Maulid Nabi, Jejak Agung Negarawan Dunia

0
266

Nusantara.news, Jakarta- Pada abad ke-6 Masehi, manusia paling mulia bernama Muhammad itu lahir ke bumi, di kota Makkah yang gersang. Setiap 12 Rabiul Awal, umat Islam di berbagai belahan dunia memperingati kelahirannya. Di hari kelahirannya itu, kisah Nabi Muhammad SAW dihidupkan kembali. Refleksi dan berbagai khotbah perihal sang Nabi menggema di banyak tempat (ibadah), juga ramai dibincang di media sosial. Seperti ada ghirah baru ‘menapaktilas’ jejak Nabi terakhir, pembawa risalah agama samawi.

Jejak-jejaknya dikenang, kitab-kitab yang memotret perjuangannya dibacakan penuh takzim seperti tergambarkan dalam senarai kitab maulid serupa Jawahir alNazm alBadi’ Fi Maulid alSyafi‘ karya Syeikh Yusuf al-Nabhani, Kitab alYumnu wa alIs’ad bi Maulid Khar al-‘Ibad karya Ibn Ja’far al-Kattani, Itmam alNi’mah ‘Ala al-‘Alam Bi Maulid Saiyidi Waladi Adam karya Ibn Hajar Al-Haitsami, dan alMaurid alHana ditulis al-Hafiz al-Iraqi.

Kitab-kitab lain tak kalah menarik soal sosok Muhammad SAW secara utuh, sebut saja di antaranya Husain Haikal dalam Hayat Muhammad (1935), Amir Ali lewat The Spirit of Islam (1922), Khawaja Kamaludin melalui The Ideal Prophet (1925), Hafiz Ghulam Sarwar mengeluarkan Muhammad the Holy Prophet (1949), dan Martin Lings menulis Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources (1983).

Tak heran, Michael H Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia. Muhammad SAW tak saja dikenal sebagai pemimpin umat Islam, tetapi juga seorang negarawan teragung, hakim teradil, pedagang terjujur, pemimpin militer terhebat, dan pejuang kemanusiaan tergigih. ‘’Ia satu-satunya orang yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama maupun duniawi,’’ ujar Hart.

Pun begitu, tradisi memperingati maulid Nabi Muhammad SAW tentunya tidak selesai sebatas ritual, atau berhenti pada bacaan belaka. Lebih dari itu, peringatan maulid Nabi merupakan momen untuk senantiasa menyegarkan kembali kesadaran umat Islam pada pentingnya menerapkan keteladanan Muhammad SAW dalam berbagai aspek kehidupan.

Dari berbagai aspek itu, rasanya kita perlu mengkaji keteladanan Nabi Muhammad dalam satu aspek kehidupan, yaitu aspek kehidupan bernegara seperti tertuang dalam Piagam Madinah. Sebab, di sana ada jejak dan petuah Rasul tentang tatanan masyarakat majemuk yang diraciknya secara apik dan mengundang decak kagum.

Piagam Madinah dan Kenegarawanan Muhammad

Mahakarya dan sumbangsih besar Muhammad pada peradaban dunia adalah Negara Madinah. Dalam Negara Madinah tersebut ditemukan elemen pemegang otoritas tertinggi seperti ditemukan dalam Pasal 23 Shahifah Madinah (Piagam Madinah) berbunyi:Wa innakum mahma ikhtalaftum fihi min syaiin fa inna maraddahu ilallahi azza wa jalla wa ila muhammadin shallallahu alaihi wa sallam (Apabila kamu berselisih tentang suatu perkara, penyelesaiannya menurut ketentuan Allah Azza wa Jalla dan keputusan Muhammad SAW).

Seperti diketahui, pada paruh kedua dari fase kehidupannya, Nabi memimpin negara-kota (city-state) al-Madinah al-Munawwarah (sebelumnya disebut Yatsrib) yang berpenduduk beragam. Ada kaum Muslim, yang terdiri atas golongan Anshar dan Muhajirin, kaum Yahudi, dan kaum Nasrani. Mungkin juga ada kaum-kaum lainnya yang jarang diungkap dalam sejarah.

Marshal G Hodgson dalam tulisannya yang bertajuk The Venture of Islam, mengungkapkan struktur politik yang dibangun Muhammad merupakan bangunan yang kini dikenal dengan sebutan negara, seperti negara-negara lain yang ada di sekeliling Jazirah Arab, lengkap dengan otoritas tata pemerintahan yang berdasarkan aturan hukum.

Untuk menjalankan roda pemerintahannya, Muhammad mengirim sejumlah utusan yang bertugas mengajarkan Al-Qur’an dan prinsip-prinsip Islam, mengumpulkan zakat, menindak tegas para pelanggar hukum tanpa pandang bulu, serta menengahi berbagai perselisihan demi menjaga perdamaian dan mencegah permusuhan. “Masyarakat Muhammad terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim dalam berbagai ragam derajat keanggotaan yang hidup berdampingan penuh toleransi,” tulis Hudson.

Dalam konteks kemajemukan itulah, Nabi Muhammad kemudian menginisiasi pembentukan sebuah dokumen tertulis yang dapat mengatur kehidupan kelompok masyarakat yang beragam tersebut. Lahirlah apa yang kemudian dikenal dengan Piagam Madinah sebagai sebuah aturan bersama, atau dalam istilah kemudian disebut konstitusi. Piagam Madinah terdiri dari 47 pasal yang intinya merefleksikan persamaan dan kebebasan bagi setiap anggota masyarakat tanpa membeda-bedakan etnis maupun agama.

Piagam Madinah, yang oleh sosiolog Robert N Bellah disebut konstitusi pertama dan termodern pada zamannya, bukan saja meletakkan aturan-aturan kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang demokratis, tetapi juga proses pembentukannya sendiri dilakukan secara demokratis. Piagam Madinah disusun pada tahun 622 M, nyaris 6 abad mendahului Magna Charta yang disepakti tahun 1215, dan hampir 12 abad mendahului Konstitusi Amerika Serikat ataupun Prancis.

“Piagam Madinah”, Konstitusi Tertulis Pertama di Dunia

Setelah membuat Piagam Madinah, Nabi kemudian mengumpulkan kepala-kepala suku yang ada di Madinah untuk bermusyawarah. Pada saat itu Nabi menawarkan konsepnya yang berinti pada tiga prinsip, yaitu: kebebasan (al-hurriyah), persamaan (al-musawat), dan persaudaraan (al-ukhuwwah). Ketiga prinsip tersebut bukan hanya diucapkan, melainkan benar-benar diwujudnyatakan dalam kehidupan masyarakat Madinah waktu itu.

Ketiga prinsip yang telah secara gemilang dipraktikkan di Madinah tersebut, ratusan tahun kemudian tumbuh dan berkembang di Eropa. Di Prancis, misalnya, seiring dengan momentum Revolusi Perancis 1789 muncul tiga kredo yang sama persis: liberté (kebebasan), egalité (persamaan), dan fraternité (persaudaraan). Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa baru pada abad ke-20 atau 1948 mengeluarkan the declaration of human rights.

Inilah kira-kira nilai-nilai penting yang telah diwariskan Nabi Muhammad kepada umatnya dan sangat relevan serta urgen untuk diterjemahkan ke dalam kehidupan kebangsaan dan kenegaraan di republik ini.

Karena itu, peringatan maulid Nabi sejatinya tidak membuat kita terperangkap dalam romantisme historis, tetapi justru menjadikan kita lebih melek terhadap berbagai pelanggaran atas kemajemukan di negeri ini. Saatnya berhenti saling menegasikan, adu domba, dan mengujar kebencian.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here