Melek Teknologi, Kunci Industri Tekstil Jatim Kembali Bergairah

0
110

Nusantara.news, Surabaya – Di tengah kerja keras pemerintah membendung dampak negatif dunia maya, ada sisi positif yang dirasakan dunia usaha. Terutama dalam komoditi tekstil. Pelaku industri yang sempat lesu akibat gempuran produk murah meriah asing pasca MEA berlaku 31 Desember 2015, mulai menuai hasil dari terobosan pemasaran manfaatkan dunia maya.

Industri tekstil bersama produk alas kaki yang sempat menyumbang angka PHK terbesar di Jawa Timur pada 2016, diprediksi mulai menggeliat penjualannya tahun ini. Apalagi dukungan penuh Pemprov Jawa Timur melalui beragam kebijakan, salah satunya larangan impor kain.

“Banyak pelaku industri tekstil nasional seperti di Jawa Timur, sudah melek teknologi. Persaingan dengan produk sejenis dari negara lain dihadapi dengan strategi pemasaran melalui jaringan daring,” terang salah satu pimpinan perusahaan tekstil asal Jawa Barat, Desy Natalia Soeteja, Minggu (26/3/2017) malam.

Desy memprediksi, angka penjualan nasional naik 10 persen di banding 2016. “Dengan e-commerce atau penjualan daring yang berkembang ini, kami optimistis industri tekstil nasional tahun ini meningkat tajam, setidaknya naik 10 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 2,2 persen,” katanya.

Desy mengatakan industri tekstil Indonesia memang sudah seharusnya melek teknologi, terlebih beberapa perusahaan dalam maupun luar negeri sudah memanfaatkan teknologi untuk penetrasi pasar. Ditambah adanya kebijakan pembatasan impor tekstil dari luar negeri, yang membuat banyak ritel tekstil melakukan penetrasi lewat sistem e-commerce.

“Kami dari Bandung juga bakal mulai membuka layanan e-commerse April 2017. Sebab kami yakin ritel kain dari Cina, Vietnam dan India sudah menjadi ancaman bagi produsen kain asli Indonesia,” katanya.

Desy mengatakan semua konsumen sudah bisa merasakan pasar barang impor yang kini sulit dicari karena kebijakan larangan impor kain, sehingga masyarakat terdorong untuk mencari produk dalam negeri melalui jaringan dunia maya. “Saya juga melihat beberapa pemerintah daerah mendukung penuh pertumbuhan di daerahnya masing masing, seperti di Jawa Timur maupun Kalimantan Utara,” katanya.

Desy mengaku para penjahit kini juga sudah mulai bergairah karena pemerintah daerah telah mempermudah modal UMKM, baik lewat badan pembangunan daerah (BPBD) atau lainnya. “Oleh karena itu, kami optimistis bisa tumbuh, sebab selama ini para penjahit UMKM mengeluhkan kesulitan modal produksi. Namun kalau kebijakan makro mendukung seperti ini, bukan lagi alasan bagi kami untuk tidak tumbuh secara signifikan,” katanya.

Data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Timur, industri garmen pada semester I 2016 tercatat meningkat 8,17 persen (BPS Jawa Timur). Peningkatan ini berkolerasi dengan pertambahan jumlah penduduk. Namun secara produk, Jawa timur masih di bawah Jawa Barat dan Jawa Tengah dalam merebut pasar domestik.

Pasar ekspor pun dibidik. Bahkan tercatat 70 persen produksi garmen didistribusikan untuk pasar luar negeri. Di banding negara pengekspor lain seperti Vietnam dan Cina, produk Indonesia dikenal lebih berkualitas. Hanya saja jika pasar dalam negeri terus menerus digempur dengan harga murah, bukan tidak mungkin daya tahan itu tergerus.

Padahal mengacu pada data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) 2015, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) saat ini mampu menyediakan 70 persen dari permintaan nasional dan menyerap sekitar 2,79 juta tenaga kerja. Ekspor industri TPT pada 2015 mencapai USD12,28 miliar atau 8,17 persen dari total nilai ekspor.

Investasi di sektor TPT pada 2015 mencapai Rp 573 triliun, naik 16,9 persen dari realisasi investasi sepanjang 2014. Kemenperin menargetkan industri tekstil, kulit, dan juga alas kaki tahun ini tumbuh 6,33 persen berkontribusi 2,43 persen terhadap product domestic bruto (PDB). []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here