Mega Cegah Jokowi Hadiri Acara The Yudhoyono Institute?

0
292

Nusantara.news, Jakarta –  Acara peresmian The Yudhoyono Institute di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta Pusat, Kamis (10/8/2017) malam tadi sempat menjadi perhatian publik. Meskipun Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang merupakan putera mahkota Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengklaim acara itu tidak terkait dengan urusan politik, namun aura politik sangat terasa sebelum dan selama acara itu berlangsung.

Mengapa publik menangkap kesan ada agenda politik dibalik acara itu?

Pertama, momentum peresmian The Yudhoyono Institute tidak lama setelah SBY menggelar pertemuan dengan Ketum Gerindra Prabowo Soebianto di kediaman SBY di Cikeas, Jawa Barat.

Saat itu, pertemuan keduanya sambil menyantap nasi goreng, keduanya membahas soal besaran presidenthial threshold (PT) yang menjadi persyaratan partai poltik mengusung calon presiden/wakil presiden pada Pemilu 2018 nanti. Dikatakan ibarat sambal menyantap nasi gioreng karena keduanya tidak memiliki cukup ruang untuk bermanuver lebih jauh karena dari empat partai yang tersisa yakni Demokrat, PKS, PAN dan Geridnra hanya dimungkinkan mengusung satu pasng calon. Siapa yang akan diusung?

Alhasil, diplomasi nasi goreng itu membuahkan analisa kemungkinan Prabowo akan diduetkan dengan AHY berhadapan dengan duet Jokowi – Puan pada Pilpres 2019 nanti.

Kedua, beberapa jam sebelum peresmian The Yudhoyono Institute, AHY menyambangi Istana untuk mengundang Jokowi agar bersedia hadir dalam acara tersebut. Dalam pertemuan itu, AHY ditemui Jokowi dan Gibran Rakabuming, putera Sulung Jokowi. Gibran bahkan sempat memasak gudeg dan bubur lemu untuk AHY.

Usai pertemuan, AHY mengungkapkan isi pertemuan tersebut. Menurutnya, Jokowi hanya menyampaikan harapan agar komunikasi politik nasional khususnya antar tokoh bangsa tetap dijaga berjalan dengan baik.

“Tentu saja termasuk komunikasi Pak Presiden dan Pak SBY dapat dijalin dengan baik,” tutur AHY.

Dalam pandangan AHY, hubungan Jokowi dan SBY memang cukup dinamis, karena itu wajar jika terkadang ada perbedaan sikap politik, antara ayahnya dan Jokowi. Dan, dalam berdemokrasi perbedaan itu tidak diharamkan. Contohnya, kritik keras SBY terhadap sikap pemerintah mengenai ketentuan PT dalam Undang-Undang Pemilu.

Dengan alasan itu, maka tampaknya sulit untuk mengatakan bahwa tidak ada kepentingan politik di balik The Yudhoyono Institute.

Apa agenda politik dibalik itu? Kemungkinan besar terkait dengan pesta demokrasi lima tahunan yang akan digelar 2019 nanti.

Mengapa Jokowi Tak Hadir?

Pertemuan AHY dan Jokowi yang didampingi Gibran di Istana sekitar satu setengah jam berlangsung santai dan penuh kekeluargaan. Sambil menyantap hidangan yang dimasak khusus oleh Gibran, AHY menyampaikan salam hormat keluarganya khususnya sang ayah kepada Jokowi dan keluarga.

Layaknya orangtua kepada anak, Jokowi pun memberi wejangan kepada AHY dan Giibran agar bisa menjadi teladan pemersatu bangsa. Tak lupa Jokowi menyampaikan dukungan dan selamat atas rencana pembukaan The Yudhoyono Institute.

Namun, sayangnya Jokowi yang sangat diharapkan kehadirannya dalam acara tersebut, ternyata tak bisa hadir. Jokowi beralasan, ada acara lain yang tak kalah pentingnya untuk dihadiri.

Padahal, acara yang tentu dihadiri SBY dan Nyonya Ani Yudhoyono, anak bungsu SBY, Edhi Baskoro Yudhoyono atau Ibas dan istri, juga tampak sejumlah tokoh. Antara lain  mantan Wakil Presiden Boediono, elit Partai Demokrat seperti Wakil Ketua Umum Roy Suryo dan Sekretaris Jenderal Hinca Panjaitan.

Juga tampak sejumlah menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB), seperti Hatta Rajasa, Marie Elka Pangestu, dan Andi Alifian Mallarangeng.

Selain itu, terlihat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakara terpilih, Anies Baswedan.

Sedangkan yang mewakili keluarga mantan Presiden Soekarno hadir Rachmawati Soekarnoputri dan Sukmawati Soekarnoputri. Puteri mantan Presiden ke-4 Abdurachman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid, serta perwakilan TNI, Polri, serta sejumlah diplomat asing juga hadir dalam acara itu.

Andaikan Jokowi dan Gibran Rakabunming hadir dalam acara itu maka lengkaplah acara itu menjadi silaturahmi antara pemimopjn bangsa dan generasi penerusnya.

Karena itu mengapa Jokowi tidak hadir? Mungkinkah Jokowi tidak hadir karena dicegah Megawati Soekarnoputri? Pertanyaan ini wajar dikemukakan karena Megawati memang memiliki pengalaman yang kurang baik dengan SBY. Megawati dalam beberapa acara bahkan coba menghindar bertemu SBY.

Jika menengok ke belakang, hubungan Megawati dan SBY sudah mulai kurang harmonis sejak SBY yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) menang dalam Pilpres 2004. Saat itu selain SBY-JK, ada empat pasangan lainnya yakni Hamzah Haz-Agum Gumelar, Amien Rais-Siswono Yudohusodo, Wiranto-Salahuddin Wahid serta Megawati – Hasyim Muzadi. Megawati sebagai capres incumbent kalah dari SBY dalam gelaran pilpres secara langsung untuk pertamakalinya itu.

Menjelang Pilpres 2004, suhu politik cukup tinggi. Isu-isu seputar Istana pun mencuat ke publik. Salah satu isu yang hangat saat itu adalah SBY yang menjabat Menko Polkam dikucilkan dari kabinet. Suami Megawati Taufik Kiemas (TK) berang dan menuding SBY sengaja menyebarkan isu itu kepada media. Bahkan TK sempat menyebut SBY yang menyandang pangkat Jendral (TNI) seperti anak kecil, karena mengadu ke wartawan hanya karena tidak diikutkan dalam rapat kabinet.

Namun, pernyataan TK itu justru menjadikan SBY sosok yang dizalimi sehingga mendapat simpati dari masyarakat. Hasilnya, SBY mengalahkan Megawati dalam Pilpres 2004.

Sejak itulah, hubungan Megawati SBY sangat tidak harmonis. Selama SBY menjabat presiden dua periode sejak 2004 – 2014, Megawati tak pernah menghadiri undangan acara kenegaraan di Istana, termasuk perayaan 17 Agustus atau HUT RI.

Guru besar Universitas Pelita Hatapan, Prof. Tjipta Lesmana menggambarkan buruknya hubungan kedua tokoh politik itu dalam sebuah bukunya berjudul “Dari Soekarno Sampai SBY : Intrik & Lobi Para Penguasa”.

Tjipta menulis, “Di mata Megawati, Susilo Bambang Yuhoyono tidak lebih seorang pengkhianat, bahkan seorang Brutus yang sadis,” (hal 303).

Ini semua karena sikap “diam-diam” SBY yang mencalonkan diri sebagai Presiden pada Pemilu 2004. SBY dinilai tidak jantan. Beberapa kali Megawati bertanya kepada SBY apakah akan maju dalam Pemilu 2004. Dengan diplomatis SBY menjawab, “Belum memikirkan soal itu, Bu. Saya masih konsentrasi dengan tugas selaku Menteri Koordinator Politik dan Keamanan.” (hal 288).

Masih dalam buku yang sama, Tjipta menuliskan, saat pelantikan SBY di Gedung MPR pada 20 Oktober 2004 Megawati tidak hadir, padahal banyak orang dekat membujuknya datang. Semua orang juga tahu, pagi itu Megawati bahkan tidak duduk di depan pesawat televisinya, tapi sibuk berkebun.

Menurut penuturan Roy BB Janis, kegusaran dan kebencian Megawati diartikulasikan dalam rapat DPP PDI-P. “Kalau orang lain, Amien Rais presiden, Wiranto presiden, siapalah, saya datang. Namun, kalau ini (SBY) saya enggak bisa karena dia menikam saya dari belakang,” begitu kata Megawati seperti ditirukan Roy (hal 289).

Ketidakharmonisan Megawati dan SBY juga terekam dalam sejumlah peristiwa, seperti Megawati yang tak pernah hadir dalam acara pernikahan AHY maupun Ibas.

Bahkan, Megawati tak hadir dalam akad nikah putera ketiga Rachmawati Seokarnoputri bernama Muhammad Mahardhika Soeprapto dengan Ade Pinka Saskia Waroka. Keluarga besar Soekarno seluruhnya hadir di acara yang digelar di rumah kediaman almarhumah Fatmawati di Cilandak, Jaksel pada tahun 2006 itu, kecuali Megawati. Entah apa alasan ketidakhadiran Megawati, namun yang pasti saat itu Presiden SBY menjadi saksi mempelai pria.

Sikap yang sama juga ditunjukkan Megawati saat pernikahan putri bungsu Sri Sultan Hamengkubuwono X, Gusti Kanjeng Ratu Bendara dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegoro atau Ahmad Ubaidillah di Keraton Yogyakarta pada Oktober 2011.

Seolah menghindar, rombongan Megawati baru tiba setelah rombongan SBY pergi  meninggalkan lokasi acara pernikahan.

Kembali ke soal ketidakhadiran Jokowi pada acara peresmian The Yudhoyono Institute, bisa jadi karena Jokowi tahu diri dan khawatir hal ini bisa menyinggung perasaan Megawati?

Apa pun alasannya, jika Jokowi hadir dalam peresmian The Yudhoyono Institute, maka acara itu akan menjadi ajang silaturahmi nasional yang bisa menjadi teladan bagi generasi mendatang.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here