Memutus Akar Terorisme

0
150

RENTETAN teror bom di Surabaya Minggu dan Senin pagi kemarin yang berlangsung di lima tempat merenggut nyawa 16 orang, dan menciderai lebih dari 50 orang. Sebagian yang tewas itu adalah pelaku bom bunuh diri, tapi sebagian besar adalah korban yang tak tahu-menahu soal teror.

Ini satu lagi bukti betapa aksi teror selalu menyisakan kepedihan dalam kemanusiaan. Korbannya bisa siapa saja, bahkan kebanyakan justru bukan orang-orang yang menjadi sumber kebencian dari sang teroris. Ketika teror bom skala besar meledak pertama kali di Indonesia, 12 Oktober 2002, di Paddy’s Cafe dan Sari Club Denpasar, ratusan orang yang kehilangan nyawa, juga mati dengan berselimut tanda tanya. Mereka tidak tahu siapa dan apa maksud para teroris. Di Jakarta, di Hotel J.W. Marriott atau di depan Kedubes Australia di Jalan Rasuna Said, para korban tidak pernah tahu untuk apa mereka mati.

Terorisme adalah kejahatan paling berbahaya di muka bumi ini. Itu sebabnya terorisme disebut crime againt humanity, kejahatan terhadap kemanusiaan. Siapa pun bisa dihantam terorisme. Seringkali korban terorisme justru orang-orang yang tak dikenali oleh si pelaku.

Presiden Joko Widodo mengutuk keras aksi teror  di Surabaya itu. Menurut Kepala Negara, tindakan tersebut sungguh biadab dan di luar batas kemanusiaan. Presiden sudah memerintahkan Kapolri untuk mengusut dan membongkar jaringan penebar maut itu sampai ke akar-akarnya. Kapolri juga akan meminta bantuan TNI untuk melaksanakan pemberantasan tersebut.

Kita ingin menggarisbawahi perintah Presiden untuk membongkar teror sampai ke akar-akarnya. Kita berharap kalimat “sampai ke akar-akarnya” itu bukan verbalistik atau sekadar anak kalimat penekanan, melainkan menyentuh sisi substansi dari terorisme tersebut.

Ledakan bom, korban berjatuhan, puing-puing yang berserakan, atau ketakutan publik, itu adalah gejala yang ditimbulkan aksi teror. Keprihatinan atau kemurkaan kita tentang itu, dari perspektif pelaku teror, adalah kemenangan. Jadi, memerangi terorisme tidak hanya cukup pada gejala, tetapi memang harus “sampai ke akar-akarnya”.

Terorisme dilandasi oleh aneka ragam motif, mulai dari yang paling sederhana hingga yang sangat kompleks. Dalam studi klasik Ted Robert Gurr (1936-2017), seorang pakar konflik dan terorisme modern, disebutkan akar konflik bernuansa kekerasan adalah terdapatnya relative deprivasion dalam masyarakat. Deprivasi relatif adalah kondisi psikologis sekelompok orang yang merasakan ketidakpuasan atas kesenjangan dalam berbagai bidang kehidupan, yang dapat menimbulkan persepsi tentang ketidakadilan. Sekalipun Gurr tidak menunjuk langsung aksi teror sebagai pelampiasan atas ketidakadilan itu, namun para ahli sependapat bahwa pendapat Ted Gurr berlaku untuk memahami salah satu motif utama terorisme.

Untuk Indonesia, setidaknya ada tiga hal yang menjadi akar aksi terorisme. Pertama, tumbuhnya ideologi radikal yang ekstrem. Ideologi ini bisa muncul di mana-mana, tanpa terikat bangsa atau masyarakat tertentu. Kedua, penyimpangan ajaran agama. Ketiga, kondisi kehidupan dalam bentuk kemiskinan absolut atau keterbelakangan yang ekstrem. Memang tidak selalu kondisi hidup yang sulit dapat melahirkan terorisme, tetapi sangat kuat korelasi antara kemiskinan dan ekstrimitas.

Kita setuju, akar terorisme terletak, antara lain, di situ. Teroris memang memanfaatkan rasa putus asa dan kekecewaan yang muncul ketika rakyat dipaksa hidup tanpa harapan dan kebebasan. Terorisme tumbuh subur akibat penggunaan kekerasan, pendudukan asing, pendudukan secara paksa, penyerobotan lahan secara membabi-buta, pembersihan etnik, penjatuhan hukuman atas nama agama, diinjak-injaknya aspirasi politik yang sah, penindasan, kemiskinan, perlucutan hak, dan di atas semua itu, tak-adanya sarana yang memuaskan saat rakyat meminta keadilan. Itu semua, atau salah satu di antaranya, bisa ditelusuri sebagai penyebab aksi teror di berbagai belahan dunia.

Sekali lagi, aksi teror bom itu hanya gejala. Akarnya ada pada ketidakadilan. Melihat kenyataan yang ada, persoalan terbesar dalam memerangi terorisme ini adalah dunia tak pernah berhasil memerangi ketidakadilan itu.

Maka respon negara ini terhadap terorisme jangan semata geram melihat puing-puing berserakan atau korban teror yang berjatuhan, tetapi justru memulai usaha langkah yang konkret untuk mematikan akar-akar terorisme itu. Jika tidak, aksi teror berikutnya hanya menunggu waktu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here