‘Megengan’, Tradisi Muslim Jawa Sambut Ramadhan

0
882

Nusantara.news, Surabaya – Marhaban ya Ramadhan, ini kalimat yang kita dengar saat memasuki bulan suci Ramadhan. Perintah dan kewajiban menjalankan ibadah shaum atau puasa selama satu bulan. Juga kewajiban beribadah dan melakukan kebaikan lainnya, yang oleh Allah SWT dimaksudkan agar kita menjadi insan bertaqwa. Seperti yang tertuang dalam QS Al-Baqarah [2]: 183. Yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana itu telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertaqwa.”

Sementara, kebiasaan masyarakat Jawa, datangnya Bulan Suci Ramadhan dibarengi dengan Megengan. Apa itu Megengan?

Kita simak yang disampaikan KH. A Mustofa Bisri, dalam tulisannya beliau mengatakan bahwa sekarang sedang nge-trend orang pintar baru. Mereka memiliki setidaknya dua ciri utama. Pertama, setiap berbicara menuntut adanya dalil. “Sedikit-sedikit ada dalilnya, bahkan menuntut untuk adanya perincian dalil, misalnya ayat berapa, surat berapa, apakah hadis shahih atau dhaif,” ujar KH Mustofa Bisri.

Cari dalilnya Megengan? Ya nggak ada. Mereka berlagak ahli dalil tapi tidak mampu mengimplementasikannya. Dianggapnya tradisi Megengan itu merupakan sebuah fenomena dari masyarakat sesat karena dianggap tidak berdasar dalil.

Begitulah bedanya yang paling mencolok antara muslim tekstualis atau literalis dengan muslim Nusantara atau kontekstualis-substansialis.

Muslim Nusantara justru pandai mengemas pesan-pesan wahyu yang bisa dikemas. Tradisi Megengan merupakan salah satu hasil kemasan dari pesan wahyu dalam Hadits, yang berbunyi

Man fariha bi dukhuulir Ramadhaana, Harromalloohu jasadahuu ‘alan Naari, artinya,

“Barangsiapa yang bersukaria dalam menyongsong datangnya bulan Ramadhan, niscaya Allah haramkan jasadnya dari jilatan api neraka”.

Pesan wahyu agar umat Islam bersukaria dalam menyongsong bulan Ramadhan itu oleh muslim Nusantara dikemas dalam bentuk tradisi Megengan dengan agenda pokok, yakni:

Ziarah Makam

Kaum laki-laki muslim melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan seperti masjid dan mushalla, serta berziarah ke makam leluhur, juga bersih-bersih seluruh kampung, dengan saling berucap “Marhababan ya Ramadhan yang artinya “Selamat datang bulan Ramadhan. Ini sebagai tanda dan bentuk bersukaria menyambut datangnya bulan Ramadhan sebagaimana ditekankan dalam Hadits tersebut di atas.

Sedangkan para ibu, kaum wanita muslimah menyiapkan sejumlah kue atau Apem, ada juga pisang untuk diantar ke tetangga kanan kiri dengan berucap pula seperti yang diucapkan kaum laki-laki tadi. Hal itu sebagai tanda dan bentuk bersukaria menyongsong bulan Ramadhan yang Mulia. Ditambah dengan mengantar kue ke tetangga kanan kiri adalah ungkapan solidaritas sosial, shadaqah yang juga merupakan perintah agama.

Imam An-Nawawi di dalam Syarh Shahîh Muslim juga menjelaskan, taqwa adalah melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-laranganNya.

Perintah dan larangan Allah SWT itu secara sederhana identik dengan halal dan haram. Taqwa bermakna kesadaran melaksanakan hukum-hukum syariah. Taqwa adalah kesadaran akal dan jiwa serta pengetahuan atas kewajiban mengambil halal dan haram sebagai standar bagi aktivitas yang diamalkan dalam kehidupan.

Selamat datang bulan suci Ramadhan, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here