Membaca Hijrahnya Kiai NU

0
169
Kiai Hasib Chasbullah Wahab (peci putih), putra pendiri NU Kiai Wahab Chasbullah dulu mendukung Jokowi, kini hijrah mendukung Prabowo.

Nusantara.news, Jakarta – Bukan hanya Joko Widodo-Ma’ruf Amin yang mendapat dukungan dari ulama. Pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno juga mendapat dukungan dari ulama. Yang menarik, ada pertukaran dukungan kiai sepuh Nahdlatul Ulama (NU) di Jawa Timur.

Jika dulu ada kiai dukung Jokowi, kini hijrah ke Prabowo. Demikian pula sebaliknya. Salah satunya pertukaran posisi Kiai Hasib Chasbullah Wahab, putra pendiri NU, Kiai Wahab Chasbullah. Secara terbuka, Kiai Hasib siap memenangkan pasangan Prabowo-Sandi. Padahal pada Pilpres lalu, Gus Hasib, biasanya disapa, merupakan Kiai yang paling getol mengkampanyekan Jokowi yang berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK).

Demikian pula saat acara Khittah Nuhadir pada Halaqah Nahdliyah Khittah di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, Rabu (25/10/2018) lalu. Di situ sangat jelas kemana arah politik ulama dari NU. Mereka sepakat mendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno pada Pemilihan Presiden 2019.

“Poin terakhir yang kami sampaikan bahwa sesuai dengan hasil musyawarah intern para aktivis Komunitas Garis Lurus, maka kami bersepakat pada Pilpres 2019 akan mendukung pasangan Prabowo-Sandi,” kata Imam Besar NU Garis Lurus, KH Luthfi Basori kepada Nusantara.News.

Nah, pada Halaqah Nahdliyah Khitthah yang diadakan oleh Dzurriyah atau Keturunan Para Pendiri NU, diketahui dimotori oleh Kiai Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) dan Kiai Hasib. Posisi Kiai Hasib sudah jelas. Untuk Gus Sholah dikabarkan juga mendukung Prabowo-Sandi.

Gus Sholah sendiri pada tahun 2014 mendukung Jokowi dengan alasan ada JK dari kalangan NU yang mendampingi Jokowi. Menurutnya, JK adalah orang yang mempunyai kapasitas sebagai seorang pemimpin.

Sementara Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj mengaku secara terang-terangan mendukung Prabowo Subianto sebagai presiden.

Perbedaan dukungan ulama NU antara Said Aqil dan Gus Sholah semakin meruncing saat Muktamar NU ke-33 tahun 2015 di Jombang. Disebutkan, Muktamar NU ke-33 merupakan terburuk dalam sejarah Muktamar NU sejak berdiri 1926. Kekisruhan dalam Muktamar NU kali ini disebabkan oleh adanya pemaksaan terhadap sistem pemilihan dengan model AHWA (Ahlul Halli Wal Aqdi).

Dalam Muktamar NU tersebut, pemimpin sidang sengaja mengatur muktamirin yang hendak menyampaikan pendapat sesuai dengan keinginan mereka. Akibatnya, kubu Gus Sholah tak pernah mendapat satu pun kesempatan menyampaikan pendapat dalam sidang pleno yang mengesahkan hasil Komisi Bahtsul Masail, Komisi Organisasi, dan Komisi Rekomendasi itu.

Saat itulah Gus Sholah walk out dan didukung Hasyim Muzadi menggelar muktamar tandingan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jawa Timur, yang diikuti mayoritas peserta sidang.

Hingga kini perbedaan itu masih terlihat mencolok. Ibarat kata, kedua tokoh NU tersebut tidak bisa satu pesawat. Ketika pada Pilpres 2019 Said Aqil memutuskan mendukung Jokowi-Ma’ruf, Gus Sholah justru menggagas Khittah Nuhadir.

Meski tidak terang-terangan mendukung Prabowo, namun publik melihat tiga keputusan penting yang diambil dari halaqah nahdliyah khitthah seperti menegaskan dukungan ke pasangan Capres Cawapres nomor urut 02. Apalagi tak lama setelah itu, Irfan Yusuf alias Gus Irfan merupakan cucu dari tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Kiai Hasyim Asy’ari, menjadi juru bicara (jubir) Prabowo-Sandi. Alasan Gus Irfan bergabung ke Timses Prabowo-Sandiaga, karena ia tertarik dengan visi misi ekonomi keumatan dari Sandiaga, terutama program-program kemandirian pesantren dan khususnya santri.

Di kubu Jokowi-Ma’ruf, selain Said Aqil tentu ada sederet kiai NU baik yang secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi mendukung pasangan Capres Cawapres nomor urut 01 tersebut. Para kiai tersebut mayoritas kiai pendukung utama Prabowo-Hatta saat Pilpres 2014 silam. Seperti Kiai Anwar Iskandar, pengasuh Ponpes Al Amin, Kediri.

Istikharah para kiai

Memahami peran politik praktis kiai NU memang unik. Mereka tak selalu yang terlihat. Yang nampak kadang tidak nampak. Yang yang nyata tak selalu dituju. Begitu pun yang kasat mata tidak selalu yang sesungguhnya dan kadang-kadang yang tersurat tidak selalu tersirat.

Setidaknya demikian ini pandangan pengamat politik, Surokim Abdussalam. “Sepanjang yang saya pahami para Kiai NU dalam berpolitik kadang berdasar istikharah mata batin penginderaan langit. Kadang nampak tak lazim tetapi itu membuat dinamis. Kadang polanya zig zag mencari keseimbangan,” katanya.

Seperti yang bereda belakangan ini, hasil istikharah Al-Alim Al-Allamah Shohibul Muallafat (pengarang banyak karya kitab) Kiai Thoifur Aliwafa, ulama asal Sumenep Madura sekaligus tokoh NU Sumenep. Hasil istikharah itu ditulis dalam bahasa Madura dengan menggunakan huruf Arab. Bila diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya begini:

Bismillaahirrahmaanirrahim, saya istikharah untuk Bapak Joko Widodo dan KH Ma’ruf Amin sebagai Presiden Indonesia dan Wakil Presiden pada Tahun 2019 M — 2024 M, maka hasil istikharah saya menemukan ayat: idz tabarra-al ladzienat tubi’uu minal ladzienat taba’uu wa ra-aul ‘adzaab wa taqaththa’at bihimul asbaab Q.S(2) Al-Baqoroh : 166.

Artinya: Ketika orang-orang yang diikuti (para pemimpin) melepaskan diri (dari tanggung jawab) terhadap orang-orang yang mengikuti (kepemimpinannya) pada saat mereka melihat azab (Allah) dan putuslah hubungan antar mereka (masing2 bertanggung jawab sendiri di hadapan Allah).

Saya istikharah untuk Bapak Prabowo Subianto dan Bapak Sandiaga Uno sebagai Presiden Indonesia dan Wakil Presiden pada Tahun 2019 M — 2024 M, maka hasil istikharah saya menemukan ayat: Tsumma anzalallaahu sakienatahuu ‘alaa rosuulihii wa ‘alal mu’miniena wa anzala junuudan lam tarawhaa wa ‘adzdzabal ladziena kafaruu wa dzaalika jazaa’ul kaafirien Q.S(9) At-Tawbah : 26.

Artinya: Kemudian Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman dan (Allah) menurunkan tentara yang kalian tidak melihatnya dan Allah akan mengazab orang-orang kafir dan begitulah balasan bagi orang-orang kafir itu.

Dari hasil istikharah tersebut, saya (KH Thoifur Aliwafa) memilih dan mendukung Bapak Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno. (Selanjutnya saya) mengajak seluruh alumni pondok pesantren, ikwan dan akhwat, serta seluruh masyarakat, untuk memilih Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno pada Pilpres yang akan datang (Tahun 2019) semoga kita senantiasa mendapat taufiq, ‘inayah dan ridho Allah utk kejayaan Islam dan kaum muslimin … aaamiiinnn.

Kiai Thoifur dikenal sosok ‘alim dan bersahaja. Keseharian beliau selalu jadi jujukan banyak orang karena dinilai memiliki ketajaman spiritual. Keputusan Kiai Thoifur mendukung Capres-Cawapres Prabowo Sandiaga di Pilpres 2019 perlu difahami lewat perspektif sufisme. Kenapa? Keputusan Kiai Thoifur berdasar petunjuk Allah Swt melalui sarana shalat istikharah.

Mengutip akademisi Filsafat Islam di UIN Sunan Ampel, Surabaya, Hambali Rasidi, setiap keputusan yang diambil berdasar isyarah ilahiyah yang merupakan petunjuk Allah swt yang hadir dalam berbagai bentuk, dalam konteks Filsafat Islam ada istilah Epistemologi Islam. Sebuah metode pengetahuan yang diolah melalui metode Bayani, Burhani dan Irfani.

Epistemologi Islam tentu beda dengan Epistemologi Barat yang mencari pengetahuan lewat empirisme, rasionalisme, fenomenologi, intuisionisme, dialektis. Pengetahuan yang diperoleh lewat Epistemologi Barat dinilai oleh pemikir muslim hanya sebuah ilusi. Bukan kebenaran yang haq.

Epistemologi Islam lahir untuk memperoleh pengetahuan yang haq. Bukan pengetahuan yang berdasar empirisme dan olah rasio manusia. Dikatakan pengetahuan haq adalah pengetahuan yang bersumber dari petunjuk ilahi (isyarah Ilahiyah).

Namun demikian, Imam ibn Jama’ah dalam kitab Futuhat Rabbaniyyah syarah Al-Adzkar an-Nawawiyah memberikan beberapa tips terkait istikharah. Pertama, agar sebelum beristikharah seseorang hendaknya bersikap senetral mungkin terhadap alternatif-alternatif yang ada. Kedua, memantapkan hati dengan kepasrahan total kepada kehendak Allah. Sehingga mereka yang mengabaikan hasil istikharah dalam hal ini dianggap sebagai seseorang yang kurang pasrah kepada Allah.

Maka, sangat aneh jika seseorang melakukan istikharah kemudian tidak melaksanakan hasilnya dalam tindakan nyata. Ini seperti orang yang sedang sakit, berkonsultasi dengan dokter tentang penyakitnya. Kemudian setelah diberi petunjuk dan arahan dari dokter malah mengabaikannya. Terhadap orang ini patut dipertanyakan mengapa ia mengabaikan nasihat dokternya.

Ada tiga kemungkinan bila hasil istikharah tidak dijalankan. Pertama, ia kurang mempercayai kebenaran nasehat dokter. Kedua, ia lebih mempercayai pikiran sendiri. Ketiga, lebih mengutamakan dorongan hawa nafsunya.

Bukan sikap inkonsistensi

Adanya kiai NU yang mengubah haluan politik dari Jokowi ke Prabowo maupun sebaliknya, akankah berdampak positif atau justru mengancam ukhuwah Nahdliyin? Yang jelas hal ini tidak bisa disebut sikap inkonsistensi politik. Justru inilah pola NU sebagai organisasi sehingga mendapatkan keuntungan berlebih.

“Perbedaan dukungan pada Paslon dari sebelumnya bukan inkonsistensi, tetapi akan memperkaya preferensi politik para kiai terhadap para kandidat. Akan lebih baik karena informasi akan semakin lengkap dan komprehensif bisa ditimbang lebih baik,” terang Surokim.

Dari sisi kemanfaatan untuk NU, ini sangat bagus. Sehingga politik bisa ditempatkan di bawah kepentingan jamiyyah. Dan jamiyyah tidak selalu harus sama sehingga bisa memberdayakan kemampuan literasi politik warga.

“Jika kini pilihan itu berubah, itu adalah bagian dari cara para kiai memahami jalan politik praktis yang perlu juga dihormati. Menurut saya sepanjang politik praktis kiai tersebut mencipta suasana adem dan bisa menciptakan ruang kebaikan bersama, maka baik saja,” urai Surokim.

Perbedaan yang maslahah dalam politik juga akan nampak indah dan belajar saling menghormati akan membuat maqom para kiai terjaga. Bandul (politik) itu memang butuh keseimbangan dan NU tidak harus berada dalam satu perahu dukungan.

Sumanto Al Qurtuby, Dosen Antropologi Budaya dan Kepala Scientific Research in Social Sciences, King Fahd University of Petroleum and Minerals, Arab Saudi menyebut dialektika ulama dan kekuasaan itu selalu pasang surut, tidak pernah menunjukkan garis lurus-linier. Sejak zaman dahulu, bahkan sejak era formasi Islam awal, para ulama sudah terbelah dalam menyalurkan aspirasi politik mereka. Sebagian ulama pro terhadap pemimpin politik tertentu, sebagian lain menjadi “cheerleader” pemimpin politik lain.

Saat keberadaan ulama di jaman Orde Baru dibatasi, kini para ulama merangsek masuk ke tengah-tengah gelanggang. Dunia ulama dengan dunia politik kekuasaan memang tidak bisa dipisahkan secara ketat dan ekstrim. Kadang penguasa politik di atas angin, kadang penguasa agama yang di atas angin. Di tempat dan waktu lain, para pemimpin politik dan pemimpin agama saling berkolaborasi atau saling memusuhi.

Kendati, ada juga ulama yang memilih menjadi “golput” dan menjaga jarak dengan dunia politik kekuasaan. Ulama ini disebut “ulama asketis”, yaitu ulama yang lebih memilih mengurusi umat, memberdayakan warga, dan menjauhi hingar-bingar dunia politik praktis kekuasaan yang korup. Cuma, ulama jenis ini populasinya semakin menurun dan nyaris menjadi “makhluk langka” sehingga perlu dilindungi supaya tidak terancam punah.

Apapun itu, tidak bisa dipungkiri saat ini gaya berpolitik para kiai masih menjadi patron kuat bagi umat, terutama ulama Nahdliyin. Sehingga, baik buruknya politik para kiai NU dapat memberikan efek domino yang signifikan bagi warga NU. Meski begitu, perbedaan dukungan politik kiai NU bisa diterjemahkan untuk menjaga tercipta suasana politik yang adem dan santun.

Di sinilah pesan ukhuwah yang harus disampaikan para ulama kepada umat. Politik mereka bisa mematik kesadaran politik insani dan rabbani dan tidak menambah beban politik mamalia yang konfliktual sebagaimana kita lihat saat ini. Ketika para kiai berbeda pilihan tapi tetap rukun menjaga umat, maka itulah indahnya perbedaan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here