Meme Novanto dan Katalisasi Kemuakan Publik

0
237
Kuasa hukum Setya Novanto Frederic Yunadi melaporkan pembuat meme Setya Novanto ke Direktorat Pidana Cyber Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu (1/11).

Nusantara.news, Jakarta  – Tersebutlah nama Agostino Carraci, seorang pelukis Italia kelahiran Bologna 16 Agustus 1557. Inilah orang yang pertama kali mengeritik sesuatu lewat gambar. Di sela-sela kreativitasnya membuat lukisan yang normal, dia menggambar seseorang dengan bentuk yang dilebih-lebihkan sehingga kelihatan lucu, atau satiristik. Belakangan gambar seperti itu dikenal dengan istilah karikatur.

Adiknya, Annibale Carraci, menyebut lukisan “pletat-pletot” karya kakaknya itu dengan istilah “ritrattini carichi” atau gambar yang dilukis secara berlebihan. Annibale juga seorang pelukis dari zaman Renaissance itu. Dia, yang lebih muda tiga tahun dari abangnya, juga ikut-ikutkan melukis ritrattini carichi yang mendistorsi wajah seseorang dari bentuk aslinya.

Akhirnya, kedua kakak beradik ini dikenal sebagai karikaturis pertama di dunia. Sayangnya, tidak terlalu banyak karikatur yang mereka lahirkan. Selain karena menggambar karikatur itu hanya sebagai pengisi waktu jika ide melukisnya sedang buntu, juga karena kedua saudara ini mati di usia muda. Agostino meninggal di Parma, 22 Maret 1602 ketika berusia 45 tahun. Annibale juga senasib. Dia wafat di usia 47 tahun di Roma pada 15 Juli 1609.

Berbeda dengan karikatur di era pers modern yang disebarkan secara luas, karya Carraci bersaudara ini tidak diterbitkan. Tetapi lukisan satiris mereka beredar di kalangan elit waktu itu, termasuk sampai juga ke Keluarga Medici. Keluarga ini adalah oligarki terbesar di Republik Fiorentina waktu itu, dan termasuk salah satu keluarga berpengaruh di Eropa. Keluarga yang diawali Cosimo de Medici ini menguasai politik, gereja dan ekonomi. Bahkan Bank Medici, bank milik keluarga itu, adalah bank terbesar di Eropa pada abad 15.

Tapi, keluarga Medici yang terkenal keras itu, justru merasa terhibur dengan karikatur pedas Carraci bersaudara. Pertemuan atau pesta kaum elit waktu itu sering membahas karikatur itu sambil tertawa terbahak-bahak.

Ketika karikatur mulai menyebar setelah pertama kali diterbitkan sebuah majalah di Inggris pada tahun 1843 yang memparodikan parlemen negara itu, karikatur telah menjadi bagian dari jurnalistik. Karikatur dianggap sebagai sikap pers terhadap perkembangan di masyarakat. Jika dalam bentuk tulisan, sikap itu terlihat dalam tajuk rencana atau editorial media bersangkutan. Tapi, jika kata kehilangan makna untuk menyikapi sesuatu, atau terlalu sensitif jika dikomentari dengan tulisan, maka ditampilkan dalam bentuk gambar karikatur.

Jadi, karikatur itu sebenarnya lebih tajam dari tulisan. Hanya saja karena divisualisasikan secara parodis, respon emosionalnya lebih aman, dan cenderung membenarkan apa yang dikritisi itu sambil tersenyum simpul.

Selain gambar, masyarakat juga punya media lain untuk mengungkapkan sikapnya terhadap keadaan sekitar. Caranya melalui kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa sehingga secara tersurat tidak tampak maksud aslinya, namun pesan tersiratnya amatlah kentara.

Pengungkapan rasa melalui kata-kata inilah yang melahirkan pelbagai peribahasa. Di masyarakat kita, terkenal peribahasa seperti “tong kosong nyaring bunyinya”. Itu untuk menggambarkan orang yang bodoh tetapi bergaya seperti orang berilmu. Atau “bak mencincang air”, untuk menyindir perbuatan yang sia-sia. Ada pula “ibarat air di daun keladi”, ini guna menyindir orang yang tak pernah teguh pendiriannya.

Artinya, dalam setiap masyarakat selalu ada katarsis untuk melampiaskan kekesalan, sikap atau keinginan untuk memberi peringatan terhadap kenyataan yang ada. Bentuknya bisa berbeda-beda, dan media yang digunakan mengikuti perkembangan peradaban masyarakat itu.

Tak lama setelah Johannes Gutenberg, tukang besi dari Mainz Jerman, menemukan mesin cetak pada tahun 1450-an, media massa cetak ikut berkembang dengan pesat. Perkembangan media cetak ini membuat seni karikatur juga berkembang, dan terus disempurnakan hingga sekarang.

Tetapi, penyebaran karikatur media massa ini mempunyai kelemahan. Sebab, tidak semua orang bisa mengaksesnya untuk publikasi karikatur. Karena tentu hanya karyawan atau karikaturis di media itu saja yang bisa menampilkan karyanya. Padahal, setiap orang menyimpan kegelisahannya sendiri terhadap kondisi masyarakat atau negaranya.

Akses untuk mengungkapkan perasaan itu terbuka lebar ketika teknologi komunikasi berbasis internet mewabah ke seluruh dunia. Apalagi seiring dengan itu ditemukan pula berbagai aplikasi komputer untuk melukis atau mendistorsi gambar. Dari situlah bisa ditelusuri lahirnya meme, atau gambar-gambar lucu dan menyindir, yang kemudian bertebaran di dunia maya.

Kata “meme” itu dipopulerkan Richard Dawkins, seorang profesor dari Universitas Oxford Inggris, dalam bukunya The Selfish Gene. Fenomena mengunggah gambar satir ke internet itu disebutnya sebagai bentuk kreativitas manusia.

Pada dasarnya meme adalah karikatur yang dikenal di media massa. Bedanya, karikatur hanya bisa diproduksi oleh pelukis di media itu, sedangkan meme bisa dibuat siapa saja. Publikasinya pun tidak memerlukan media massa konvensional, tapi dapat dilakukan dengan bebas melalui jagat maya. Topiknya pun bisa dipilih sesuka hati, tidak seperti karikatur yang harus melalui seleksi seperti lazimnya dalam kerja jurnalistik.

Jadi, meme seperti juga karikatur adalah produk yang lahir dari penyikapan terhadap kondisi masyarakat dan negara atau dunia. Keduanya hadir dan berjaya di masanya masing-masing mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

Meme yang marak belakangan ini di Indonesia tentang Setya Novanto adalah bagian dari penyikapan publik terhadap pelbagai kasus yang melibatkan sang Ketua DPR itu dengan memanfaatkan teknologi komputer dan internet.

Itu sebabnya, Staf Ahli Hukum Kementerian Komunikasi dan Informatika Henri Subiakto mengatakan, banyak tersebarnya meme tentang Setya Novanto ketika dia mengaku sakit adalah sebuah bentuk satire untuk menyampai sindiran. “”Itu satire namanya, bagian dari ekspresi dan opini,” kata Henri Subiakto yang dulu ikut menyusun UU Nomor 11/ 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik itu.

Meme tentang Setya Novanto memang paling banyak memenuhi jagat meme nasional. Akibatnya, salah seorang pembuat meme Novanto bernama Dyann Kemala Arrizzqi diadukan pengacara Ketua DPR itu, Fredrich Yunadi, ke Bareskrim Polri pada 10 Oktober 2017 lalu. Fredrich menunjukkan salah satu contoh meme Dyann yang dianggap mencemarkan nama baik kliennya. Dyann mengunggah meme berjudul The Power of Setya Novanto di Instagram-nya. Dyann melampirkan pula berbagai tweet dari Twitter dengan hastage The Power of Setya Novanto.

Akibatnya Dyaan ditangkap oleh polisi dari Subdirektorat II Cyber Crime Bareskrim. Kepala Subdit II Cyber Crime, Kombes Pol Asep Safrudin menyatakan telah menetapkan Dyann sebagai tersangka pencemaran nama baik. Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang memiliki akun Instagram dazzlingdyann ini memang tidak ditahan karena ancaman hukumannya di bawah lima tahun. Selain Dyann, ada puluhan akun lain yang membuat atau mengunggah meme Setya Novanto sedang dikejar polisi.

Menurut Henri Subiakto, karena meme adalah satire, dia tidak bisa dipidana. Karena satire bersifat subjektif dari pembuatnya. “Kecuali dalam satirenya ada tuduhan, misalnya dituduh mencuri dan sebagainya,” kata Henri.

Penangkapan pembuat meme ini memang aneh. Sebab, karikaturis yang mengkritik tajam sekalipun belum pernah ditangkap di Indonesia. Sebab, itu bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin oleh konstitusi.

Karikaturis freelance India, Aseem Trivedi ditangkap polisi pada 8 September 2012. Penyebabnya, Aseem membuat karikatur yang menggambarkan parlemen seperti kakus. Foto: AP

Belum diketahui, bagaimana reaksi publik seandainya Dyann diproses secara hukum di pengadilan nanti. Sebab, penangkapan karikaturis pernah memancing kemarahan besar publik. Di India misalnya, polisi menangkap seorang kartunis freelance bernama Aseem Trivedi pada 8 September 2012. Penyebabnya, Aseem membuat karikatur yang menggambarkan parlemen seperti kakus. Akibat penangkapan itu, ratusan aktivis anti-korupsi, politisi oposisi dan masyarakat melakukan unjuk rasa di Mumbai guna menuntut pembebasan Aseem.

Apakah mungkin terjadi di Indonesia? Sebab, topik yang disoroti serupa dengan di India, yakni soal korupsi dan parlemen?[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here