Menakar Kans Khofifah di Pilgub Jatim 2018

0
140
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa

Nusantara.news, Surabaya – Ada pernyataan  menarik bagi para tamu undangan dari Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Gresik Prof Setyo Budi pada acara buka bersama bertajuk “Silahturahmi Kebangsaan”  di rumah Wakil Ketua Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Ridwan Hisjam di Jemursari, Surabaya, Selasa (20/6/2017).

“Ridwan Hisjam layak diperhitungkan untuk maju sebagai kandidat di Pilgub Jawa Timur 2018. Saatnya Ridwan maju ikut berkiprah memimpin Jawa Timur,” ujar Setyo Budi. Lelaki paruh baya itu menyebut, Ridwan yang sering disebut inisialnya RH, merupakan sosok matang di berbagai organisasi termasuk  di partai dan pemerintahan.

“Ridwan jangan jadi orang nomer dua, tetapi bisa jadi yang pertama. Saya siap bantu, khususnya untuk urusan perbaikan nasib petani di Jawa Timur, misalnya dengan masuk ke kampus,” kata Setyo Budi disambut gemuruh tepuk tangan.

Dia mengaku telah lama mengenal sosok RH dengan berbagai kegiatan dan aktifitasnya. Guna menyambut tongkat estafet kepemimpinan dari Gubernur Soekarwo yang akan habis masa jabatannya, RH dikatakan layak dan saatnya tampil.

Sementara, dimintai pendapatnya soal lontaran dan dorongan agar dirinya maju di Pilgub Jawa Timur, sambil senyum RH meyakinkan wartawan kalau yang disampaikan oleh Rektor UM Gresik tersebut, tidak berlebihan.

Tetapi, sebagai kader partai khususnya di Partai Golkar, dirinya menegaskan akan selalu tunduk dan patuh oleh perintah partai. Tetapi ada sosok yang lebih mumpuni yakni Khofifah Indar Parawansa.

“Saya rasa itu tidak berlebihan. Sebagai kader partai, saya akan selalu tunduk dan patuh,” ujar Ridwan Hisjam menanggapi lontaran pertanyaan wartawan.

RH menyebut, saat ini kecenderungan memang mengarah kepada sosok yang dinilai mumpuni, mampu dan memiliki kapasitas, layak untuk maju di Pilgub Jawa Timur.

“Kecenderungan memang mengarah kepada Khofifah, tapi tidak menutup kemungkinan yang lain atau kader Partai Golkar sendiri,” terangnya.

Ditambahkan, Partai Golkar Jawa Timur dan DPP Partai Golkar hingga saat ini masih terus melakukan penjaringan dan pematangan survei yang terus bergulir.

“Kita (Partai Golkar) akan menentukan setelah Agustus, setelah ada penetapan hasil survei,” tegasnya.

Sementara, soal makin banyaknya desakan agar dirinya juga tampil di ajang demokrasi lima tahunan itu, RH mengaku tidak keberatan. Baginya, pengabdian bisa dilakukan di mana saja termasuk di Provinsi Jawa Timur.

“Saya siap kalau untuk jadi wakil, itu kalau memang diperintahkan oleh Partai Golkar, karena Golkar punya misi di situ (di Pilgub Jawa Timur),” tegasnya.

Ketua Komisi X DPR-RI Ir Ridwan Hisjam.

Kembali ke Setyo Budi, sebagai seorang akademisi dan mengabdikan diri di kampus, dia menilai di kepemimpinan Gubernur Soekarwo, dia mengambil contoh petani masih menjadi obyek, terlalu lama menangis, nasib petani masih sangat miskin tetapi mereka tidak bisa protes. “Silahkan dilihat, bagaimana nasib petani sampai hari ini termasuk di Jawa Timur?” ucap Setyo Budi.

Jika, RH nanti ikut memimpin Pemerintahan Provinsi Jawa Timur, dirinya berharap persoalan itu bisa segera teratasi. Diharapkan ada perubahan nasib terhadap petani yang hingga kini menurutnya masih belum beruntung.

Dalam acara buka bersama tersebut, hadir sejumlah elemen dan perkumpulan lintas generasi, di antaranya ada Kosgoro, Lesbumi, HMI, organisasi sayap Partai Golkar, seniman dan lainnya. Dalam obrolan terlontar bahasan serius untuk direnungkan, di antaranya soal Pancasila, Kedaulatan NKRI, sejumlah persoalan dan usulan bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi berbagai persoalan yang muncul akhir-akhir ini dan obrolan lainnya.

Mengutip Surat Al-Baqarah, Setyo mengatakan Indonesia dikaruniai tanah yang subur, tetapi tingkat kemiskinan masih tinggi. Menurutnya, petani masih menjadi obyek, terlalu lama menangis, petani masih miskin, tetapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa.

Dia menegaskan masih belum puas dengan klaim capaian keberhasilan di pemerintahan Soekarwo-Saifullah Yusuf. Terutama soal program penanggulangan kemiskinan.

“Terus terang saya belum puas atas kinerja Pakde Karwo, karena petani masih miskin. Lihat saja, industri gula yang menjadi ciri industri di Indonesia termasuk Jawa Timur, sekarang terpuruk. Sebanyak 2,2 juta ton hasil industri di tahun 2016 tetapi impornya mencapai 5 juta ton. Itu kalau dikonvensi bisa untuk membiayai pendidikan gratis mulai SD sampai SMA. Kapan petani kita bisa sejahtera, pimpinan itu harus bisa sejahterakan petani,” urainya disambut tepuk tangan.

Jika kelak RH maju di bursa bakal calon Gubernur atau Wakil Gubernur Jawa Timur. Dirinya komitmen akan membantu, termasuk jika ada program masuk kampus menyampaikan konsep memperbaiki nasib petani.

“Silakan, kami siap membantu,” tegasnya.

Seperti diketahui, Khofifah Indar Parawansa diberbagai kegiatannya  belum memberikan kepastian sikap di Pilgub Jawa Timur. Dia menyebut, masih check sound.

Khofifah yang saat ini menjabat Menteri Sosial RI itu tidak pernah sepi dari pembicaraan dan ulasan media. Perempuan asli Surabaya yang juga Ketua PP Muslimat NU itu cukup beralasan jika digadang maju di Pilgub Jawa Timur. Dinilai punya segudang jurus-jurus jitu serta kemampuan menangani persoalan masyarakat menuju lebih baik.

Tak hanya di pemerintahan, untuk berbagai persoalan alumni Universitas Airlangga Surabaya itu dinilai punya konsep sebagai jalan keluar penanganan persoalan. Khofifah tidak hanya sekedar populer tetapi juga banyak yang menyebut kiprahnya jelas-jelas pro rakyat.

Sementara, hingga saat ini nama yang resmi maju sebagai bakal calon Gubernur Jawa Timur adalah Saifullah Yusuf, dia diharapkan akan mendapat rekomendasi dari DPP PKB untuk tiket di pemilihan Gubernur Jawa Timur.

Nama lainnya yang juga diharapkan maju di pemilihan, ada Hasan Aminudin, Abadullah Azwar Anas, HM Said Abdullah, Budi ‘Kanang’ Setiyono, Tri Rismaharini, Suhandoyo, La Nyalla Mattaliti, Nurhayati serta lainnya. Dan dipastikan bursa bakal calon akan terus bermunculan nama-nama baru.

Sebelumnya Ketua KPU Jawa Timur Eko Sasmito memprediksi maksimal akan muncul empat pasangan calon di Pilgub Jawa Timur, 2018.

Sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 8 tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota, partai politik atau gabungan partai politik dapat mendaftarkan pasangan calon jika memenuhi persyaratan perolehan paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi di DPRD.

Sementara di DPRD Jawa Timur jumlah kursi masing-masing parpol, PKB 20 kursi, PDIP 19 kursi, Gerindra 13 kursi, Demokrat 13 kursi, Golkar 11 kursi, PAN 7 kursi, PKS 6 kursi, Nasdem-Hanura 6 kursi, PPP 5 kursi. Dari jumlah 101 wakil rakyat dari partai politik di DPRD Jawa Timur itu, jika diambil 20 persen ada sekitar 20,2 atau 20 kursi. Dan jika kesembilan fraksi parpol di DPRD Jawa Timur berkoalisi, akan ada empat koalisi partai politik.

“Sesuai ketentuan undang-undang, jumlah minimal mengusung pasangan calon harus 20 kursi, jadi maksimum akan ada empat pasangan calon, kata Eko Sasmito.

Itu sesuai perhitungan dan undang-undang, tetapi kenyataan di lapangan bisa saja muncul tiga atau dua koalisi. Eko mengaku KPU Jawa Timur hanya sebatas memberi informasi soal kemungkinan terbentuknya koalisi untuk mengusung pasangan bakal calon di Pilgub Jawa Timur.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here