Masyarakat Kebencian

0
99

TERUNGKAPNYA Saracen, sindikat penyebar kebencian dengan bayaran puluhan juta, adalah indikasi betapa rentannya Indonesia saat ini. Dipahami dari logika hukum pasar tentang supply dan demand, kehadiran menunjukkan memang ada “permintaan pasar” untuk komoditas amarah itu. Artinya, masyarakat kita sudah sedemikian terpecah-belah dalam kelompok-kelompok yang saling bermusuhan.

Benar, bermusuhan. Bukan semata berbeda, atau bertentangan. Kalau semata berbeda, pertentangan perbedaan akan melahirkan titik akhir yang sama-sama diterima. Ada proses bertolak-angsur di dalamnya. Ada tawar-menawar. Ada dialektika. Tapi, permusuhan hanya menghendaki pembinasaan.

Kalau antara kelompok masyarakat dalam satu bangsa sudah berada di titik itu, mungkin kata “rentan” terlalu lunak untuk menggambarkannya. Naik sedikit dari kata “rentan” adalah “pecah”. Jika bereskalasi lagi, “pecah” akan menjadi “perang”.

Penyebaran ujaran kebencian itu harus dipahami, diwaspadai dan diantisipasi, dalam konteks tersebut.

Kita mendukung penuh tindakan Polri menegakkan hukum yang tegas dan keras dalam menindak pelaku penyebar kebencian.

Tetapi, menindak saja tak cukup. Karena itu hanya memadamkan api. Yang harus dipikirkan adalah bagaimana mencegahnya.

Harus diakui, masyarakat aneka ragam seperti Indonesia, bagai rumput kering yang mudah terbakar. Itu fakta sosiologis, yang sekuat apa pun upaya dilakukan, tak akan membawa banyak perubahan. Tinggal bagaimana memelihara rumput itu menjadi tetap hijau. Saling tumbuh-menumbuhkan satu sama lain.

Siapa yang harus memelihara? Itu tugas pemimpin negeri ini. Bukan tugas rakyat. Rakyat hanya rumput. Jika pemimpin menyiramkan air yang sejuk, hijaulah rumput itu. Tapi, kalau minyak yang diguyurkan, membaralah dia.

Guyuran itu adalah kebijakan pemerintah, ketegasan sikap, keberpihakan pada rakyat banyak, dan termasuk ujaran elit itu sendiri. Coba saja simak, ujaran sejumlah oknum politisi atau pejabat yang sama sekali tidak menunjukkan etika –atau bahkan tak mampu untuk sekadar memilih kata yang tak menyakitkan.

Jika pemerintah dan elit politik terus-menerus memproduksi kebijakan egoistik yang tidak berpihak pada rakyat dan negara, tidak punya rasa tenggang-menenggang, selalu menutup mata pada ketidakadilan, tak mampu mengurangi kesenjangan ekonomi dan sosial,  jangan berharap persaudaraan bisa tumbuh di bangsa ini.

Sebab sejarah konflik di negeri tak pernah mencatat permusuhan karena perbedaan. Konflik sosial selalu disebabkan ketidakadilan dan kesenjangan. Adanya sentimen primordial SARA yang menyertai setiap konflik memang tak bisa dibantah, tetapi bukan sebagai pemicu, melainkan hadir ketika api sudah menyala dan membuatnya kian berkobar.

Kebencian hanya tumbuh di atas ketidakadilan. Itu yang harus dipahami pemerintah. Jangan meminta rakyat memahami, karena rakyat harusnya dipahami. Itulah esensi kedaulatan rakyat. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here