Megawati Mundur, PDIP Hancur?

0
263

Nusantara.news, Jakarta – Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengutarakan niatnya ingin pensiun. Ia mengaku sudah lama berkecimpung di dunia politik, sehingga perlu adanya regenerasi kepemimpinan. Pernyataan itu disampaikan Mega dihadapan 120 calon legislatif Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Jakarta.

“Saya jadi ketum partai yang paling senior. Sudah sekian lama belum diganti-ganti, padahal saya sudah sekian lama berharap diganti, karena umur saya yang sudah plus 17 (maksudnya 71 tahun),” kata Megawati di kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis 15 November 2018.

Pernyataan Megawati yang ingin pensiun dari jabatan Ketua Umum PDIP yang dipimpinnya selama 25 tahun (1993 – 2018) ini sebenarnya bukan kali pertama. Lima hari sebelumnya, puteri Bung Karno itu juga menyampaikan hal serupa di hadapan Pengurus Pusat dan anggota Purna Paskibraka Indonesia (PPI) saat menerima Lifetime Achievement Bhakti Teratai Putra Indonesia pada Hari Pahlawan 10 November 2018 lalu. Sebelumnya lagi, untuk pertama kalinya, Megawati melontarkan keinginan pensiun dari posisi “PDIP-1” saat memberi arahan dalam HUT ke-17 Banteng Muda Indonesia (BMI) di Menteng, Jakarta, 30 Maret 2017.

Sontak kata-kata Mega ini menimbulkan banyak pertanyaan lanjutan dan spekulasi terkait keinginannya untuk mengundurkan diri dari panggung politik nasional, baik dari internal maupun eksternal partai. Akan seperti apakah partai yang ia pimpin itu pasca pengunduran dirinya? Apakah warisan politik Soekarno akan selesai begitu saja?

Siapa Figur PDIP-1 Selepas Megawati?

Kembali ke keinginan pensiun Megawati, tidak jelas apakah ucapan puteri Bung Karno ini sekadar lips service atau sungguh-sungguh karena melihat pentingnya regenerasi di tubuh partai moncong putih tersebut. Namun terlepas dari itu, sejumlah nama disebut-sebut layak menggantikan posisi Megawati jika ia “lengser keprabon”.

Nama-nama yang pernah muncul sejak wacana ‘pensiun’ Megawati diutarakan pertama kali pada 2017 lalu, di antaranya: Prsiden Joko Widodo (Jokowi), Gubernur Jawa Tegah Ganjar Pranowo, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan Sekjen PDIP Hasto Krsitiyanto. Tapi, Hasto ketika itu menepis rumor itu dan menegaskan bahwa penerus tahta PDIP harus trah Soekarno. Ucapan ini sebenarnya secara implisit merujuk pada trah Soekarno dari keturunan Megawati, darah sang ketua umum.

Di luar itu, beberapa nama seperti Jokowi dan Risma masih dianggap “anak kost” di PDIP. Artinya bukan kader tulen yang merintis dari bawah dan sejak awal di PDIP. Jokowi dan Risma tercatat sebagai kader yang bergabung ke PDIP “di tengah jalan” karena terkait dengan proses kandidasi di pemilihan kepala daerah.

Oleh karena itu, masuk akal jika beberapa faksi di internal PDIP menginginkan pengganti Mega haruslah seseorang yang masih memiliki darah Soekarno. Dari keturunan Megawati sendiri ada sang putri Puan Maharani dan sang putra Prananda Prabowo. Keduanya digadang-gadang menjadi sosok yang paling mungkin menggantikan sang ibu jika pensiun nanti.

Selain itu, ada pula nama Puti Guntur Soekarno yang adalah putri dari Guntur Soekarno – kakak tertua Mega. Puti juga dianggap mewarisi karisma politik Soekarno, bahkan oleh beberapa pihak dinilai lebih baik dibandingkan Puan dan Prananda.

Puan Maharani (Puteri dari Megawati), Presiden Joko Widodo (tengah), dan Megawati Soekarno Putri (kanan) tengah berbincang

Namun, nama-nama trah Soekarno pelanjut kepemimpinan Megawati di PDIP tersebut memiliki kapasitas sekelas Megawati yang dikenal punya insting politik dan pengalaman yang mumpuni? Hingga sejauh ini, ketokohan nama-nama itu masih belum cukup memadai. Apalagi secara pengaruh, PDIP sepertinya masih akan tetap bergantung pada wibawa Megawati, utamanya dalam menjaga elektabilitas partai dan loyalitas pendukungnya.

Untuk ukuran PDIP, wibawa politik itu menjadi sangat penting mengingat partai ini sejak kelahirannya bertumpu pada kekuatan figur. Embel-embel “Soekarnoputri/putra” yang disematkan di belakang nama Megawati dan penerusnya nanti, dipandang sebagai perekat emosi, kesadaran, dan motif bagi para pendukungnya. Tentu saja, mesin politik dan kepiawaian Megawati menjadi satu faktor lainnya yang menempatkan partai ini merajai pemerintahan.

Figur Megawati seolah menjadi satu-satunya representasi politik dan ideologi trah Bung Karno yang mendapat ‘legitimasi’ dari pengikut marhaenis-Soekarnois. Dalam konteks kekuasaan Mega di PDIP, memang sesuai dengan konsep pemimpin karismatik yang dikemukakan oleh Max Weber. Weber menyebutkan bahwa seseorang dengan karisma tertentu membuat ia dianggap berbeda dari orang kebanyakan dan dipandang memiliki kualitas supranatural, manusia super, atau kemampuan-kemampuan yang membuat dirinya dikagumi dan mampu menggerakkan orang banyak.

PDIP punya karisma kepemimpinan itu sebagai warisan dari Soekarno. Artinya karisma kepemimpinan itu bukan datang dari Mega sebagai personal saja, tetapi dari warisan ideologis sekaligus biologis ayahnya. Pendek kata, dalam keluarga Bung Karno, Megawati-lah yang paling “dipercaya” oleh publik sebagai penerus ajaran Bung Karno.

Trah Bung Karno lainnya, atau saudara kandung Megawati seperti Sukmawati Soekarnoputri dan Rachmawati Soekarnoputri, bukan tidak pernah membangun sentimen ‘ajaran’ Soekarno untuk membangun basis massa dan mencoba mendirikan partai politik, tetapi tidak semujur Megawati.

Sukmawati pernah menghidupkan kembali Partai Nasional Indonesia (PNI) “milik” ayahnya, Soekarno, pada 2002 melalui PNI Marhaenisme. Pada waktu yang sama, Rachmawati Soekarnoputri pun membentuk partai berbeda, Partai Pelopor. Namun Rachmawati mundur pada 2007 dan kemudian bergabung dengan Partai Nasional Demokrat. Kini, Rachma merapat ke Partai Gerindra sebgai wakil ketua umum.

Nyatanya, partai yang dibentuk kedua adik perempuan Megawati itu kalah pamor dengan PDIP dan akhirnya vakum. Sedangkan saudara kandung Mega lainnya, Guntur dan Guruh, tak cukup kuat mewarisi ‘gen’ politik Soekarno. Sebab itu, posisinya sebagai ketua umum di PDIP tampaknya akan sulit tergantikan meskipun penggantinya dari trah Soekarno sekali pun.

Di luar lingkaran trah Bung Karno, juga ada beberapa tokoh eks-PDIP yang tak sejalan lagi dengan Megawati di PDIP mencoba mengarak panji politik Soekarno dan mementuk partai baru beraliran marhaen. Sebut saja, Roy BB Janis dan Laksamana Sukardi (Partai Demokrasi Pembaharuan), Eros Djarot (Partai Nasional Banteng Kemerdekaan), dan kelompok Dimyati Hartono(Partai Tanah Air Kita/PITA). Akan tetapi, jualan mereka ‘gagal total’.

PDIP Hancur Selepas Mega?

PDIP memang punya kaderisasi dan proses organisasi yang sangat jelas. Namun, untuk pucuk kekuasaan partai, semuanya masih sangat bergantung pada satu sosok kunci yang memegang kendali utama, bahkan memiliki hak veto. Terkait hal tersebut, Ulla Fionna and Dirk Tomsa dari ISEAS – Yusof Ishak Institute, menyebut Megawati bahkan “mengamankan” kekuasaannya di internal partai dengan “menyingkirkan” elite-elite partai yang berpotensi menantang kekuasaannya. Dorongan-dorongan untuk membuat internal partai lebih egaliter pada akhirnya menghilang dengan sendirinya.

Usaha “melawan” Megawati di era reformasi bukan tidak ada yang melakukan. Seperti telah disinggung sebelumnya, sekurang-kurangnya mereka adalah Roy BB Janis, Laksamana Sukardi, Eros Djarot, dan kelompok Dimyati Hartono. Mereka adalah kader yang melawan dominasi. Namun, agaknya, usaha menantang Megawati yang sudah telanjur powerfull itu tak berarti apa-apa. Terakhir, Boy Sadikin (Ketua DPW PDIP Jakarta) yang mencoba melawan titah Megawati mendukung Ahok dalam Pilgub DKI 2017, juga terlempar.

Bukan tidak mungkin, perlawanan serupa akan muncul pasca Megawati lengser. Mengingat di tubuh partai ini, terdapat banyak “macan politik” yang berpotensi saling terkam yang bisa berujung pada perpecahan, sepeninggal induknya. Di sinilah hebatnya Megawati, dengan posisinya sebagai solidarity maker’s partai, ia mampu membawa PDIP menjadi partai yang solid. Meskipun, ujian kesolidan PDIP itu tentu baru akan terbukti dan masih harus kita lihat setelah dia tidak lagi memimpin partai.

Yang jelas, tantangan PDIP ke depan adalah terkait ‘ketergantungannya’ pada personalized party atau partai yang memiliki sosok sentral, dalam hal ini Megawati. Tantangan serupa juga terjadi di beberapa partai lain yang masih menganut personalized party, seperti Gerindra dengan sosok Prabowo Subianto, Demokrat dengan figur Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Nasdem dengan tokoh Surya Paloh, dan Perindo dengan ‘bos’ Hary Tanoesoedibjo. Bedanya, PDIP dinilai masih memegang teguh ideologi partai selain faktor ketokohan Megawati. Sementara Nasdem, Gerindra, Demokrat, dan Perindro dianggap hanya bertumpu pada tokoh sentral dan belum disatukan oleh faktor ideologi.

Partai model personalized party yang tak punya akar ideologi yang kuat ini diprediksi akan mudah bubar manakala kehilangan tokoh sentralnya. Khusus PDIP, mungkin tidak akan semudah itu bubar sebab mereka masih punya ikatan ideologi yang sama sebagai pemersatu. Yang paling bisa ditebak, kemungkinan PDIP akan dilanda kegoncangan internal yang luar biasa, bahkan bisa pecah ke dalam banyak faksi (termasuk partai-partai baru pecahan PDIP). Ujungnya, PDIP terancam jadi partai kecil.

Tampaknya, PDIP dan partai medel personalized party lainnya perlu belajar dari PKB dan PAN. Di awal-awal masa reformasi, Gus Dur dan Amien Rais adalah tokoh paling berpengaruh. Amien Rais mendirikan PAN, dan Gus Dur mendirikan PKB. Namun perlu dicatat, ketika Amien dan Gus Dur usai memimpin partainya dan digantikan generasi baru, baik PAN maupun PKB hingga sekarang masih eksis dan relatif stabil. Perolehan suaranya pun cenderung naik. Letupan konflik kecil di kedua partai itu bahkan telah dilaluinya dengan ishlah (perdamaian).

Dalam konteks PDIP, tentu saja tantangan yang siap menanti adalah terkait faksi-faksi politik itu yang mungkin saja akan kembali ke permukaan jika pesona Mega telah memudar. Dalam kondisi itu, bisa jadi masa kejayaan PDIP akan menemukan titik akhirnya. Jika itu terjadi, kebesaran PDIP selama ini ternyata semata-mata karena ditopang oleh kharisma Megawati, bukan berbasis kader dan pelembagaan partai.

Menarik untuk mengamati ‘prospek’ PDIP selepas Megawati mundur: apakah akan hancur atau tetap mujur?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here