Membedah Peluang Empat Pasang Calon di Pilgub Jabar 2018

0
1594
Pasangan Cagub-Cawagub Jabar 2018 (kiri ke kanan): Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul (NasDem, PPP, PKB, Hanura), Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Gerindra, PKS, PAN), Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Golkar, Demokrat), dan Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan (PDIP).

Nusantara.news, Jawa Barat – Setelah diselingi drama bongkar-pasang kandidat dan zig-zag politik yang melelahkan, akhirnya Pilgub Jabar 2018 diikuti empat pasang kandidat. Empat pasangan calon tersebut antara lain, Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Gerindra, PKS, PAN), Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi (Golkar, Demokrat), Ridwan Kamil-Uu Ruhzanul (NasDem, PPP, PKB, Hanura), dan Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan (PDIP). Keempatnya tentu memiliki potensi menang, tinggal siapa yang paling mampu merebut hati rakyat Jabar.

Ridwan Kamil dinilai punya potensi menang karena elektabilitasnya tertinggi. Pun, Deddy Mizwar punya peluang yang sama karena diuntungkan sebagai incumbent. Sedangkan Sudrajat-Syaikhu, juga punya potensi karena mesin politik terkuat di Jabar adalah PKS, ditambah ketokohan Aher sebagai gubernur yang berhasil. Tapi, TB Hasanudin-Anton Charliyan jangan dianggap remeh, PDIP sebagai pengusung masih menjadi partai terbesar di Jabar. Jika pendukung PDIP bisa dimobilisasi dan dikonversi jadi pemilih Hasanudin-Anton, maka peluang kemenangan pasangan ini sangat terbuka

Peta Kekuatan Calon

Secara umum, pemilih di Jawa Barat bisa dikategorikan menjadi dua kelompok, yakni kelompok tradisional dan kelompok religius. Pemilih tradisional cenderung memilih figur populer (khususnya segi keartisan dan estetika). Sementara untuk kelompok religius, Jawa Barat salah satu wilayah yang pemilih muslimnya paling besar dan konservatif. Pemilih religius menetapkan pilihan berdasarkan jejak keislaman calon.

Tak heran, Pasangan Ahmad Heryawan (Aher)-Dede Yusuf yang disingkat “Hade” pada Pilgub Jabar 2008 – 2013, kemudian Ahmad Heryawan (Aher)-Deddy Mizwar dengan “kancing bereum”-nya pada Pilgub Jabar 2013 – 2018, unggul karena berhasil memadukan faktor keartisan wakilnya (Dede dan Demiz), tagline yang ringan, serta ke-religius-an Aher. Kemenangan Aher-Dede Yusuf ataupun Aher-Demiz merupakan kombinasi dari representasi dua kelompok pemilih Jabar itu: tradisional dan religius.

Maskot Pilgub Jabar 2018

Dari sisi popularitas, Ridwan Kamil dan Demiz sampai saat ini memang paling unggul. Namun kedua wakilnya memiliki kelemahan: Uu meski berasal dari basis tradisional di wilayah lumbung suara Priangan dan juga kader PPP, namun sosoknya tak dikenal luas di kalangan masyarakat Jabar. Wakil Ridwan Kamil itu dipandang sebatas seorang birokrat-politisi (Bupati Tasikmalaya), tak dianggap mewakili kelompok religius.

Sementara cawagubnya Demiz, Dedi Mulyadi (Demul), sebagai Bupati Purwakarta ketokohannya cenderung hanya mengakar di daerah yang dipimpinnya. Selain itu, dia kerap diterpa isu miring yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman, misalnya kontroversi patung dan menikahi Nyi Roro Kidul. Konflik Demul dengan ormas keagamaan Front Pembela Islam (FPI) juga bisa memperberat nilai jualnya jika sentimen gerakan 212 yang notabene 60 persen massanya dispulai dari Jabar, turut mempengaruhi preferensi pilihan masyarakat Pasundan tersebut.

Pasangan TB Hasanudin dan Anton Charliyan tampaknya akan lebih berat. Sebab, pasangan ini kurang merepresentasikan kalangan religius dan rendahnya popularitas. TB Hasanudin yang berlatar belakang tentara, dinilai kurang popular. Apalagi dalam riwayat Pigub Jabar 2008 dan 2013, calon-calon yang berasal dari militer tak pernah menang: misalnya cawagub petahana kala itu, Iwan Sulanjana, dan tokoh besar sekelas cagub Agum Gumelar, tersingkir.

Wakilnya, Anton Charliyan, juga minus popularitas dan jejak religius. Dia pernah berseteru dengan FPI. Saat itu, Anton menjadi Kapolda Jabar yang tengah mengusut kasus dan bersitegang dengan pimpinan FPI Habib Rizieq Syihab yang terafiliasi dengan gerakan massa 212 Jabar. Sehingga, langkah pasangan yang diusung PDIP untuk maju di Jabar dipastikan akan membangkitkan lagi sentimen dan romantisme Ahok-Djarot (Pilgub Jakarta lalu).

Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan ibu kota, kita bisa mahfum jika Pilkada Jawa Barat nanti masih merupakan duel lanjutan dari DKI. Dari segi penduduk, ada sekitar empat juta warga Jawa Barat yang sejak pagi hingga petang bekerja di DKI. Sebagai konsekuensinya, keempat juta warga Jabar ini sejatinya mengalami dan merasakan langsung sentimen politik Jakarta. Sentimen yang umumnya mereka bawa hingga ke Jabar. Salah satu problemnya, PDIP dan kandidat yang diusungnya dianggap berjarak dengan Islam serta pendukung penista agama.

Tak hanya itu, PDIP punya sejarah yang tidak mulus di Jabar. Dalam pemilihan 2008 PDIP kalah, Pilgub Jabar 2013 juga kalah. Begitupun saat Pilpres 2014, PDIP tumbang. Namun tak menutup kemungkinan, partai ini sebaliknya akan meraup kemenangan karena kekalahan pada pilgub sebelumnya dijadikan pembelajaran untuk menyempurnakan strategi yang tepat.

Bagaimana dengan Sudrajat-Syaikhu? Kekuatan pasangan ini terletak pada kehebatan mesin partai, jejak petahana Aher, serta citra religius yang lebih kental (uatamanya pada PKS dan PAN sebagai partai basis massa Islam). Jejak kemenangan Prabowo (Prabowo effect) pada Pilpres 2014 lalu, juga menjadi nilai plus bagi pasangan ini.

Pun begitu, pada pilgub kali ini, kombinasi calon popularitas (artis) dan religus sesuai dengan karakter pemilih Jabar, tak ditampilkan lagi oleh PKS dan koalisinya. PKS kehilangan satu sayap, yaitu sayap popularitas. Cagub Sudrajat, bukan tokoh popular. Namanya tiba-tiba muncul setelah dipilih Gerindra sebagai cagub Jabar. Sudrajat adalah seorang purnawirawan TNI dengan pangkat Mayjen. Lahir di Sumedang, 4 Februari 1949, Sudrajat pernah menjabat Kapuspen TNI pada 1999. Kelemahannya, serupa dengan Hasanudin, selain kurang popular, sejarah kekalahan kandidat “berdarah” tentara di pilgub Jabar juga bisa mengancam Sudrajat.

Beruntung, Sudrajat di-backup oleh cawagubnya, Ahmad Syaikhu. Dia punya jangkar pengaruh yang kuat di basis suara Bekasi, Depok, dan sebagian Bogor (subkultur politik Pamalayon), serta dianggap mewakili suara daerah kelahirannya yaitu Cirebon (subkultur politik Pantura). Jejak rekam keislaman Syaikhu dan mesin politik PKS, juga menjadi titik cerah kemenangan bagi pasangan ini. Namun demikian, Syaikhu kurang mengakar di daerah subkultur Priangan.

Subkultur Politik dan Karakteristik Pemilih

Paling tidak, di Jabar terdapat tiga subkultur politik (tatar), yakni tatar Pantura, mencakup: Kota/Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu, dan Subang. Secara tradisional, wilayah-wilayah tersebut merupakan eks-Karesidenan Cirebon. Banyak kalangan menyebutnya dengan ‘Cirebonan’. Sementara dari sisi budaya, Cirebonan lebih terpengaruh kepada “Tanah Jawa”, utamanya Jawa Tengah.

Karakter khas Pantura (Cirebonan) sebagai masyarakat pesisir adalah progresif, terbuka, keras, dan merasa tidak terafiliasi dengan pedalaman (Priangan). Masyarakat Cirebon lebih didominasi Islam Abangan dan nasionalis. Pilihan mayoritas masyarakat di wilayah ini bukan pada parpol Islam, tetapi pada partai nasionalis, utamanya PDI-P dan Golkar. Unsur-unsur aristokrasi (priyayi), keselarasan, kegagahan, dan simbol-simbol keberagaman menjadi pertimbangan yang dominan dalam memilih calon

Peta Jabar

Subkultur lain adalah Jabar Priangan, mencakup: Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Cimahi, Bandung, Cianjur, Sukabumi, Bogor dan sebagian Karawang. Proporsi etnis Sunda di wilayah itu lebih dari 90 persen, sementara wilayahnya lebih dari separuh Jabar.

Ciri khas daerah ini ditandai dengan bahasa Sunda yang dipergunakan lebih halus, karakternya paling halus, dan kesenian berkembang lebih baik dibandingkan daerah lainnya. Masyarakatnya pada umumnya kental dengan nuansa Islam tradisional. Pun begitu, partai-partai berbasis massa Islam baik tradisional maupun modern tumbuh subur di wilayah ini, misalnya PKS, PPP, PAN, dan PKB. Sebagian lagi, partai non-basis Islam seperti Golkar dan Demokrat mendapat tempat di hati pemilih Priangan.

PDIP memang menguasai kursi di DPRD Jabar, tapi kemenangannya bukan dipicu oleh terinstitusionalisasinya partai tersebut. Akan tetapi, lebih karena ketokohan individu yang dicalonkan. Tokoh tersebut punya mesin politik mandiri dan berakar di tanah Pasundan.

Terakhir, subkultur Jabar Daerah Penyangga, atau menurut Kepala Pusat Kebudayaan Sunda dari Universitas Padjajaran Nina Herlina Lubis disebut tatar Pamalayon. Wilayahnya adalah kota atau kabupaten yang mendapatkan pengaruh metropolitan secara langsung. Yakni, wilayah penyangga Ibukota DKI Jakarta: Bekasi, Depok, dan sebagian kecil Bogor.

Tatar Pamalayon didominasi etnis Melayu Betawi. Ciri khas mayarakatnya berbahasa Melayu dialek Betawi dengan karakter masyarakatnya lebih terbuka. Wilayah ini menjadi percampuran multietnis karena imbas dari Jakarta. Wilayah ini umumnya menjadi basis kekuatan Islam modern seperti PKS dan partai nasionalis tengah (Golkar, Gerindra).

Dari ketiga tatar tersebut, umumnya pemilih Jabar menyandarkan pilihan berdasarkan sentimen keislaman dan popularitas calon. Mayoritas masyarakat Jabar yang masih tradisional, lebih mengedepankan isu-isu nonsubstansi, sehingga kepopuleran masih unggul dibandingkan kompetensi dan konsistensi program yang diusung oleh pasangan kandidat cagub dan cawagub.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here