Menakar Kekuatan Tarung UIang

0
211

Nusantara.news, Jakarta – Apabila pertemuan Susilo Bambang Yudhoyono dan Prabowo Subianto di Cikeas itu melahirkan poros politik baru, Poros Hambalang-Cikeas, maka mereka akan berhadapan diametral dengan Poros Teuku Umar yang dikomandani Megawati.

Artinya dalam pemilu presiden 2019 mendatang, kedua kelompok inilah yang akan saling bertarung. Di Poros Teuku Umar, karena peran Megawati yang masih menentukan, tampaknya akan menampilkan kembali Joko Widodo. Besar kemungkinan dia akan dipasangkan dengan Puan Maharani. Sementara dari Hambalang-Cikeas, Prabowo Subianto kelihatannya akan kembali mencoba peruntungannya menjadi calon presiden. Pasangannya, kalau SBY-Prabowo benar bersatu, mungkin Agus Harimurti Yudhoyono.

Kalau itu yang terjadi, kecuali cawapres yang berganti, berarti pemilu nanti adalah ajang tarung ulang antara Jokowi versus Prabowo.

Apabila diukur kekuatan head-to-head, masing-masing kubu punya kelebihan dan kekurangan. Di kubu Hambalang-Cikeas ada Demokrat dan Gerindra yang juga nyaris memiliki basis massa yang sama. Kedua partai ini pun didirikan oleh dua mantan tokoh Golkar, yakni SBY dan Prabowo.

Untuk poros Teuku Umar ada Nasdem dan Hanura yang sebenarnya didirikan tokoh Golkar, yakni Surya Paloh dan Wiranto. Sehingga, bisa dipastikan basis massanya pun sama dengan Golkar. Tentu saja faktor PDI-P yang memiliki pendukung fanatik sangat determinan di sini. Ditambah pula ada PPP dan PKB.

Kedua partai terakhir ini memiliki basis massa yang sama yakni NU. Namun, pascakasus penistaan agama yang lakukan Ahok, NU struktural tampaknya ditinggalkan massanya. Kalangan NU kultural yang kecewa dengan sikap elit NU akhirnya memilih jalannya sendiri.

Di sisi lain, kondisi internal PPP yang sampai saat ini masih dilanda kisruh dualisme kepemimpinan antara kubu Djan Faridz dan Romi. Dikhawatirkan energi PPP akan habis hanya untuk mengurus konflik yang tak kunjung selesai.

Dengan gambaran kondisi itu, tentu melemahkan kekuatan poros moncong putih. Ditambah lagi dengan tingkat elektabilitas Joko Widodo yang terus menurun karena tingkat kepercayaan rakyat semakin berkurang. Sejumlah kebijakan Jokowi yang dianggap memperparah perekonomian bangsa ditandai melambungnya utang dan tingginya angka kemiskinan. Di antara kebijakan Jokowi yang dampak negatifnya dirasakan langsung rakyat kecil adalah kenaikan tarif listrik.

Sementara Puan Maharani yang seharusnya bisa membantu mengembalikan citra positif Jokowi, tampaknya jauh dari harapan. Sebab, selama Puan menjabat Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), sama sekali tidak ada gebrakan. Selain itu, Puan juga dianggap kurang luwes dan tertutup.

Kalau di kubu Megawati ada PDI-P yang memiliki massa militan, maka di kubu Prabowo – SBY ini ada PKS yang juga memiliki massa fanatik. Militansi kader PKS sudah teruji di sejumlah gelaran pilkada khususnya di Pilkada DKI kemarin. Begitupun dengan PAN yang berbasis massa Muhammdiyah relatif solid. Apalagi, ada figur Amien Rais yang juga tokoh reformasi akan sangat berpengaruh.

Di luar partai, ada kekuatan kelompok Islam. Ormas dan tokoh Islam yang terlibat dalam menumbangkan Ahok saat Pilkada DKI akan ikut dalam barisan Prabowo – AHY. Jika dalam pilkada ada kasus penistaan agama yang menyatukan langkah mereka, maka di Pilpres 2019 kebijakan Jokowi sendiri yang mensolidkannya. Salah satu kebijakan Jokowi yang membuat tokoh dan Ormas Islam merapatkan barisan adalah diterbitkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) Ormas yang sudah “memakan korban” yakni Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Karena itu, Perppu Ormas dianggap ancaman bagi Ormas Islam yang selama ini kritis terhadap Pemerintah. Sebagian bahkan menilai Perppu Ormas diterbitkan sebagai bentuk balas dendam atas kekalahan Jokowi yang mendukung Ahok saat Pilkada DKI. Tak hanya itu, Perppu Ormas juga memunculkan stigma Jokowi anti-Islam.

Apakah benar nantinya hanya ada dua pasang calon yang akan bertarung di Pilpres 2019? Dan kubu mana yang akan memenangkan gelaran pesta demokrasi lima tahunan itu? Siapa pun yang kelak memimpin negeri ini, rakyat berharap akan membawa kemajuan bagi bangsa dan negara. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here