Menakar Kekuatan Petahana Kota Malang

0
71
H Mochamad Anton, Walikota Malang (Sumber: Yorri Farli/Sindonews)

Nusantara.news, Kota Malang – Menjelang dibukanya pendaftaran pasangan calon peserta dalam Pilkada Walikota telah membakar suhu politik di Kota Malang. Sejumlah partai politik mulai mengatur strategi dan konsolidasi untuk memenangkan calon-calon yang bakal diusungnya.  

Petahana atau calon incumbent dianggap sebagai pesaing yang kuat bagi partai-partai politik yang tidak mengusungnya. Sebab Petahana memiliki kekuatan yang lebih ketimbang para pesaingnya.

Secara penguasaan tata daerah pastinya calon petahana memiliki modal wawasan pengetahuan bahkan data yang kuat untuk dijadikan dasar gagasan konsep pembangunan ke depan periode selanjutnya. Selain itu, popularitas yang petahana yang kerap dipublikasikan media sudah berada di atas calon-calon lainnya.

Oleh karena itu, banyak calon dari petahana yang terpilih kembali. Calon dari incumbent memiliki peluang yang besar untuk menjabat kembali.

Berikut beberapa catatan peta kekuatan politik petahan Kota Malang, yakni M Anton yang merupakan Ketua DPC PKB Kota Malang, berencana akan maju kembali dalam helatan Pilkada Kota Malang 2018 mendatang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kekuatan PKB saat ini telah membangun komunikasi dengan beberapa partai. Salah satunya PDIP yang merupakan partai pemenang pemilu di Kota Malang. Kader-kadernya juga sudah berserak hingga perkampungan.

Selain itu, Partai Demokrat juga berencana akan merapat ke petahana, ditandai ketika didapatinya ternyata, Ghufron Marzuki,  Ketua DPC Partai Demokrat Kota Malang mendaftar di DPC PKB Kota Malang sebagai salah satu kandidat Bacalon wakil walikota yang akan dipasangkan dengan M Anton, sang petahana.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dengan mengejutkan resmi mendukung calon walikota petahana, yakni M Anton maju dalam pilkada. Dukungan PKS melengkapi jumlah kursi PKB yang memiliki 6 kursi, sehingga jika dua partai itu bersama merajut koalisi maka jumlah kursi sebanyak 9, syarat yang cukup untuk mendaftarkan pasangan calon ke KPU.

Dukungan dari PKS sendiri diketahui juga tanpa syarat. M Anton dibebaskan untuk memilih kandidat bakal calon wakil walikota sebagai pendamping di ajang pesta demokrasi warga Kota Malang itu.

Sosok Dokter Muda, yakni Dr Canggih Sakinah Hans pendiri Malang Care muncul di khalayak. Pihaknya disebut-sebut akan menjadi pendamping Anton di Pilkada Malang 2018 mendatang. Namun, dokter muda yang sudah mendaftar ke DPP PKB itu dikabarkan tidak mengikuti fit and proper test partai.

Korelasi dengan persepsi publik terkait tingkat kepuasan akan kinerja pemerintahan Anton-Sutiaji selama kurun waktu 4 tahun terakhir menentukan kekuatan petahana apakah masih didukung oleh rakyat atau tidak.

Dari Hasil Survei Politika Malang, menghasilkan sebanyak 57 persen responden puas dengan kinerja pemerintahan Anton-Sutiaji, 35 persen responden menjawab tidak puas dan sisanya 8 persen menjawab tidak tahu.

Direktur Litbang Politika Malang, M Idris, mengatakan ada beberapa kemungkinan kenapa responden puas dengan kinerja Anton – Sutiaji. Pertama adalah pembangunan taman yang dirasa telah mempercantik wajah kota, kedua pendidikan gratis sebagaimana program Anton-Sutiaji dan layanan publik yang sudah mulai membaik.

Sedangkan, responden yang tidak puas dengan kinerja pemerintahan Anton-Sutiaji bisa terjadi karena berbagai permasalahan vital belum terselesaikan seperti jalan rusak, kemacetan dan masalah lainnya. Warga yang menjawab tidak tahu masih belum bisa menilai dan masih menjadi swing voters apakah puas atau tidak puas dengan kinerja Anton-Sutiaji.

Persentase 57 persen tersebut akankah menjadi kekuatan bagi sang petahan untuk dapat mensukseskan kembali dalam periode pemerintahan selanjutnya?

Dibalik hal tersebut banyak beberapa catatan-catatan permasalahan horizontal yang juga menjadi kelemahan dari sang petahana. Yakni permasalahan beberapa pasar yang menimbulkan resistensi dan konflik di masyarakat dan pedagang dengan para investor serta birokrat. Seperti polemik permasalahan pasar Merjosari, Dinoyo, Belimbing dan lainnya.

Selain itu, permasalahan moda transportasi angkot dengan transportasi online yang sempat meramaikan dan meresahkan masyarakat Kota Malang, dimana sang petahana sebagai sang pembuat kebijakan diangap kurang berani mengambil sikap untuk meredam konflik yang sedang bersitegang kala itu. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here