ada enam ramalan yang telah terjadi dan terbukti kebenarannya. Pertama, Murcane Sabdo Palon Noyo Genggong. Noyo Genggong dan Sabdo Palon adalah nama abdi dalem Kerajaan Majapahit, sedangkan murca berarti musnah, artinya runtuhnya Kerajaan Majapahit.

Kedua, Semut Ireng Anak-anak Sapi (Semut hitam anak-anak sapi), artinya Belanda datang ke Indonesia dan menjajah negeri ini.

Ketiga, Kebo Nyabrang Kali (Kerbau menyeberang sungai), artinya Belanda kenyang dan hengkang dari Indonesia.

Keempat, Kejajah Saumur Jagung Karo Wong Cebol Kepalang (dijajah seumur jagung oleh orang cebol) ini zamannya Indonesia dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun.

Kelima, Pitik Tarung Sak Kandang (Ayam bertarung satu kandang) artinya perang saudara zaman Bung Karno.

Keenam, Kodok Ijo Ongkang-ongkang (Kodok hijau berkuasa) ini eranya tentara berkuasa pada saat Soeharto menjabat sebagai Presiden.

Sedangkan ramalan yang ketujuh adalah Tikus Pithi Anoto Baris (Tikus pithi menata barisan). Apa makna dari ramalan ketujuh Joyoboyo ini?

Budayawan Sujiwo Tejo memiliki pandangan berbeda soal ramalan ke-7 Joyoboyo ini. Dalam tafsirannya, tikus pithi anoto baris sebagai barisan pemberontakan rakyat nusantara dari berbagai penjuru.

Geger tahun 1998 yang melengserkan Presiden Soeharto dianggapnya belum merata dan bisa dikatakan hanya pecah di beberapa kampus, DPR/MPR, Glodok dan beberapa tempat di Jakarta. Situasi akan jauh berbeda dibandingkan berkobarnya api tikus pithi anoto baris yang sekamnya kini mulai rantak membara di seluruh Nusantara karena cekcok pemilu legislatif. Tapi itu adalah tafsir di tahun 2009 yang telah berlalu. Bagaimana dengan situasi akhir-akhir ini?

Tikus Pithi Dilambangkan Korupsi Indonesia

Tikus saat ini disimbolkan sebagai korupsi. Sifat tikus yang suka mencuri, gesit, rakus, kotor, bau, dan membawa penyakit sama persis dengan koruptor yang tidak tahu malu, rakus, dan suka mencuri uang negara.

Apabila tikus dalam ramalan ketujuh Joyoboyo dimaknai sebagai korupsi, maka bisa jadi benar ramalan tersebut mulai digenapi akhir-akhir ini.

Tanda-tanda ramalan ketujuh Joyoboyo mulai digenapi tampak terlihat pada banyaknya kasus-kasus mega korupsi yang menggurita di negeri ini. Selain itu, hilangnya rasa malu para pelaku korupsi dan serangan balik koruptor (corruptors fight back) yang ditujukan untuk melemahkan lembaga penegak hukum yang menangani korupsi, dalam hal ini KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan adalah tanda-tanda yang tak terelakkan. Tapi apakah itu merupakan klimak dari ramalan ini?

Petilasan Sri Aji Joyoboyo yang masih ramai dikunjungi orang.

Tentu saja tidak. Setelah ini akan ada goro-goro di mana keadaan bangsa ini tidak lagi normal, adanya kesewenang-wenangan, penyalahgunaan kekuasaan, dan peristiwa-peristiwa yang akan mengingatkan bangsa ini untuk kembali ke jalan yang benar. Setelah goro-goro, akan ada perang tanding antara satria pembela kebenaran dengan musuhnya yang tentu saja akan membawa korban. Sejak Indonesia di bawah pemerintahan Megawati hingga Jokowi, terus-terusan diuji dengan maraknya skandal korupsi, dari mulai skandal BLBI hingga Bank Century.

Sekarang ini perang opini sudah ditabuh. Orang mulai saling serang, saling membuka aib, menguji kebenaran versi masing-masing. Tapi semua itu harus segera berakhir, jangan sampai rakyat marah dan akhirnya mendorong angkatan muda untuk keluar dan menyusun barisannya seperti yang ditafsirkan Sujiwo Tejo.

Namun lebih dari itu, sebagai orang timur, sebagai bangsa yang adhiluhung, ada baiknya kita merenungkan petuah bijak berikut bejane sing lali, bejane sing eling, nanging isih beja sing waspadha artinya beruntung bagi yang lupa, beruntung bagi yang ingat, namun masih lebih beruntung bagi yang waspada. Sudah saatnya kita peduli dan waspada, terlebih waspada terhadap bahaya koruptor yang berpotensi menghancurkan negara ini.[]

 

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here