Memotret Peluang Koalisi Parpol di Pilgub Jatim 2018

0
690

Nusantara.news, Surabaya – Aroma panas jelang pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur terus berhembus. Banyak yang menyebut, arus besar dukungan semakin mengarah ke Khofifah Indar Parawansa dan Saifullah Yusuf. Kedua nama tersebut, terus berkibar menjadi jago yang diunggulkan untuk menjadi Gubernur Jawa Timur, di Pilkada 2018 mendatang.

Nama kandidat bakal calon gubernur yakni, Saifullah Yusuf, Khofifah, Abdul Halim Iskandar, yang menjabat Ketua DPRD Jawa Timur, serta Tri Rismaharini Walikota Surabaya juga mulai marak dipublikasikan berbagai media massa. Namun, partai pengusung yang akan menjadi kendaraan politik bagi para kandidat tersebut, hingga saat ini masih kabur. Kecuali Abdul Halim Iskandar yang dipastikan mendapat jaminan maju Pilgub Jawa Timur dengan diusung oleh rumah induknya, PKB karena Halim Iskandar adalah Ketua DPW PKB Jawa Timur.

Suparto Wijoyo, pengamat politik dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menguraikan, kemungkinan besar tidak ada satu pun partai politik yang berani mengusung pasangan Cagub dan Cawagub tanpa koalisi. Termasuk PKB Jawa Timur sendiri kendati mereka memenuhi syarat untuk mengusung calon sendiri karena memiliki 20 kursi di DPRD Jawa Timur.

“Semua parpol pasti ingin pasangan calon yang diusung bisa menang. Semakin besar parpol koalisi tentu peluang menangnya juga akan semakin besar,” ujar Suparto Wijoyo, Kamis (30/3/2017).

Suparto menyebut, berdasarkan realita politik ada dua kekuatan besar partai politik yang mengusai Jawa Timur, yakni PKB dan PDIP. Tetapi kedua parpol penguasa di Jawa Timur itu belum pernah berkoalisi dalam kontestasi di Pilgub Jawa Timur. “Kalau dua parpol itu berkoalisi, pasangan calon yang mereka usung berpeluang besar untuk menang,” tegasnya.

Suparto membeberkan prediksi, jika Saifullah Yusuf maju diusung oleh PKB dan calon wakilnya berasal dari PDIP, maka peluang menangnya sangat besar. Sebaliknya, kalau Gus Ipul maju lewat PDIP berkoalisi dengan partai di luar PKB, maka resistensi penolakan oleh massa dari basis Nahdliyin cukup besar. “Sebagian besar kiai menilai Gus Ipul adalah representasi kader NU, sehingga sudah seharusnya dia maju lewat parpol berbasis massa relegius-nasionalis,” kata Suparto.

Suparto menilai peluang Gus Ipul maju lewat PKB masih terbuka lebar. “Tetapi harus bisa mengajak PDIP berkoalisi. Hanya saja, kendalanya saat ini PKB memasang Abdul Halim Iskandar sebagai Bacagub asal PKB. Gus Ipul dan Pak Halim itu masih bersaudara, saya yakin pasti ada yang mau mengalah dan memberi jalan bagi yang berpeluang besar untuk menang,” ungkapnya.

Sementara itu, lanjut Suparto, partai politik pendukung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, seperti Partai Golkar, Partai NasDem dan Partai Hanura, berpeluang besar mengarahkan dukungan ke Khofifah Indar Parawansa sebagai bakal calon Gubernur Jawa Timur (Bacagub). “Partai Demokrat, PAN dan juga PPP juga berpeluang masuk koalisi ini, asal mendapatkan jatah Bacawagub,” kata Suparto.

Sementara Suko Widodo, ahli komunikasi politik dari Unair, menyebut koalisi partai menengah, yakni Partai Gerindra, Partai Demokrat, PAN dan PKS dinilai memiliki peluang besar, untuk berkiprah di Pilgub Jawa Timur, 2018. Namun, mereka harus punya pasangan calon yang memiliki popularitas dan elektabilitas yang tak jauh berbeda dengan Khofifah dan Gus Ipul. Demokrat dan PAN bisa menjadi motor koalisi partai menengah, karena punya pengalaman memenangkan dua kali Pilgub Jatim dengan pasangan Sooekarwo-Saifullah (KarSa),” kata Suko Widodo.

Dirinya memprediksi, Demokrat dan PAN akan pecah kongsi dengan Gus Ipul kalau Ketua PBNU itu maju Pilgub Jawa Timur lewat PDIP. Sebab, Demokrat dan PAN tak mau mendukung dengan tangan kosong alias paling tidak mendapat jatah calon wakil gubernur.

“Kalau Gus Ipul maju lewat PDIP, sudah tentu wakilnya nanti dari PDIP, sehingga kecil kemungkinan Demokrat dan PAN akan ikut bergabung dengan koalisi PDIP,” bebernya.

Sementara, dalam sebuah kesempatan, Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur, Soekarwo
mengakui partai menengah di Jawa Timur cukup menentukan dalam kontestasi pemilihan gubernur di Jawa Timur. Sayangnya, calon gubernur yang akan diusung tidak ada yang mau karena yang mau dicalonkan itu hanya empat atau lima nama. “Ya, Gus Ipul, Khofifah, Abdul Halim Iskandar, Tri Rismaharini dan Abdullah Azwar Anas,” katanya.

Saat ditanya lebih lanjut, Soekarwo tidak mau berandai-andai, apakah Partai Demokrat akan berkoalisi dengan PDIP di Pilgub Jatim mendatang, mengingat Gus Ipul sudah santer akan maju lewat PDIP. Untuk membuka jalan rumah pusat PDIP, menurut kabar yang berhembus, Gus Ipul menggunakan jalur dari Bambang Dwi Hartono, yang punya jabatan di DPP PDIP.

“Politik itu adalah seni ketidakmungkinan. Seperti dalam ilmu mekanika tanah, di dalam tanah itu ada apa saja, itulah seni ketidakmungkinan,” kelakar Pakde Karwo, usai mengikuti acara Hari Pers Nasional (HPN) di Gedung Negara Grahadi, kemarin.

Pakde Karwo juga tidak menampik kalau Demokrat dan PAN yang memiliki sejarah perjalanan yang sangat baik, untuk ‘berjalan bersama’. “Namun apakah historis itu akan diteruskan di 2018, itu yang memutuskan adalah ketua umum (Ketum DPP Partai Demokrat-red), bukan saya,” ujar Pakde Karwo saat itu.

Pantauan Nusantara.news, saat Ketua DPW PKB Jawa Timur Abdul Halim Iskandar memberikan dalam Haul KH Bisri Syamsuri, di Desa Denanyar, Jombang beberapa hari lalu, menyebutkan bahwa yang mencalonkan calon gubernur di Pilgub Jawa Timur 2018 nanti adalah dirinya dan juga Gus Ipul. “Tinggal pilih yang mana?,” ucap kakak kandung Ketua Umum DPP PKB Muhaimin Iskandar sambil melontarkan guyonan.

Untuk diketahui, berikut komposisi kursi jabatan di DPRD Jawa Timur, PKB memiliki 20 kursi, PDIP ada 19 kursi, Gerindra 13 kursi, Demokrat 13 kursi, Golkar 11 kursi, PAN 7 kursi, PKS punya 6 kursi, PPP punya 5 kursi, NasDem punya 4 kursi, Hanura 2 kursi, dari jumlah keseluruhan kursi ada 100 kursi.

Di pemilihan Gubernur Jawa Timur, 2018 mendatang dipastikan akan seru, kandidat akan didominasi putra-putri terbaik NU. Dan, semangat NU, khususnya warga Nahdliyin di Jawa Timur sejak lama merindukan munculnya pemimpin NU, selain sebagai mayoritas mereka berharap menjadikan Jawa Timur lebih baik dari saat ini. Namun, yang pasti masyarakat harus cerdas, tidak menjatuhkan pilihan kepada calon yang hanya mementingkan diri sendiri dan kelompoknya. Kemenangan harus menjadi kemenangan masyarakat Jawa Timur secara keseluruhan, bukan untuk golongannya mereka saja.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here