Memalukan, Mobil Mantan Presiden Kok Diributkan

0
466

Nusantara.news, Jakarta – Hubungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) kembali hangat diperbincangkan di media. Pasalnya, mobil dinas Jokowi yang digunakan  saat kunjungan kerjanya di Kalimantan mogok di tengah jalan. Di tengah insiden ini, Istana menyebut ada mobil kepresidenan yang belum dikembalikan oleh SBY. Adalah Kepala Sekretariat Kepresidenan, Darmansjah Djumala, yang pertama kali mengungkap perihal ini ke publik.

Pernyataan pihak Istana yang seolah mencoba mengaitkan mobil Presiden Jokowi mogok dengan mobil dinas yang dipinjam SBY itu tentu saja menuai polemik. Dalam hal ini, opini yang berkembang di masyarakat SBY dipersalahkan dan harus mengembalikan mobil dinas Mercedes Benz S-600 yang dipinjamkan oleh negara tersebut.

Doktor Ilmu Politik UI, Mulyadi, menyarankan polemik mobil kepresidenan perlu diluruskan agar publik tidak salah paham. Sebab, isu yang berkembang saat ini hanya berputar-putar soal mobil Presiden Jokowi rusak dan mantan Presiden SBY yang pinjam mobil dinas.

“Kesan publik bahwa presiden pakai mobil rusak, karena mobil dinasnya dipinjam oleh mantan presiden harus diluruskan. Itu tidak baik dilihat dari segi hukum, komunikasi politik, dan etika politik,” ujar Mulyadi saat dihubungi Nusantara.news, Kamis (23/3).

Menurut Mulyadi, kasus ini sebaiknya jangan digunakan untuk pencitraan presiden sambil menjatuhkan citra mantan presiden. Dia menilai, jika SBY tidak sabar, sebenarnya ia dapat berteriak, karena undang-undang telah mengatur bahwa mantan presiden disediakan mobil oleh negara.

“Pembantu dekat pesiden juga seharusnya menyiapkan mobil yang memadai untuk presiden. Apalagi, saya dengar ada mobil berkelas yang bekas dipakai Raja Salman saat berkunjung ke Indonesia. Jangan menggunakan mobil tualah, apalagi yang sering rusak, karena hanya ingin dibilang presidennya suka hidup sederhana. Kan negara yang malu kalau kejadiannya seperti itu,” tandasnya.

Senada dengan Mulyadi, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyayangkan masalah mobil mogok hingga kendaraan kepresidenan yang dipinjamkan kepada SBY sampai dijadikan isu oleh Istana Negara.

“Ini Negara Republik Indonesia dengan APBN Rp 2.085 triliun. Ini kan urusan semiliar dua miliar, gak usah jadi isulah. Beresinlah. Istana harus ada manajemen yang baik. Tidak usah yang begini ini jadi isu,” tegas Fahri di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (23/3).

Seperti diketahui sebelumnya, masalah mobil kepresidenan mulai mencuat ketika dalam kunjungan ke Kalimantan Barat, pekan lalu, mobil RI-1 yang membawa Presiden Joko Widodo bersama Ibu Negara Iriana mogok di jalan.

Dari penjelasan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, mogoknya mobil presiden ternyata bukan pertama kali terjadi. Sehingga, dia menilai sudah mendesak dilakukan pembaruan pada mobil VVIP tersebut.

Namun, Presiden Jokowi sendiri sejak mulai terpilih tak ingin mengganti mobil kepresidenan dengan yang baru. Jokowi lebih memilih mobil dinas warisan presiden sebelumnya, SBY. Aturan itu juga berlaku untuk para menterinya.

Tak pelak, usia mobil yang sudah sedikit lawas akhirnya bermasalah. Mobil kepresidenan Jokowi mogok saat Presiden tengah melakukan kunjungan kerja ke Kalimantan Barat. Mobil bermerek Mercedes Benz dengan tipe S600 Guard itu mengalami kendala pada pengaturan gas. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here