Melambungnya Harga Cabai tak Dinikmati Petani Wongsorejo

0
231

Nusantara.news, – Banyuwangi, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi merupakan sentra penghasil cabai terbesar di Banyuwangi. Luas lahan tanaman cabai di Wongsorejo mencapai 1.060 hektar dengan rata-rata produksi 80 kuintal per hektar, salah satu yang tertinggi di Indonesia (Banyuwangikab.go.id). Bahkan Bupati Abdullah Azwar Anas pernah berujar jika harga di pasaran mencapai Rp. 75.000 per kilogram, perputaran uang setiap satu kali panen di wilayah petani Wongsorejo mencapai Rp 40 miliar. Sungguh angka yang besar untuk satu komoditas pertanian di tingkat kecamatan.

Kini, di tengah melambungnya harga cabai nasional dan maraknya impor cabai kering dari China dan India, bagaimana wajah pertanian cabai di wilayah Wongsorejo. Apakah petani meraih keuntungan, atau justru sebaliknya.

Salah satu petani cabai Wongsorejo yang memiliki lahan seluas 1,5 hektar, Alfan Agus Kurniawan, mengungkapkan jika melambungnya harga cabai menjadi peluang bagi petani di daerahnya untuk mendapatkan untung besar.

“Kalau cabai mahal seperti sekarang akan sangat menguntungkan karena dapat untuk menutupi modal seperti pupuk, bibit, bahan bakar untuk mengairi sawah yang semakin hari semakin mahal hingga uang untuk membayar buruh di sawah,” ungkap Alfan kepada Nusantara.news, Rabu (8/3/2017).

Akan tetapi, harapan untuk meraih untung yang sebanyak-banyaknya pupus ketika siklus panen di wilayah Wongsorejo tahun ini terganggu. Perubahan siklus panen tersebut otomatis mengurangi jumlah produksi cabai.

“Untuk saat ini banyak gangguan dalam panen, jika mengacu tahun lalu seharusnya bulan-bulan ini sedang panen dan bulan Mei baru selesai, tetapi bulan Maret proses panen cabai telah terhenti,” ungkapnya.Menurut Alfan penyebab utama turunnya produksi cabai adalah perubahan cuaca yang drastis. Hujan yang tiba-tiba turun di siang hari membuat pertumbuhan jadi tidak normal dan membuat bunga cabai yang baru tumbuh menjadi rontok.

Kondisi menurunnya produksi diperparah dengan permainan harga oleh tengkulak. Menurut Alfan di tengah kenaikan harga cabai di pasaran seharusnya membuat harga di  petani mengalami kenaikan  signifikan. Akan tetapi kenaikan harga yang tinggi tidak terjadi untuk petani, karena seluruh mekanisme harga ditentukan  tengkulak. “Saya tahu, perkumpulan tengkulak itu yang mengatur harga untuk cabai petani. Bahkan sekarang tiap hari harga dapat berubah dengan cepat,” ungkap Alfan.

Satu lagi yang membuat Alfan Agus Kurniawan gelisah adalah maraknya cabai impor di pasaran. Berkembangnya cabai impor dapat menyaingi produk dalam negeri yang kuantitas produksinya masih terjaga. Bahkan dalam jangka waktu panjang ditakutkan dapat menggerus cabai lokal.

Alfan mengharapkan agar impor cabai dari China dan India segera dihentikan. Dirinya berharap, pemerintah berwenang fokus untuk melakukan pendampingan secara intensif dan memberikan wawasan pengetahuan kepada petani. Ketika ada permasalahan seperti menurunya produksi, penyakit tanaman hingga pemberian metode penanaman, petani berharap ada perhatian khusus dari pemerintah.

“Ilmu yang kami gunakan dalam pertanian masih bersifat otodidak secara turun temurun dari orang tua, bahkan ilmu pengetahuan yang terbaru kami semua belum tahu. Ketika ada masalah cuaca yang menyebabkan penyakit, para petani masih meraba-raba untuk menyembuhkan tanamannya,” tegasnya.

Pertanian merupakan sektor terbesar di negeri ini. Jutaan tenaga kerja menggantungkan hidupnya dari kegiatan bercocok tanam. Tetapi  sektor pertanian di Indonesia berjalan stagnan dan belum menjanjikan prospek yang cerah.

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here