May Day: Kapan Adanya Hari Buruh Nasional?

0
145

Nusantara.news, Jakarta – Tanggal 1 Mei selalu diperingati oleh kaum buruh di hampir seluruh negara di dunia sebagai hari buruh internasional, atau biasa disebut May Day. Indonesia dulu juga pernah memperingati hari tersebut, tetapi dihapuskan di masa Orde Baru. Belakangan, setelah Orde Baru tumbang, hari tersebut mulai diperingati dan mulai terdengar desakan kepada pemerintah untuk menetapkan 1 Mei sebagai hari buruh dan menjadikannya sebagai hari libur resmi.

May Day itu sebenarnya untuk mengenang  hari pemogokan  sekitar 350.000 orang buruh yang dilakukan oleh serikat buruh Amerika Serikat sejak April 1886. Pemogokan terjadi  dengan tuntutan waktu kerja delapan jam sehari. Slogan mereka ketika itu antara lain “delapan jam kerja, delapan jam istirahat, delapan jam rekreasi”.

Ketika itu, para buruh di Amerika memang diharuskan bekerja dengan waktu kerja yang panjang. Perjuangan untuk meminta pengurangan jam kerja itu sudah dimulai sejak belasan tahun sebelumnya, dan keinginan untuk pengurangan jam kerja itu sudah terasa sejak kemerdekaan Amerika Serikat.

Ada dua tokoh buruh yang dianggap sebagai motor pergerakan menuntut pengurangan jam kerja itu, yakni Peter McGuire dan Matthew Maguire,  pekerja mesin dari Paterson, Negara Bagian New Jersey.

Dia juga berusaha melakukan pendekatan dengan pemerintah agar menetapkan tuntutan mereka sebagai peraturan resmi negara. Di kalangan pengusaha, dan juga di mata sebagian aparat pemerintah, pekerja keturunan Irlandia itu dianggap sebagai pengganggu ketertiban.

Untuk meluaskan sayap pendukungnya, pada tahun 1881 McGuire pindah ke St. Louis, Missouri. Di sana  meyakinkan para buruh untuk membentuk organisasi demi mencapai tujuan bersama. Dukungan buruh di Missouri pun didapatkan, dan mereka sepakat membentuk serikat buruh perkayuan, United Brotherhood of Carpenters and Joiners of America. McGuire ditunjuk sebagai sekretaris jenderal.

Kembali ke soal pemogokan di Chicago pemogokan tanggal 1 Mei 1886 tadi, pada hari itu praktis semua kegiatan ekonomi dan industri di banyak negara bagian Amerika Serikat lumpuh. Pada hari kedua aksi mogok, terjadilah kerusuhan.

Ketika pasukan polisi berusaha membubarkan aksi demo di lapangan Haymarket di kota Chicago, seseorang yang tak dikenal tiba-tiba melemparkan sebuah bom ke tengah barisan polisi. Puluhan polisi terluka akibat ledakan. Akibatnya polisi dengan membabi buta menembaki para pengunjuk rasa. Puluhan orang tewas di tempat kejadian, dan ratusan orang lainnya mengalami luka-luka.

Penyelidikan polisi tidak dapat menemukan siapa pelaku pelemparan bom tadi. Akibatnya, polisi menangkap delapan pemimpin aksi sebagai penanggungjawab dan menetapkan mereka sebagai tersangka. Kedelapan orang ini dikenal sebagai pemimpin buruh terkemuka di Chicago. Padahal ketika kerusuhan itu terjadi, hanya satu orang di antara mereka yang langsung berada di tempat kejadian.

Kedelapan tokoh buruh itu lalu diseret ke pengadilan, dan dijatuhi hukuman mati.

Berita tentang hukuman para pemimpin buruh di Chicago itu kontan tersiar ke seluruh dunia, dan menuai protes dari berbagai serikat buruh di banyak negara. Tahun 1889 Sosialisme Internasional pun kemudian menyatakan 1 Mei sebagai hari demonstrasi, dan sejak tahun 1890 pun tanggal 1 Mei untuk pertama kalinya dirayakan sebagai Hari Buruh Internasional.

Tetapi,   peristiwa yang terjadi di Amerika Serikat dan diperingati secara internasional itu, di negeri asalnya sendiri justru tidak diperlakukan sebagai hari yang istimewa.

Buruh Amerika memilih hari libur nasionalnya pada Senin pertama setiap bulan September. Tanggalnya bisa berubah-ubah. Awal September itu bukannya tidak memiliki arti khusus bagi kaum buruh Amerika. Empat tahun sebelum mogok di Chicago, pada 5 September 1882 diadakan aksi demonstrasi sekitar 25 ribu orang buruh di New York.

Inilah demonstrasi pertama untuk menuntut pengurangan jam kerja. Duet McGuire dan Maguire menjadi inspirator sekaligus organisator dalam kegiatan ini.

Selain itu, alasan lain di balik pemilihan Senin pertama September adalah karena hari itu berada di antara peringatan Hari Kemerdekaan pada bulan Juli dan Thanksgiving Day pada bulan November. Pada tahun 1894, Pemerintah Negara Bagian Oregon menetapkan Senin pertama September itu sebagai hari libur umum 1894.

Oregon menjadi negara bagian pertama yang menetapkan ketentuan tersebut. Dan beberapa tahun kemudian, Presiden Grover Cleveland menandatangani Undang-undang yang menetapkan hari Senin pertama September sebagai hari libur umum nasional di seluruh Amerika Serikat dan Puerto Rico.

Kalau diperhatikan, mengapa Senin pertama September dan bukannya 1 Mei yang diperingati di Amerika, ada beberapa tafsiran yang dapat dilakukan. Hari 1 Mei, karena menimbulkan korban jiwa yang tidak sedikit, seolah mengandung semangat militansi yang kuat. Karena para aktifis buruh itu berani melakukan perlawanan fisik kepada penguasa untuk mencapai tujuannya.

Momen bersejarah dengan semangat militansi (dan sekaligus bisa memancing emosi) itu menjadi alasan kuat mengapa gerakan sosialisme internasional mengambilnya untuk menjadi hari buruh internasional. Dan militansi itu adalah modal yang sangat berharga untuk melakukan perlawanan terhadap kaum pemilik modal (kapitalis).

Sementara bagi sebagian buruh Amerika, bukan militansi itu an sich yang menjadi menjadi substansi dari gerakan mereka. Tuntutan untuk pengurangan jam kerja adalah bagian dari perjuangan untuk mendapatkan kesejahteraan, sama halnya dengan tuntutan kenaikan gaji dan sebagainya.

Meski hari libur nasional setiap Senin pertama September sudah menjadi keputusan pemerintah yang ditetapkan dengan Undang-undang, toh sebagian lain buruh Amerika, terutama yang beraliran militan, tetap memperingati 1 Mei. Bahkan ketika itu, Partai Komunis Amerika menjadi sponsor utama peringatan May Day tersebut.

Aroma pertarungan ideologi politik di balik pemilihan antara 1 Mei atau Senin pertama September ini memang sangat kental. Apalagi beberapa puluh tahun kemudian,  seusai Perang Dunia II, Amerika terlibat perang dingin dengan Uni Soviet dan negara-negara blok komunis. Pada tahun 1947, organisasi veteran Perang Dunia Amerika mengusulkan kepada pemerintah agar 1 Mei diperingati sebagai Hari Kesetiaan Nasional.

Tidak diketahui, momen bersejarah apa yang terjadi pada tanggal itu sehingga dikaitkan dengan masalah kesetiaan nasional. Yang jelas, pemerintah mengabulkan tuntutan itu. Hari kesetiaan itu baru mendapatkan “cantelan” ketika Amerika terlibat dalam Perang Vietnam.

Keterlibatan Amerika dalam Perang Vietnam itu ditentang oleh sebagian masyarakat, sehingga dukungan digalang dengan Hari Kesetiaan. Sehingga di masa awal penetapannya sebagai Hari Kesetiaan Nasional, kelihatan sekali bahwa pemilihan tanggal itu memang dimaksudkan untuk menandingi peringatan hari buruh pada 1 Mei yang saat itu masih dilaksanakan oleh aktivis buruh beraliran kiri.

Lalu, bagaimana dengan buruh Indonesia?

Kalau buruh Indonesia hendak ikut memperingati atau tidak memperingati 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional, sepenuhnya bergantung pada sikap masing-masing. Siapa pun berhak menentukan pilihannya sendiri.  Namun, yang penting dipahami adalah esensi di balik peringatan tersebut. Militansi gerakan buruh yang tersirat di balik May Day itu mesti diwujudkan dalam bentuk energi yang positif.

Militansi kaum buruh itu seharusnya menjadi sumber kekuatan untuk meningkatkan perjuangan mencapai keadilan dan kesejahteraan. Perjuangan kaum buruh mesti menjadi satu kesatuan dengan perjuangan bangsa ini meraih kehormatannya sebagai bangsa yang berdaulat. Sebab, buruh adalah bagian dari bangsa ini, seperti juga kaum pengusaha, pemerintah dan elemen bangsa lainnya. Semua elemen itu mempunyai tanggungjawab yang sama, meski dalam bentuk dan penerapan yang berbeda-beda.

Kaum buruh Indonesia tidak semestinya menjadi komunitas egoistik yang hanya berjuang untuk dirinya sendiri serta terpisah dari perjuangan bangsa secara keseluruhan. Kesadaran dan komitmen untuk saling bersinergi ini tentu saja tidak mungkin dilakukan oleh kaum buruh saja. Para pengusaha, pemerintah serta elemen bangsa yang lain juga mesti mempunyai kesadaran dan komitmen serupa, agar masing-masing kekuatan dan potensi yang dimiliki dapat saling bersinergi secara positif menjadi kekuatan bersama.

May Day adalah hari kemenangan, karena lewat aksi 1 Mei 1886 di Chicago itu, buruh Amerika berhasil mewujudkan tuntutan mereka tentang bekerja delapan jam sehari, perbaikan mekanisme pengupahan dan sebagainya.

Bagaimana dengan Indonesia? Penetapan suatu hari untuk menjadi hari peringatan biasanya berkaitan erat dengan memori kolektif masyarakat yang memperingatinya. Indonesia belum mempunyai tanggal tertentu untuk diperingati sebagai hari buruh nasional.

Indonesia juga punya tanggal historis, misalnya tanggal 1 Agustus 1920 ketika Persatoean Pergerakan Kaoem Boeroeh (PPKB) yang didirikan H. Agus Salim, Soerjopranoto dan Semaoen, mengadakan kongres di Semarang. Atau tanggal 14 November 1908 ketika Semaoen dan Sneevliet mendirikan Vereeniging van Spoor- en Tramweg Personeel in Nederlandsch-Indie (VSTP).

Memang, di kedua peristiwa itu ada nama Semaoen, tokoh komunis generasi awal di Hindia Belanda. Berat memang bagi pemerintah untuk menetapkan tanggal terjadi peristiwa di mana tokoh komunis itu menjadi figur utama di dalamnya.

Sebenarnya sudah ada penetapan Hari Pekerja Indonesia, yakni 20 Februari, yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden No. 9 tahun 1991 tentang Hari Pekerja Indonesia yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto. Namun, itu adalah hari lahirnya Federasi Serikat Buruh Indonesia, 20 Februari 1973.  FBSI adalah gabungan 21 serikat buruh, 21 serikat  buruh (vak sentral) yang terintegrasi dan terorganisir ke dalam 21 Serikat Buruh Lapangan Pekerjaan (SBLP) yang bersifat sektoral.

Masalahnya pula, pascareformasi, terdapat puluhan serikat buruh. Sehingga mereka tak mau mengakui tanggal 20 Februari itu sebagai hari buruh nasional. Sebab, FBSI yang sekarang menjadi Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) hanya salah satu dari sekian banyak serikat buruh itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here