Membongkar Kemunafikan Lembaga Nirlaba AS (2)

0
53
Ilustrasi bocornya dokumen Paradise Paper yang membongkar kemunafikan lembaga nirlaba AS/ Foto India TV

Nusantara.news, Washington – Tidak satunya kata dan perbuatan. Di satu sisi mereka kampanye perubahan iklim yang disebabkan penggunaan energi fosil berlebihan. Tapi diam-diam pula menanamkan dana abadinya untuk membiayai pertambangan minyak, gas dan batubara. Itulah perilaku sejumlah lembaga non-profit Amerika Serikat (AS) yang terbongkar ke publik.

Setelah tulisan pertama menguliti jeroan Museum Sejarah Alam Amerika (AMNH/American Museum of Natural History) kini Nusantara.news menampilkan World Wildlife Fund (WWF) yang lembaganya juga disebut-sebut dalam bocoran Paradise Paper. WWF yang kerap menggalang donasi publik hingga di Jakarta dan beberapa kota besar Indonesia memang gencar melakukan penyelamatan binatang langka di sejumlah kawasan hutan Indonesia.

Sulitnya Divestasi

Donasi yang digalang dari publik – relawannya acap terlihat militant menawarkan kupon donasi ke sejumlah tempat keramaian ibu kota – ternyata sebagian masih diinvestasikan ke perusahaan ekuitas yang membiayai perusahaan minyak dan gas. Jejak investasinya terbongkar lewat dokumen Paradise Paper yang bocor ke publik.

Chief Operating WWF Marcia Marsh

Chief Operating WWF Marcia Marsh menyebutkan, kendati lembaganya sudah lama memiliki komitmen kuat melepaskan saham – langsung maupun tidak langsung – ke industri energi fosil, tapi kenyataannya tidak ada jalan yang mudah. Persoalan utamanya mencari pembeli dengan harga yang cocok sehingga investasinya dapat dipertanggung-jawabkan.

Lembaga pendanaan untuk penyelamatan kehidupan (binatang) liar yang berpusat di Washington itu – saat dihubungi NBC News untuk menjelaskan bocoran dokumen di Paradise Paper sudah meminta Denham – perusahaan yang dia percaya menanamkan investasinya – dibebaskan dari “perjanjian kerahasiaan” yang dikatakan WWF dilarang mendiskusikan investasinya.

WWF juga mengklaim pihaknya telah mengambil posisi publik yang kuat terhadap perubahan iklim. Tapi faktanya – sama seperti lembaga-lembaga non-profit AS lainnya – WWF masih menggelontorkan dana ke Denham yang membiayai sejumlah proyek energi, termasuk enerhi fosil.

Padahal sudah sejak tahun 2013 – berdasarkan pengakuan Chief Operating WWF – pihaknya sudah berjuang keras melakukan divestasi saham. Bahkan pihaknya sudah mengumumkan mencari “fund manager” untuk mendukung investasi konservasi. Namun kenyataannya tidak mudah menjual saham senilai US$2,3 juta yang ditanamkan di Denham. “Divestasi tidak semudah yang diucapkan,” beber Marcia Marsh.

WWF berharap investasinya di Denham akan berakhir tahun 2020 – dan memperkirakan ada perubahan nilai sebesar US$ 400 ribu. Kendala utama dalam divestasi, ungkap Marsh, adalah menemukan seseorang yang akan membelinya dengan harga setimpal, setidaknya kerugian keuangan diminimalkan.

Selain ke Denham, papar Marsh, WWF juga memiliki dua masalah ekuitas dengan dua perusahaan swasta lainnya yang diinvestasikan ke perusahaan bahan bakar fosil. Kendati dua ekuitas itu tidak diungkap di Paradise Paper tapi Marsh bersedia mengungkapkannya meskipun dia menolak menyebutkan kedua perusahaan itu. Tapi valuasinya mencapai 0,4% dari portofolio – sekitar US$ 800 ribu – dan akan berakhir pada tahun 2020.

WWF sudah memutuskan akan mengalihkan uangnya dari ketiga ekuitas it uke dalam instrumen keuangan Deutsche Bank yang dirancang untuk mengimbangi keuntungan dari minyak dan gas. Instrumen keuangan di WWF akan merugi ketika pasar saham bahan bakar fosil naik dan menghasilkan uang ketika pasar saham energi fosil jatuh.

Namun pernyataan Marsh dibantah oleh Direktur Eksekutif Dana Global Wallace Ellen Dorsey yang menghimpun dana sekitar US$156 juta dari investor. Dalam pandangannya, divestasi dari kepemilikan ekuitas swasta dalam bahan bakar fosil tidak begitu sulit. Kuncinya, lembaga nirlaba yang menaruh uangnya di sana harus bergerak cepat.

“Jika portofolio Anda terlalu rumit bagi Anda untuk dapat mengelolanya, dan dapat menarik diri dari investasi yang memberikan semacam risiko material terhadap pengembalian Anda, maka sebenarnya ada masalah dengan cara Anda mengelola portofolio Anda,” ulas Dorsey.

Sedangkan pakar lainnya menyebutkan bahwa setiap divestasi memang menciptakan risiko kehilangan uang. Hambatan utama biasanya mencari pembeli untuk saham dalam dana ekuitas swasta tanpa mengambil kerugian pada kesepakatan, demikian Robert Whitelaw – seorang profesor keuangan di New York University.

Wallace Global Fund, terang Dorsey, melepaskan diri dari investasi langsung dan tidak langsung yang terkait dengan perusahaan minyak dan gas – dan memulai Divest-Invest Philanthropy – yang mendorong lembaga-lembaga non-profit lainnya melakukan hal yang sama. “Jika kita memiliki perusahaan bahan bakar fosil kita akan ikut bertanggung-jawab atas perubahan iklim,” tandas Dorsey.

Perguruan Tinggi 

Bukan hanya WWF. Lembaga-lembaga non-profit seperti Yayasan yang mengelola perguruan tinggi – sebagaimana terlihat dalam bocoran Paradise Paper – juga terlibat menanamkan uangnya ke perusahaan-perusahaan fosil. Ini ironis, karena sejumlah akademisi dan aktivis mahasiswanya justru bergerak melakukan kampanye besar-besaran melawan perubahan iklim.

University of Washington

NBC News menemukan ada dua perguruan tinggi ternama di Paradise Paper yang memiliki investasi dalam dana sumber energi fosil swasta. Padahal mereka termasuk di antara 13 perguruan tinggi dalam Koalisi Perubahan Iklim yang dibentuk awal tahun ini dengan tujuan membantu kota, negara bagian dan perusahaan swasta mengurangi jejak karbon mereka.

University of Washington berkomiten US$ 9 juta – dan Yayasan yang dijalankan oleh University of California menjanjikan US$ 4 juta dalam dana Denham, demikian bocoran dokumen Paradise paper yang sudah berlangsung sejak tahun 2009 – sama seperi Museum dan WWF.

University of Washington berjanji pada 2015 untuk melepaskan dari batu bara, dan telah melepaskan kepemilikan langsungnya, menurut Victor Balta, juru bicara sekolah. Universitas, dengan sumbangan $ 3 miliar, menyatakan pada saat itu bahwa “tindakan lebih lanjut oleh dewan ini tidak direkomendasikan atau dibenarkan” untuk bahan bakar fosil lain seperti minyak dan gas.

Laporan keuangan terbaru universitas, tertanggal pertengahan 2017, menunjukkan bahwa Denham tetap menjadi manajer investasi. Di University of California, para pengelola yayasannya berjanji pada tahun 2014 untuk menarik kepemilikan dana abadi dan pensiunnya dalam ekstraksi pasir batubara dan minyak.

Sejak itu, telah terjual setidaknya $ 150 juta dalam investasi bahan bakar fosil. Ia berjanji untuk melepaskan lebih banyak kepemilikan sebagai bagian dari berbagai upaya lingkungan, termasuk membiayai masalah energi yang dapat diperbarui dan membuat kampusnya terbebas dari karbon selama tujuh tahun terakhir.

Pada 2017, mahasiswa di beberapa kampus memprotes investasi yang sedang berlangsung dalam bahan bakar fosil. Sistem universitas, yang mengawasi investasi senilai $ 118 milyar, berjanji untuk semakin mengurangi sahamnya dalam bahan bakar fosil, yang saat ini sekitar 3 persen dari portofolionya.

Seorang juru bicara untuk Universitas California, San Francisco Foundation, yang memiliki saham Denham, berkata, “Kebijakan kami bukan untuk mengomentari investasi individu.”

Di tempat lain di Paradise Papers, NBC News menemukan bukti bahwa yayasan nirlaba yang membiayai proyek lingkungan juga memasukkan uang ke dalam investasi di industri minyak dan gas.

Lembaga Lingkungan

David and Lucile Packard Foundation, yang berbasis di Silicon Valley, berada di antara yayasan terkaya di AS, dengan sumbangan sebesar lebih dari $ 7 miliar. Ini telah memberikan sejumlah hibah kepada kelompok-kelompok lingkungan, termasuk Nature Conservancy dan Natural Resources Defense Council (NRDC).

Kantor Pusat David and Lucile Packard Foundation

The Paradise Papers menunjukkan Packard Foundation menempatkan $ 50 juta dalam perhatian ekuitas swasta Energy Capital Partners III L.P., yang membiayai infrastruktur minyak dan gas. Ini dikelola oleh perusahaan ekuitas swasta AS, Energy Capital Partners, perusahaan yang fokus pada pembiayaan sektor energi.

Yayasan itu mengatakan tidak menghindar dari investasi minyak dan gas. “Kami memberikan ini (dana) manajer kebijaksanaan, tanpa layar, untuk berinvestasi dalam cara-cara yang akan memaksimalkan pertumbuhan sumbangan kami,” tulis Felicia Madsen, seorang juru bicara yayasan, dalam menanggapi pertanyaan oleh NBC News.

Dana Energi Modal telah diinvestasikan dalam operasi minyak dan gas bumi AS serta beberapa masalah terkait kekuatan internasional, bersama dengan investasi surya dan terbarukan, menurut Bloomberg, pengajuan surat berharga pemerintah dan akun berita bisnis lainnya.

The Nature Conservancy mengatakan Packard Foundation memberikannya lebih dari $ 150 juta selama empat dekade terakhir untuk upaya lingkungan. Pihak Conservancy  mengatakan, “bersyukur” atas dukungan tersebut, memuji yayasan sebagai “pemimpin global dalam mengatasi perubahan iklim,” dan mengatakan bahwa perusahaan minyak dan gas perlu berbuat lebih banyak untuk mengurangi ancaman iklim.

Pernyataan di atas tidak menjawab pertanyaan tentang apakah ia telah berbicara dengan Packard tentang investasi yayasan dalam bahan bakar fosil. Juru bicara Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam Jenny Powers memuji dasar untuk “sejarah panjang mendukung penyebab yang adil.”

Dia mengatakan dewan itu sendiri telah bekerja untuk memastikan investasinya tidak termasuk bahan bakar fosil, tetapi mengatakan setiap pertanyaan tentang keuangan Packard Foundation adalah untuk organisasi itu untuk menjawab.

Packard bukan satu-satunya yayasan yang mendukung proyek lingkungan dan juga memegang saham di Energy Capital Partners, menurut Paradise Papers. William Penn Foundation yang bermarkas di Philadelphia menginvestasikan $ 15 juta dengan Energy Capital, dan pengajuan pajak terbaru menunjukkan kepemilikan dalam empat dana komoditas minyak dan gas lainnya.

Diminta komentar, Rebecca Morley, seorang juru bicara yayasan, mengatakan yayasan mulai meninjau keuangannya tahun lalu “untuk lebih memahami hubungan antara misi kami dan investasi kami.”

“Kami mengakui pentingnya dan kerumitan ini untuk lembaga saat ini, dan akan melanjutkan proses yang serius untuk memeriksa bagaimana praktik terbaik berlaku untuk pekerjaan kami,” katanya.

William Penn Snyder House

William Penn Foundation memberikan hibah kepada sejumlah proyek lingkungan hidup pada tahun 2017 saja. Di antara mereka adalah Clean Air Council, yang menyebut dirinya sebagai nirlaba lingkungan tertua di Philadelphia.

Joseph Minott, direktur eksekutif untuk dewan, mengatakan dia tidak tahu tentang investasi minyak dan gas yayasan itu. “Itu akan menjadi sesuatu yang harus saya cari dan diskusikan dengan yayasan,” katanya. “Itu bukan sesuatu yang biasanya saya lakukan.”

Penerima hibah yayasan lainnya adalah Delaware Riverkeeper Network, yang bekerja untuk melindungi Sungai Delaware. Maya K. van Rossum, kepala kelompok, mengatakan dia tidak menyadari investasi yayasan dalam energi. “Organisasi saya mendukung masa depan energi bersih,” ia menulis NBC News sebagai tanggapan atas pertanyaan. “Kami juga mendorong investasi dan divestasi dampak.”

Kedua kelompok telah berjuang dengan proyek bahan bakar fosil. Mereka berdua terlibat dalam litigasi untuk mencegah Middlesex Township, utara Pittsburgh, dari perluasan pengembangan shale gas.

The Delaware Riverkeeper Network menentang pipa gas EastPenn yang diusulkan untuk memotong melalui Pennsylvania dan New Jersey, dan objek ke pembangkit listrik gas yang diusulkan dekat Reading, Pa.

Clean Air Council menentang proposal legislatif untuk mengendurkan kontrol polusi Pennsylvania, dan bekerja untuk melawan apa yang terjadi. istilah “energi kotor.”

Transparansi Pengelolaan

Sulit bagi publik dan kelompok-kelompok seperti Clean Air Council dan Delaware Riverkeeper Network untuk mempelajari dengan tepat bagaimana yayasan dan lembaga nirlaba menginvestasikan dana abadi mereka.

Setiap tahun, lembaga nirlaba mengajukan 990 formulir pajak yang terbuka untuk inspeksi publik. Aturan untuk mengisi formulir tidak memerlukan daftar rinci dari setiap investasi ekuitas swasta. Beberapa, misalnya, menggumpal semua kepemilikan ekuitas pribadi mereka ke dalam satu entri ringkasan pada formulir pajak mereka.

“Beberapa organisasi sangat canggih dan terampil dalam pengarsipan 990 dengan cara yang membuat data semacam tidak dapat didekati,” kata Marc Owens, mantan kepala Divisi Organisasi Pembebasan di IRS.

The Paradise Papers menawarkan sekilas langka yang memberikan rincian lebih dalam tentang bagaimana sejumlah lembaga nirlaba telah berinvestasi di rekening luar negeri. Dokumen-dokumen yang bocor termasuk kontrak, email dan spreadsheet yang merinci ribuan transaksi, bocor dari firma hukum yang bermarkas di Bermuda, Appleby, yang mengkhususkan diri dalam transaksi keuangan lepas pantai.

Bocoran itu diperoleh oleh surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung dan dibagikan dengan Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ), yang menyelenggarakan kolaborasi di antara berbagai organisasi berita di seluruh dunia, termasuk NBC News, untuk menyaring berkas-berkasnya.

Pada bulan Oktober, Appleby, sebagai tanggapan terhadap kebocoran, menyatakan, “Kami kecewa bahwa media dapat memilih untuk menggunakan informasi yang mungkin berasal dari materi yang diperoleh secara ilegal.”

Lebih dari 200 organisasi nirlaba ditemukan dalam koleksi dokumen yang disediakan oleh ICIJ ke NBC News. Banyak di antara mereka menyewa Appleby untuk menjadi perantara investasi lepas pantai untuk dana abadi mereka. Sumbangan dari museum, amal, universitas, dan lembaga nonprofit lain yang tercatat Paradise Papers bernilai sekitar US$ 500 miliar. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here