Membubarkan Musyawarah

0
67

“Jangan terlalu mudah bicara carok, duel, berantem, Ling,” Pakde Sundusin menegur Toling sambil tertawa, “Pakde kalian Tarmihim ini dulu punya pengalaman carok dalam arti yang sebenarnya, dalam fakta pedang, celurit dan medan tawur. Memangnya tanganmu pernah memegang pedang, kelewang, roti kalung, tombak?”

“Ya tapi kalian memang masih muda belia di dalam usia maupun pengalaman sejarah,” Pakde Brakodin menambahkan, “masih hobi bikin pasukan, serba-serbu, sweepang-sweeping…”

Pakde Tarmihim karena rasa sayangnya kepada anak-anak muda dan mengharapkan mereka kelak menjadi penduduk bumi yang lebih baik dibanding sekarang yang suka banget tantang-menantang, pukul-memukul, jegal-menjegal, celaka-mencelakakan, mati-mematikan – mengingatkan tentang firman Tuhan yang sering dikutip oleh Mbah Markesot.

Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” Dan manusia yang paling lembut dan selalu bersikap bijaksana, sehingga dijadikan Allah sebagai Rasul pamungkas-Nya, dipasangnya dalam posisi “tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Pakde Tarmihim bercerita tentang salah satu pengalaman kecil Mbah Sot: “1.500-an keluarga terusir dari kampungnya, karena bentrok antar kelompok pekerja di perusahaan Inti Plasma. Terdapat polarisasi kepentingan antara dua kelompok sesama Plasma yang jumlahnya sekitar 5.500 keluarga. Ada perbedaan, bahkan polarisasi pandangan dan sikap para Plasma ini terhadap sejumlah kebijakan atau peraturan perusahaan Inti. Yang satu cenderung taat, lainnya cenderung memberontak. Tapi itu belum tentu inti masalah yang sebenarnya.”

“Pertengkaran yang berkepanjangan itu membuat Inti rusak fasilitasnya, terbengkalai pabriknya, keruh suasana budayanya. Inti Plasma ini produsen suatu packaging produk kuliner ekspor terbesar kedua sedunia. Tetapi bentrok massal yang mengakibatkan kematian sejumlah orang dan beberapa lainnya masuk penjara, itu membuat produksi terhenti hampir dua tahun. Keluarga kedua belah pihak menjadi tidak berpenghasilan. Keprihatinan dan kesengsaraan sosial merambah.”

“Lokasi mereka di pelosok jauh sebuah provinsi. Tidak masuk akal dan tidak relevan bahwa saya diminta untuk merukunkan dan mempersatukan mereka kembali. Bukan karena punya kemampuan, melainkan semata-mata karena tidak tegaan hati: saya penuhi permintaan itu. Saya datang. Saya temui masing-masing pihak satu persatu. Ketika bertemu, masing-masing para pemimpin kelompok berpelukan dengan saya sambil mengucapkan, “Allahumma sholli ‘ala Sayyidina Muhammad“.

“Kedua kelompok itu berasal dari suatu golongan besar “sepersusuan” (Ummat) nilai dan budaya. Beda konteks dan skala dengan Rakyat (Ra’iyat, kedaulatan) dan Masyarakat (Musyarokah, orang-orang yang berserikat). Mereka sama-sama pentradisi Shalawat, Tahlilan, Istighotsah, Hadlrah dan Rodat. Mereka sama-sama imigran dari Pulau Jawa. Sama-sama “wong cilik”, rakyat biasa yang lembut. Jadi kenapa mereka perang? Kenapa mereka menggunakan kekejaman (violence) untuk mengatasi masalah? Kenapa tidak “fatabayyanu an tushibu qouman bijahalah?” “Wain thoifatani minal mu`mininaqtatalu fa-ashlihu bainahuma”– sebagaimana Al-Qur`an memandunya dengan begitu eksplisit teknis? Atau kenapa tidak pakai Pancasila, melainkan malah membubarkan musyawarah dan mufakat? Lantas bagaimana?” []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here