Memprediksi Trump Effect: Analisa Janji-janji Kampanye Donald Trump

0
580

Nusantara.news, Jakarta – Donald Trump telah dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke-45, masyarakat AS dan dunia  menunggu langkah-langkah Trump mewujudkan janji-janji populis di masa kampanyenya. Sebagian, Trump sudah mulai melaksanakannya.

Dalam konteks stabilitas geopolitik global jangka pendek, karena Donald Trump melakukan konsolidasi internal di negaranya—termasuk rencana penurunan anggaran militer di mancanegara (biaya 7 armada dikurangi)—dianggap mengurangi ketegangan dengan Rusia dan China.

Trump akan tutup mata terhadap dominasi Rusia di Suriah dan Ukraina, barter dengan pengendalian AS atas Eropa Tengah dan Baltik. China akan dominan di Asia asalkan tidak berkonflik dengan Jepang, dengan mengontrol pemimpin lokal (lewat lobi bilateral) daripada konflik terbuka, begitu juga dengan kebijakan Trump di Timur Tengah.

Kemenangan Trump memaksa rakyat AS menyadari ada yang keliru dari sistem demokrasi, karena Trump kalah di popular vote (selisih 2 juta suara dari Hillary Clinton), walau memenangkan  electoral  vote.  Trump sudah berencana memenangkan Pilpres dalam sistem demokrasi suara terbanyak (popular vote) sebagai perubahan atas sistem electoral college pada Presiden AS di tahun 2020 nanti.

Untuk pertama kalinya sejak tahun 1930, AS mempunyai pandangan proteksionis dalam perdagangan internasional, mengarah pada deglobalisasi untuk ‘make great America again’ (American First).  Hal ini akan berdampak buruk bagi negara-negara emerging economics karena pulangnya investasi MNC (Multi-National Corporations) ke negara asalnya, dan USD akan menguat.

Di Indonesia sudah menggejala, JP Morgan sebagai salah satu lembaga keuangan terbesar dan tepercaya yang juga diandalkan sebagai dealer utama Surat Utang Negara (SUN) dan surat berharga lainnya, tiba-tiba menurunkan peringkat Indonesia hingga dua tingkat dari overweight menjadi underweight, belakangan direvisi lagi dengan menaikkan satu peringkat menjadi ‘netral’. Jarang terjadi di negara-negara di dunia kecuali di negara yang mengalami krisis ekonomi berat seperti Yunani.

Hal tersebut sangat mengagetkan, khususnya bagi Menteri Keuangan Sri Mulyani yang bereaksi memutus seluruh kontrak dengan JP Morgan. Pertanyaan dasarnya, apakah pemerintah Indonesia punya solusi yang lain, karena investor SUN selama ini berhimpun di bawah kendali JP Morgan?

Sebaliknya, apakah ini bagian dari Trump Effect? Dimana investor global asal AS diminta pulang kandang karena insentif yang akan diberikan Trump berupa pajak, deregulasi perbankan dan berbagai sektor investasi. Kita berharap pemerintah Indonesia bisa mencari alternatif solusi dari kasus JP Morgan.

Pertumbuhan AS sebesar 2,2% mengurangi defisit dengan merelaksasi fiskal dan mengimplementasikan stimulus fiskal pada kebijakan ekonomi. Peningkatan laju pertumbuhan dipercepat dengan deregulasi (khususnya deregulasi perbankan) untuk kenaikan suku bunga dari the Fed ke perbankan nasional AS. Trump meyakini kebijakan tersebut mampu memulangkan para investor AS di berbagai mancanegara “pulang kampung”.

Reformasi perpajakan dilakukan terhadap multi-national corporations (MNC) agar modal kembali dari mancanegara, dan investasi di AS untuk ‘make America great again’. Tujuan menstimulasi pertumbuhan untuk ruang fiskal yang lebih longgar (relaksasi), namun dikhawatirkan akan  memicu  inflasi. Mudah-mudahan langkah JP Morgan bukan dalam konteks investor global asal AS “pulang kampung”, namun sebatas penurunan risiko investasi di Indonesia. Hal ini menjadi PR utama Sri Mulyani di awal tahun 2017 ini.

Hubungan AS-China

Bagi Trump, hubungan dengan China bukan sekadar perdagangan (ekonomi), tapi juga ideologi, bahkan menjurus masalah “rasa”. Inilah  yang menjadi salah satu landasan munculnya tagline ‘American First for make great again’. Bukan tidak mungkin soal ini juga didorong oleh faktor efisiensi penggunaan anggaran.

Sebagaimana diketahui, AS selama ini menjadi polisi dunia, stabilisator moneter dunia dan penjaga demokrasi dunia. Kebijakan ini jelas membutuhkan anggaran yang  cukup  besar  di bidang bantuan pembangunan untuk luar negeri, militer dan intelijen. Apalagi Trump pada pidato terakhir sebelum Pemilu AS yang lalu, menyatakan bahwa China sangat nyaman tanpa terganggu oleh terorisme di negaranya, sementara AS menjadi sasaran utama. Pengusaha AS tidak berani mengaku sebagai warga negara AS di Timur Tengah.

Dunia masih menunggu langkah kebijakan geostrategi dari kabinet Trump. Kebijakan terkait pemotongan/insentif pajak, kenaikan suku bunga dan peningkatan ekonomi konsumsi (belanja publik) akan berdampak pada perdagangan internasional karena AS adalah pasar dan pelaku utama bisnis di dunia.

Dunia akan ditentukan oleh the Fed dalam memandang konstruksi moneter di AS. Dipastikan akan ada perubahan dunia. Seperti yang terjadi pada 15 Desember 2016 lalu, Pemerintah AS menaikkan suku bunga the Fed dan Wall Street sempat bergejolak, saham dan USD menguat di pasar global.

Sementara USD akan lebih perkasa, ekspektasi pertumbuhan ekonomi AS dan menguatnya nilai USD—padahal nilai saat ini sudah lebih tinggi dari nilai fundamentalnya—membuat spekulasi terhadap nilai USD tinggi dan akan memicu dunia pada rezim ketidakpastian. The Fed akan menaikkan suku bunga secara perlahan sesuai dengan menguatnya ekonomi AS.

Tekad Trump dan kegeramannya tentang kemajuan China tentu akan berdampak serius, karena produk China bergantung kepada pasar AS. Saat ini China menjadikan konsumen AS sebagai pasar terbesar. Masuknya Yuan/RMB sebagai SDR (Special Drawing Rights/mata uang dunia), keterlibatan China di IMF, World Bank, dan investasi China di berbagai belahan dunia justru akan memperoleh dampak yang signifikan. Hal ini terlihat ketika kenaikan suku bunga the Fed pada tanggal 16 Desember 2016 yang berakibat devisa China tergerus karena menguatnya USD, sehingga China terpaksa melepas sebagian USD yang dimilikinya ke pasar, agar tidak terjadi spekulasi dari investor yang diprovokasi “pulang kampung” dengan berbagai insentif dari kebijakan Trump.

Waktu Trump belum dilantik saja, spekulan pasar telah berkontraksi dengan ekonomi China, dan negara-negara yang menjadikan AS sebagai pasar berada pada posisi terancam.

Selain melakukan panataan ulang terkait kebijakan atas China, Trump agaknya juga akan meninjau kembali kebijakan luar negeri AS terhadap Timur Tengah. Pergeseran kebijakan AS di bawah Trump terhadap Timur Tengah diperkirakan akan berpengaruh terhadap beberapa hal:

AS tidak akan meneruskan dukungannya terhadap “Arab Springs”. Dukungan terhadap kelompok oposisi di Suriah yang ditujukan untuk mendongkel Presiden Assad—yang telah menguras anggaran jutaan dolar AS—kini bukan lagi prioritas utama AS. Lebih sekadar menarik dukungan, Trump bahkan eksplisit berkata, “Let Russia Hit ISIS” (biarkan Rusia menghajar ISIS).

Cukup menarik untuk diamati misalnya, pada hari-hari menjelang pelantikan Trump wilayah Aleppo di Suriah—yang merupakan satu-satunya daerah kantong perlawanan kaum oposisi—jatuh ke tangan tentara Suriah yang didukung penuh oleh Rusia dan Iran. Para pemberontak yang selama ini memperoleh dukungan finansial dan persenjataan dari AS mundur teratur dari gelanggang peperangan.

Semakin menipisnya cadangan minyak bumi di Timur Tengah, khususnya di Saudi Arabia, juga menjadi salah satu pertimbangan Trump. Di sisi lain, tidak  sedikit  pula  biaya  perang di Timur Tengah yang telah dikeluarkan AS. Tentu saja Trump melakukan kalkulasi. Minyak bumi yang selama ini diperoleh AS dari Timur Tengah agak kurang sebanding dengan biaya yang ditanggung AS untuk mendukung “Arab Springs”, termasuk anggaran rekonstruksi Irak pasca-jatuhnya Sadam Hussein.

AS menganggap Timur Tengah tidak strategis karena AS sudah mempunyai shale gas yang merupakan substitusi dari minyak fosil. Dalam konteks strategi energy security, saat ini AS juga sebagai pemilik cadangan minyak fosil terbesar di dunia. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here