Menakar Mimpi Sandi Membangun LRT Kelas Dunia

0
139
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uni menargetkan dapat membangun kereta ringan (light rail transit--LRT) di DKI Jakarta dengan anggaran mencapai US$25 miliar.

Nusantara.news, Jakarta – Pernah kah Anda membayangkan keliling Jakarta dengan moda transportasi modern, semisal kereta ringan (light rail transt–LRT)? Mungkin belum terbayang, tapi setidaknya itu sudah ada dalam mimpi Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Salahudin Uno.

Sandi menyatakan siap membangun LRT berkelas dunia dengan melakukan kerja sama yang baik dengan dunia usaha dengan nilai investasi US$25 miliar (ekuivalen Rp337,5 triliun).

“Tadi kita kedatangan grup Ratu Prabu Energi. Salah satu usaha besar di Indonesia yang membawa konsep yang sudah cukup matang yaitu membangun lebih dari 200 kilometer tambahan LRT di wilayah Jakarta dan sekitarnya,” kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta pekan lalu.

Wagub memaparkan total investasi atas proyek ini sekitar US$25 miliar itu akan dibangun dalam periode lima tahun yaitu dari 2020 hingga 2025. Adapun total dana yang digalang, sekitar Rp337,5 triliun.

Konsepnya LRT tersebut full business to business tanpa dukungan dari pemerintah dalam pemberian jaminan, serta melibatkan investor Korea, China dan Jepang yang telah mapan di bidang LRT.

“Terus terang kami sangat gembira karena ini adalah satu usulan yang sangat konkret dalam mengatasi masalah kemacetan di ibukota. Ini juga mimpi saya,” kata Sandiaga.

Ia mengatakan PT Ratu Prabu Energi telah melakukan koordinasi dengan BPTJ (Badan Penyelenggara Transportasi Jakarta) maupun Kementerian Perhubungan. Perencanaan proyek ini akan terus dimatangkan dan dilakukan kajian komperehensif terkait lapangan kerja yang akan tercipta selama proyek berjalan.

“Tapi ini akan memastikan bahwa Jakarta punya transportasi berbasis rel yang tidak kalah dengan kota-kota besar di luar negeri,” kata Sandiaga.

Telah ada

Sebenarnya mimpi Sandi bukan barang baru, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. lewat anak usahanya PT WIKA Gedung mulai membangun LRT Koridor 1 Kelapa Gading Velodrome dan Depo LRT Jakarta di Kelapa Gading, Jakarta Utara. LRT buatan WIKA ini diperkirakan memakan biaya investasi sebesar Rp63,43 miliar.

WIKA Gedung merupakan pemenang tender proyek tersebut berdasarkan evaluasi administrasi, teknis, harga, kualifikasi, dan verifikasi yang dilakukan oleh PT Jakarta Propertindo.

Rencananya pembangunan proyek ini akan berlangsung selama 177 hari kalender kerja dengan lingkup pekerjaan yang terdiri atas beberapa komponen utama, yaitu pembuatan usulan denah umum lapangan untuk pembangunan jalan layang LRT, pekerjaan pengadaan dan pemasangan pagar pengaman di area Depot LRT Kelapa Gading.

Selanjutnya, pemotongan pohon eksisting dan penanaman pohon pengganti di area depot dan di sepanjang trase LRT Koridor 1, pembersihan lahan di area depot dan sepanjang Koridor 1 dari depot Kelapa Gading ke Velodrome, investigasi utilitas (test pit di lokasi pier/pondasi, koordinasi dengan pemilik utilitas, menyampaikan laporan gambar atau diagram utilitas untuk di-review dan disetujui oleh engineer).

Artinya, mimpi Sandi bukan lah mimpi biasa dan bukan pula mimpi yang tak bisa dicapai. Buktinya WIKA telah berjalan membangun LRT modern di daerah padat Kelapa Gading-Velodrome.

Untuk kawasan Kelapa Gading seluas 355,13 hektare (3,55 kilometer persegi) dengan waktu kerja 171 hari dan memakan biaya investasi Rp63,43 miliar, maka bisa tergambar berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun LRT.

Jakarta dengan luas 661,52 kilometer persegi, paling tidak dibutuhkan biaya pembangunan LRT hanya Rp11,81 triliun. Lantas untuk apa Sandi menganggarkan membangun LRT senilai Rp337,5 triliun?

Tentu ada rasionalisasinya, yakni tak hanya membangun fisik LRT semata, tapi juga membangun pusat-pusat perkantoran, rusun, apartemen, dan tentu dengan sekaligus memperbaiki saluran yang ada. Sehingga tampilan akhirnya Jakarta bisa lebih indah.

Persoalannya, bagaimana mengejar target nilai investasi sebesar Rp337,5 triliun, bukan angka yang kecil tentunya? Realistis kah?

Kalau ditargetkan pembangunan dilakukan selama lima tahun maka per tahun dibutuhkan biaya investasi Rp67,5 triliun. Artinya tiap bulan membutuhkan biaya Rp5,63 triliun. Tentu bukan angka yang besar buat konglomerat.

Namun demikian hal itu bukan semudah membalik telapak tangan, dibutuhkan daya panggil (call of reference) yang kuat terhadap para investor. Disamping juga arrangement kawan-kawan lama Sandi di dunia finansial serta pengusaha jaringannya, diharapkan dapat menjadi magnet untuk menggolkan LRT Jakarta.

Sehingga dalam rentang lima tahun skenario ini dapat mengubah mimpi Sandi menjadi kenyataan.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here