Menangi Pilkada DKI, Koalisi PKS – Gerindra Berlanjut ke Pilgub Jabar 2018

0
182

Nusantara.news, JAKARTA – Sukses Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memenangkan pasangan calon (paslon) Anies Baswdan – Sandiaga Uno di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta, menginspirasi kedua partai untuk melanjutkan koalisinya pada pertarungan di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat Juni 2018.

Kedua partai memang telah memberi sinyal untuk kembali berkoalisi di Pilgub Jabar nanti. “Kemungkinan besar akan berlanjut di Pilgub Jabar 2018 nanti,” kata Ketua Dewan Penasihat DPD Partai Gerindra Jawa Barat Radar Tri Baskoro, di Bandung, Jumat (20/4).

Menurut Radar, koalisi Gerindra – PKS memang sebaiknya dipermanenkan bukan hanya di Pilkada DKI, tapi juga pada perhelatan perebutan kursi nomor satu di Jabar. Apalagi, jadwal Pilgub Jabar akan dilakukan serentak dengan Pilkada di 16 kabupaten/kota di Jabar.

“Dengan pelaksanaan pilgub yang bersamaan dengan pilkada di sejumlah kota dan kabupaten di Jabar, maka saya kira harus lebih efisien dan lebih baik jika koalisi di pusat satu warna dengan di daerah atau dibuat permanen,” cetusnya.

Siapa calon yang akan diusung di Pilgub jabar? Radar lantas menyebut sejumlah nama, yakni calon dari internal adalah Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerindra Jawa Barat, Mulyadi dan anggota Komisi VIII DPR RI Sodiq Mudjahid. Sedangkan dari eksternal, yakni Ketua Kadin Jawa Barat Agung Suryamal.

Bagaiman dengan Walikota Bandung, Ridwan Kamil yang sebelumnya juga digadang-gadang akan diusung Gerindra? Menurut  Radar, pintu Gerindra sudah tertutup rapat untuk lelaki yang akrab disapa Kang Emil itu. Sebab, Kang Emil sendiri sudah menerima pinangan Partai Nasdem.  “Untuk Kang Emil sudah tidak mungkinlah. Karena, beliau menerima dukungan dari NasDem, di mana syaratnya Nasdem itu salah satunya mendukung Pak Jokowi di 2019, itu artinya sudah tertutup pintu untuk Kang Emil,” ujarnya.

Begitupun dengan Wakil Gubernur Deddy Mizwar, sampai saat ini terlihat ada peluang Gerindra akan mengusungnya.

“Untuk Pak Deddy belum kelihatan peluangnya. Tapi kami nanti akan sodorkan namanya sebagai salh satu calon,  tapi yang memutuskan tetap DPP Gerindra,” jelasnya.

Soal keinginan untuk berkoalisi, sebenarnya sudah disampaikan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) PKS Jawa Barat Ahmad Syaikhu. Bahkan, dia berharap koalisi yang dibangun tidak sebatas di Pilgub Jabar, tapi dipermanenkan di seluruh daerah yang ikut pilkada serentak di Jabar 2018.

“Ya, Insya Allah peluang koalisi di DKI akan dibawa ke Jabar, dan nampaknya juga di daerah-daerah. Bangunan koalisi ini akan kita perkuat, kita berharap koalisi ini bisa juga memenangkan pilkada tingkat kabupaten/kota,” kata dia.

Menyinggung soal nama yang akan didorong, Ahmad belum bersedia membukanya. Menurutnya, sejauh ini masih membuka komunikasi kepada semua calon baik internal maupun eksternal.

Diketahui, DPW PKS Jawa Barat telah mengantungi tiga nama kandidat  dari internal yang diputuskan melalui hasil pemilihan raya (pemira).

Soal siapa calon yang akan diusung koalisi, harus hati hati, karena bisa jadi masalah, terutama jika Gerindra merasa sebagai pemimpin koalisi di Pilkada Jakarta memaksakan agar calonnya yang dijadikan gubernur Jabar. Tentu, PKS tidak semudah itu akan menerima calonnya hanya sebagai wagub. Apalagi, PKS memiliki 12 kursi di DPRD Jabar, sedangkan Gerindra hanya 11 kursi. Dan, perlu dicatat, cagub yang didorong PKS di Pilkada DKI, yakni Mardani Ali Sera harus mengalah demi memberi tempat kepada Sandiaga Uno yang jelas kader Gerindra. Sementara, Anies Baswedan sendiri merupakan kader eksternal dari kedua partai.

Di saat Gerindra dan PKS bersiap untuk koalisi, partai lainnya tampaknya masih terus menjalin komunikasi untuk mencari kawan koalisi. PDIP-Perjuangan masih tenang-tenang saja, mungkin karena memiliki percaya diri lantaran hanya partai banteng-lah (20 kursi)  satu-satunya partai di Jabar yang bisa mengajukan calon sendiri tanpa koalisi.

DPD PDI-Perjuangan sendiri baru membuka loket bagi para cagub untuk mendaftarkan diri pada pertengahan Mei nanti.

“Nanti pada pertengahan Mei tahun 2017 ini, kami dari DPD PDIP Jabar akan membuka penjaringan bakal calon untuk Pilgub Jabar 2018. Dan, pendaftaran dibuka untuk kalangan internal dan eksternal,” jelas Sekretaris DPD PDIP Jawa Barat Abdi Yuhana.

Begitupun dengan Golkar yang menempati posisi kedua perolehan kursi di DPRD Jabar dengan jumlah 17 kursi. Golkar, hanya membutuhkan tambahan tiga kursi saja untuk bisa mengusung cagub dan cawagub. Karena itu, Golkar juga penuh percaya diri mendorong jagoan dari intenalnya, yakni Dedi Mulyadi yang merupakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Golkar Jabar yang juga Bupati Purwakarta.

“Sebagai pemenang nomor dua, kursi kita 17 persyaratan 20 kursi untuk bisa mengajukan calon. Artinya kita juga harus melakukan koalisi. Kita berkoalisi dengan partai siapa, dan yang kedua tentang figurnya siapa, itu semua jadi pertimbangan. Ingat, cagub dan cawagub itu harus solid mewujdukan visi dan misinya. Jadi harus ada komitmen dari awal,” jelas Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Jawa 1 Partai Golkar, Agun Gunanjar Sudarsa.

Soal sosok Dedi, Agun menilai calonnya itu memiliki kelebihan yakni keinginan kuat untuk membangun Jawa Barat jadi lebih baik. Dan, itu sudah dijalaninya selama ini menjadi Bupati Purwakarta.

“Modal dasarnya sudah dimiliki Dedi, yakni semangat membangun Jawa Barat lebih berbudaya lebih baik dan tekad niat kuat, itu modal dasar yang harus diapresiasi,” kata Agun.

Sementara itu, Partai Demokrat masih terus menjajaki kemungkinan koalisi dengan partai lain, mengingat Demokrat di DPRD Jabar hanya memiliki 12 kursi.

Ketua DPD Demokrat Jabar Iwan Sulandjana membeberkan, dengan jumlah kursi itu, tentu nanti baik partainya maupun partai yang nanti akan diajak berkoalisi akan mengajukan calonnya. Tapi, jika hasil suvei internalnya mengunggulkan calon Demokrat, maka tentu akan mendorong kadernya sendiri untuk maju menjadi cagub.

Soal penjaringan nama calon, sama dengan PDI – Perjuangan, Partai Demokrat pun baru akan melakukan penjaringan nama cagub/cawagubnya pada Mei mendatang. Meskipun sudah ada dua nama yang digadang-gadang untuk maju, yakni Ketua Komisi IX DPR RI Dede Yusuf dan Ketua DPD Demokrat Jabar yang juga mantan Pangdam III/Siliwangi  Iwan Sulandjana.

Kedua nama tersebut, muncul dari hasil survey internal Democrat. Namun begitu, tidak tertutup kemungkinan akan muncul nama lain setelah penjaringan dilakukan.

“Hasil survey internal memang nama saya dan Kang Dede diunggulkan, tapi, itu bisa jadi berubah, karena dinamis atau fleksibel,” jelas Iwan. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here