Membangun Infrastruktur Tanpa Utang, MengapaTidak?

0
309
Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno bertekad akan membangun infrastruktur tanpa berutang.

Nusantara.news, Jakarta – Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahudin Uno bertekad akan tetap membangun infrastruktur untuk Indonesia. Bedanya, kalau Presiden Jokowi membangun infrastruktur dengan utang, Sandi bisa menghadirkan pembiayaan infrastruktur tanpa utang. Emang bisa?

Lantas, bagaimana caranya? Menurut Sandi membangun infrastruktur tanpa utang itu bisa dilakukan dengan menggandeng swasta. Swasta diajak berkontribusi dalam pendanaan jangka panjang. Itu tak dilakukan Jokowi, kata Sandi. Jokowi hanya mengandalkan BUMN saja.

Pertanyaan pertama datang dari kolega bisnis Sandi, yakni Erick Thohir yang juga bertindak selaku Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. Ia meragukan Indonesia bisa membangun infrastruktur tanpa utang, sehingga kalau Sandi bisa melakukan, ia berjanji akan belajar kepada Sandi.

Menurut Erick , sebagai pengusaha biasanya dalam berbisnis itu ada modal dan ada utang. Ia menyatakan ingin mengetahui lebih dalam ide Sandi  lantaran biasanya dalam dunia usaha lazim berutang untuk membangun infrastruktur. Ia menganggap pernyataan Sandi itu menarik dan akan ,mengundang Sandi untuk mendiskusikan ide tersebut dengan para pengusaha seperti Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan Roeslani serta Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bahlil Lahadalia.

“Realitanya ini kalau dalam usaha itu ada modal dan ada utang, biasanya. Kalau yang tanpa utang sama sekali, sungguh menarik. Nanti kami coba undang diskusi dengan pengusaha, coba kita lihat paparannya. Menarik itu. Kami ingin belajar,” lanjut dia beberapa hari lalu.

Ya, ide-ide cerdas Sandi kadang memang kadang diragukan para pihak di petahana. Seperti ide warga DKI Jakarta bisa memiliki rumah dengan down payment (DP) 0%. Mereka berkilah, untuk memiliki rumah dengan DP 0% mustahil dilakukan, apalagi di zaman persaingan financing dunia perbankan dan lembaga keuangan (multi finance) yang semakin marak dan ketat.

Tapi nyatanya, program DP 0% yang dicanangkan Sandi saat menjadi Wakil Gubernur DKI terealisasi dengan baik.

Sebenarnya apa yang dinyatakan Sandi adalah hal yang wajar dan terlalu lazim dalam bisnis. Bahkan justru kita balik bertanya, apakah Erick Thohir tidak memahami apa yang dinamakan kerjasama pemerintah dan swasta dalam membangun infrastruktur (puclic-private partnership–PPP).

Bahkan boleh jadi lupa mengecek bahwa telah ada success story PPP di masa Presiden Jokowi-Jusuf Kalla. Sebagai contoh pada 2016 sudah ada 7 proyek PPP pada 2016 dengan nilai Rp86,61 triliun. Sementara pada 2017 naik menjadi 12 proyek PPP senilai Rp93,81 triliun.

Hanya saja pada 2018 terdapat 15 proyek PPP, namun yang baru terealisasi adalah proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Semarang Barat. Selebihnya memang masih mandeg.

Secara nasional harus diakui Jokowi sudah mencanangkan 245 proyek strategis nasional (PSN) dengan nilai Rp5.519 triliun, sebagaimana tercatat dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Sementara dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang tersedia dalam kurun waktu tersebut hanya Rp1.178 triliun.

Pemerintah berharap dapat menutupi kekurangan dana tersebut dengan melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), swasta, investor asing dan negara sahabat. Dari 245 PSN ternyata yang baru rampung dengan konsep PPP baru 20 proyek.

Sementara keterlibatan swasta, investor asing dan negara sahabat, sangat minim. Hal ini dikarenakan Pemerintah Jokowi gagal meyakinkan investor tersebut. Akhirnya sebanyak 68 PSN diperkirakan akan tuntas pembangunannya 100% hingga 2019 dengan menggunakan utang pemerintah dan utang BUMN.

Berdasarkan website indonesia-investments.com, skema PPP belum menunjukkan hasil yang memuaskan karena, salah satu penyebabnya adalah perbedaan regulasi di dalam institusi negara. Sementara kalau pemerintah jalan sendiri memiliki keterbatasan anggaran, sedangkan jika swasta jalan sendiri sulit, apalagi BUMN tak mampu bekerja sendirian.

Lantas bagaimana Sandi begitu optimistis dapat menggenjot pembangunan infratruktur tanpa menggunakan utang? Akankah Sandi akan menggunakan konsep PPP dalam merealisasikannya?

Tentu saja ya, dan tidak hanya itu, Sandi bahkan telah berhasil mengerjakannya. Seperti diketahui, Sandi lewat perusahaannya Saratoga Group sudah berhasil membangun tol Cipali lewat konsep PPP.

Kuncinya adalah kepercayaan pihak parnter baik swasta, BUMN atau bahkan investor asing. Pelibatan swasta dengan baik dan pasti, dan pihak swasta tentu membutuhkan regulasi yang pasti karena pihak swasta membutuhkan kepastian bisnis ketika melakukan investasi.

Lantas mengapa Erick seperti tidak pernah tahu konsep PPP sehingga ketika Sandi menggagas pembangunan infrastruktur tanpa utang seperti sebuah pengetahuan baru?

Di sinilah persoalannya. Ada beberapa tafsir terkait pertanyaan Erick kepada sahabat karibnya ketika kuliah di Amerika, bahkan sama-sama berbisnis di Saratoga Group itu. Pertama, Erick boleh jadi benar-benar tidak tahu dan tidak memiliki pengetahuan tentang success story pembangunan infrastruktur lewat mekanisme PPP dalam tiga tahun terakhir.

Kedua, justru boleh jadi ini adalah kenakalan seorang sahabat yang pura-pura bertanya, tapi sesungguhnya justru ingin melejitkan nama Sandi lewat PPP sebagai gacoan pembangunan infrastruktur kalau dia terpilih jadi Wakil Presiden pada 2019.

Ketiga, boleh jadi Erick benar-benar tidak punya pengalaman berbisnis dengan konsep PPP, walaupun tidak sebenarnya tahu. Karena sudah terbiasa dengan habit berutang, maka konsep selain utang cenderung dipinggirkan, sebagaimana habit Pemerintah Jokowi dalam membangun infrastruktur. Sebentar-sebentar nerbitin obligasi (Surat Berharga Negara—SBN).

Tapi yang pasti, untuk memaksimalkan program pembangunan infrastruktur tanpa menggunakan utang dengan skema PPP memang membutuhkan kredibilitas seorang pemimpin. Boleh jadi karena Sandi seorang pebisnis lokal, regioan sekaligus internasional, dia sudah punya gambaran terang benderan soal skema PPP.

Bahkan lebih dari itu, dia mampu deal dengan pasar sehingga memiliki kredibilitas yang tinggi, pada gilirannya pasar global masuk dengan skema PPP yang dikemas dengan apik dan dipasarkan oleh pelaku yang smart, kredibel, dan sekaligus humble seperti Sandi. Kita doakan saja.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here