Membongkar Kemunafikan Lembaga Nirlaba AS (1)

0
60
Taksi tampak berjajar di depan Museum Sejarah Sumber Daya Alam Amerika/ Foto NBC

Nusantara.news, Washington – Tidak satunya kata dan perbuatan. Di satu sisi mereka kampanye perubahan iklim yang disebabkan penggunaan energi fosil berlebihan. Tapi diam-diam pula menanamkan dana abadinya untuk membiayai pertambangan minyak, gas dan batubara. Itulah perilaku sejumlah lembaga non-profit Amerika Serikat (AS) yang terbongkar ke publik.

Itulah perilaku pengelola Museum Sejarah Sumber Daya Alam Amerika, World Wildlife Fund (WWF) dan Universitas Washington yang memiliki investasi tidak langsung ke perusahaan-perusahaan yang dituding sebagai penyebab perubahan iklim global.

Manis di Bibir

Padahal sebelumnya – setelah adanya protes dari sejumlah mahasiswa dari perguruan tinggi ternama AS seperti Harvard University, Columbia dan Universitas New York, mereka telah berjanji akan melepaskan semua kepemilikan saham batubara, minyak dan gas.

Persoalannya, di antara lembaga-lembaga besar yang memiliki komitmen kuat melepaskan saham – jalannya bisa saja sulit. Chief Operating WWF Marcia Marsh mengungkapkan, “tidak ada jalan keluar dengan mudah”. Ada ratusan lembaga nirlaba lainnya – seperti Chicago’s Field Museum – yang telah membuat komitmen serupa. Terus bagaimana tindak lanjutnya?

Bocoran dokumen Paradise Paper – terdiri dari sekitar 13,4 juta dokumen dari data investasi yang sangat dirahasiakan membenarkan pandangan itu. Hingga kini komitmen baru sebatas “manis di bibir”saja. Faktanya kepemilikan tidak langsung – melalui perusahaan investasi – atas energi fosil masih mencatat nama-nama Museum Sejarah Sumber Daya Amerika, WWF dan Universitas Washington.

Sebut saja Museum Sejarah Sumber Daya Alam Amerika – lembaga yang terkenal di Manhattan – itu telah menyelenggarakan pameran tentang perubahan iklim. Situs webnya juga berisikan tentang bagaimana melawan pemanasan global. Museum ini juga mengklaim dirinya sebagai “pemimpin dalam pemahaman publik” dari daftar ilmiah yang mencakup perubahan iklim.

Tahun 2014 lalu,  Museum Sejarah Sumber Daya Alam Amerika mengambil langkah untuk mengubah investasinya. Lembaga nirlaba ini mengklaim tidak memiliki saham secara langsung di perubahaan bahan bakar fosil.

Dalam suratnya kepada aktivis lingkungan disebutkan mereka sedang mencari “fund manager” yang mendukung energi terbarukan, dan mengatakan telah memangkas keseluruhan investasi dalam bahan bakar fosil menjadi setengahnya, sebelumnya kurang dari 4% menjadi kirang dari 2% dari keseluruhan donasi yang mencapai US$ 617 juta.

Tapi angka yang disebutkan itu tidak termasuk investasi melalui perusahaan ekuitas swasta internasional – Denham Capital – sebut sebuah dokumen di Paradise Paper.

Mengutip tulisan pada dokumen tahun 2009, pihak Museum menjanjikan US$ 5 juta kepada Denham Commodity Partners Fund V. Dana itu tercatat sebagai investasi sejak Mei 2008. Robert Lebron – seorang juru bicara Museum – menegaskan pihaknya masih memiliki saham atas dana itu.

Denham Fund telah digelontorkan ke proyek-proyek energi di seluruh dunia – termasuk fracking untuk minyak serpih di wilayah Ohio dan Pennsylvania. Tapi investasinya gagal untuk proyek batubara Mongolia. Lembaga pendanaan itu juga memiliki investasi energi terbarukan seperti energi surya, energi angina dan panas bumi.

“Investasi ini adalah bagian kecil dari program kami secara keseluruhan untuk mengelola dana abadi Museum,” ulas Lebron kepada NBC News. “Museum telah bekerja sangat keras untuk meminimalkan paparan bahan bakar fosil kami tepat karena konsisten dengan pekerjaan kami, termasuk komitmen kami untuk mendidik masyarakat tentang perubahan iklim.”

Tidak Transparan

Dua tahun lalu, ketika ditekan oleh kelompok lingkungan 350.org mengenai investasinya, Daniel Stoddard, kepala investasi museum itu, menanggapi dengan sebuah surat yang mengakui masih memiliki sejumlah uang yang diinvestasikan secara tidak langsung melalui dana ekuitas swasta dalam minyak dan gas.

Dengan satu ukuran, Carbon Underground 200, museum mengatakan telah mengurangi kepemilikan ekuitas swasta dalam bahan bakar fosil hingga kurang dari 2 persen dari sumbangannya. Tidak jelas berapa banyak jumlah pastinya, meskipun tampaknya kurang dari $ 12 juta, dan museum juga menolak untuk mengatakan apakah kepemilikan itu terus menurun sejak tahun 2016.

Namun Carbon Underground 200 hanya melacak pemilik terbesar cadangan minyak dan batubara di seluruh dunia. Denham Fund telah membiayai masalah minyak dan gas yang lebih kecil dan bisnis terkait lainnya yang tidak dihitung oleh daftar itu. NBC News membandingkan daftar Carbon 200 terhadap pembelian Denham yang dilaporkan oleh Bloomberg dan organisasi berita bisnis lainnya.

Dana Denham V, misalnya, memasukkan $ 262 juta ke MS Directional LLC, sebuah perusahaan yang berbasis di Texas yang menyediakan jasa pengeboran untuk industri minyak dan gas. Dan menginvestasikan $ 200 juta ke Tradition Midstream LLC, yang sebagian besar terlibat dalam pekerjaan pipa minyak dan gas. Itu yang tidak dihitung oleh Karbon 200.

Museum itu menegaskan Denham tidak termasuk dalam perhitungannya, karena besaran investasi di perusahaan itu sudah sangat berkurang “jauh di bawah US$ 1 juta. Museum juga menegaskan meskipun investasi ke Denham ditambahkan, namun kepemilikannya di bidang minyak dan gas akan tetap kurang dari 2% keseluruhan dana abadi yang dikelolanya. Namun museum menolak untuk mengungkapkan, apakah pihaknya memiliki investasi ekuitas swasta serupa dalam bahan bakar fosil.

“Jelas ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan,” kata May Boeve, direktur eksekutif 350.org. “Kami tentu bertepuk tangan apa yang [museum] lakukan” sejauh ini untuk melepaskan kepemilikannya, katanya. “Kami mendorong museum sejarah alam dan semua museum untuk meninjau profil lengkap investasi mereka sehingga ketika mereka membuat komitmen ini, mereka sejalan dengan apa yang mereka katakan.”

Profesor Michael Mann, direktur Pusat Sains Sistem Bumi di Penn State University dan penulis buku terkemuka tentang perubahan iklim, mengatakan kepemilikan ekuitas pribadi museum itu “mengganggu.” Mann memimpin sekelompok ratusan ilmuwan untuk menentang Dewan Penyantun Museum dari kalangan konservatif – termasuk Rebekah Mercer – yang berpandangan perubahan iklim tidak bisa dikaitkan dengan perubahan iklim.

“[Museum] begitu banyak pekerjaan yang baik. Sangat mengecewakan bahwa ada sisi lain dari mereka,” katanya ketika diberitahu tentang investasi yang ditemukan di Paradise Papers. “Ini benar-benar mempertanyakan kemurnian ilmu yang mereka komunikasikan kepada publik.”

Sebelum kontroversi tentang Mercer, museum menghadapi protes ketika aktivis politik konservatif miliarder dan perubahan iklim denier David I. Koch, yang keluarganya mendapatkan banyak kekayaan dari sektor energi, terpilih menjadi wali amanat. Dia meninggalkan dewan dua tahun lalu, meskipun dia mengatakan kepergiannya tidak terkait dengan protes. (Bersambung) [] Sumber NBC News

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here