MEA Jadi Arena Ujian Bagi Industri Kreatif Jatim

0
101

Nusantara.news, Surabaya – Salah satu ketahanan ekonomi bangsa Indonesia yang ampuh teruji pada krisis global di akhir abad ke-20 adalah industri kreatif dan turunannya. Belajar dari sejarah itu, suka atau tidak suka banyak kepentingan asing yang mencoba untuk menggoyahkan kekuatan itu. Termasuk mencoba dengan bersaing di pasar terbuka dengan memanfaatkan zona perdagangan bebas (FTA) 2013 serta Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016 yang juga melibatkan negara-negara mitra di luar Asia Tenggara.

Dua perjanjian itu sejauh ini belum mampu mendongkrak secara signifikan omzet industri kreatif di jawa Timur yang mayoritas dilakukan dalam sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Padahal melalui sektor ini, serbuan salah satu unsur virus 3 F (food, fashion, film) yang kini menggejala di generasi muda bangsa setidaknya bisa diredam. Sebab melalui hasil produk UMKM, pelaku usaha setidaknya masih bisa pertahankan khasanah budaya lokal melalui motif yang dia pertahankan.

Seperti yang dilakukan Sri Rahayu. Sejak mulai usaha pada 2010, ibu dua anak ini baru bisa menemukan pasar setelah produk dompet sulam pitanya menarik perhatian pengunjung Ina Craft pada 2014. “Setelah belajar menuruti selera pasar, baru muncul banyak ide untuk produksi lebih banyak,” terangnya kepada nusanatara.news.

Kini,  upaya itu mulai membuahkan hasil. Stragegi pemasaran dengan memanfaatkan media sosial cukup menunjang penyebaran produk home made ‘sulampita’, brand yang diciptakan Yayuk panggilan akrabnya, selain manfaatkan program yang digelar rutin Pemerintah Kota Surabaya.

Hanya saja, kini Yayuk maupun pelaku UMKM lainnya was-was dengan membanjirnya produk serupa bikinan negara-negara peserta FTA maupun MEA. Kendati dengan kualitas lebih rendah, produk itu membanjiri pasar industri kreatif di Jawa Timur maupun Surabaya tentu diiringi embel-embel harga lebih murah.

“Sebenarnya kami (pelaku UMKM) sudah punya cara tersendiri untuk perkuat daya saing dengan produk impor. Seperti menampilkan produk dengan motif muatan lokal. Misal edisi Semanggi Surabaya sulampita yang menjadi juara satu kategori pahlawan ekonomi yang digelar Surabaya tahun ini,” terangnya.

Selain itu, perbaikan kualitas terus dilakukan dengan dibarengi garansi kerusakan kendati tidak semua pelaku usaha memberikan. “Tapi yang paling dicari adalah edisi istimewa karena dibuat terbatas. Satu motif untuk satu atau lima item per edisinya. Keuntungan dalam bisnis kreatif ini juga bukan untuk diri saya sendiri. Prinsip mitra membuat struktur kerja kami tidak ada bos dan karyawan. Jadi dengan omzet 40 juta setahun ya itu yang kita nikmati sama rata,” sebutnya.

Tentu keuntungan itu akan semakin mengecil jika tidak ada perlindungan dari pemerintah. Hal ini yang sangat diharapkan pelaku UMKM. “Ini identitas budaya bangsa kita sendiri. Kita harus jadi tuan dan nyonya di negara sendiri. Karena itu, kebijakan pemerintah sangat kami perlakukan untuk melindungi UMKM,” sebut wanita penyuka adventure ini.

Mengacu harapan itu, seluruh stake holder dari kota/kabupaten hingga pusat harus punya aturan terintegrasi yang mampu melindungi industri UMKM. Upaya yang dapat dilaukan antara lain adalah  kebijakan pembatasan dan kontrol produk impor yang akan masuk ke Indonesia. “Juga kalau bisa cari format kampanye agar bangga memakai produk dalam negeri sebagai bentuk nasionalisme kita,” tegasnya.

Harapan ini sangat logis jika dikaitkan dengan sumbangsih sektor UMKM pada PDRB Jawa Timur. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur hingga 2013 yang dikeluarkan tahun ini, sektor UMKM setidaknya membuka pertumbuhan lapangan kerja baru 6,03 persen dengan nilai ekspor mencapai 9,29 persen dari total nilai ekspor Jatim. Hal ini lantaran terdapat 57.895.721 unit UMKM di Jatim. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here