Menangi Suara Mataraman, Menangi Pilgub Jatim

0
349
Khofifah Indar Parawansa bergerilya mencari calon wakil sesuai permintaan para kiai, yakni santri nasionalis. Figurnya diharapkan berasal dari wilayah Mataraman karena zona tersebut bisa menjadi kunci kemenangan Pilgub Jatim.

Nusantara.news, Jawa Timur – Pertarungan pemilihan gubernur (Pilgub) Jawa Timur 2018 bakal berjalan alot. Duel Saifullah Yusuf versus Khofifah Indar Parawangsa menjadi tak terelakkan. Ini pertemuan kedua bagi mereka setelah Pilkada sebelumnya 2008 dan 2013. Lagi-lagi, wilayah Mataraman diprediksi menjadi kantong kemenangan bagi kontestan Pilkada Jatim 2018.

Provinsi Jawa Timur terbagi dalam empat wilayah (tlatah), Mataraman, Arek, Pandalungan dan Madura. Posisi geografis wilayah tersebut yang kemudian membedakan karakteristik, kultur dan kebudayaan masyarakatnya. Termasuk haluan politik dalam menyalurkan aspirasi demokrasi.

Menurut catatan Koentjaraningrat, terdapat tujuh unsur kebudayaan dan Jawa Timur terbagi ke dalam sepuluh tlatah. Yakni, sistem religi, sistem organisasi masyarakat, sistem pengetahuan, sistem mata pencaharian atau sistem ekonomi, sistem teknologi, peralatan, bahasa, serta kesenian.

Baca juga: Tlatah Arek-Mataraman, Peta Politik Dua Kekuatan Besar Khofifah-Gus Ipul

Di pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Jawa Timur yang akan digelar Juli 2018 mendatang, akan terjadi tarik-menarik bagi kekuatan Khofifah dan Gus Ipul khususnya pendukung di wilayah Arek dan Mataraman. Alasannya, kedua sosok tersebut memiliki daya magnet besar yang didambakan muncul sebagai pimpinan. Belum lagi kedua tokoh NU tersebut memiliki basis pemilih loyal.

Masyarakat di wilayah Arek dikenal dengan karakternya yang terbuka, tanpa basa-basi, penuh semangat, pemberani dan bondo nekat. Sementara wilayah Mataraman masih mendapat pengaruh yang kuat dari budaya Kerajaan Mataram. Bila melihat dari adat istiadatnya, masyarakat di wilayah Matraman memang mirip dengan masyarakat di daerah Jawa Tengah terutama Yogyakarta dan Surakarta. Hal yang paling mencolok adalah penggunaan bahasa Jawa yang masih terkesan halus meski tidak sehalus masyarakat di Yogyakarta dan Surakarta.

Cara pandang hidup masyarakat Mataraman juga masih dipengaruhi filsafat hidup Jawa. Cara pandang hidup orang Jawa merupakan gabungan alam pikir Jawa tradisional, kepercayaan Hindu atau Buddha, ajaran filsafat India dan mistisisme Islam. Sedangkan dasar masyarakat Jawa adalah kekeluargaan, gotong royong dan berketuhanan.

Baca juga: Filosofi-Romantisme Dalam Budaya Mataraman Jawa Timur

Dalam Pilgub 2013, daerah Madura sempat menjadi perebutan suara bagi Soekarwo dan Khofifah Indar Parawansa. Hal ini dikarenakan adanya dugaan kecurangan suara pemilih. Bahkan untuk mengesahkan hasilnya, pemilihan digelar hingga tiga kali.

Namun khusus wilayah Mataraman, di sinilah pertarungan yang sebenarnya terjadi. Kawasan yang terdiri dari wilayah Lamongan, Gresik, Tuban, Bojonegoro, Nganjuk, Madiun, Kediri, Ponorogo, Magetan, Pacitan, Trenggalek, Blitar dan Tulungagung, bakal menjadi medan perang dua kandidat. Ya, berasal dari kultur sama-sama NU, Mataraman merupakan daerah merah yang selama ini menjadi basis PDIP.

Bupati Ngawi Jawa Timur Budi “Kanang” Sulistyono yang notabene politisi PDIP bahkan mengakui wilayah Mataraman sangat seksi untuk diperebutkan. Dia berharap, lawan Gus Ipul (yakni Khofifah) tidak mengambil tidak mengambil figur calon dari kawasan Mataraman. Jika itu terjadi tentu kerja politik pemenangan PDIP akan semakin berkeringat.

Hal ini agak miris di mata Kanang. Tidak adanya figur calon dari wilayah Mataraman, membuat PDIP harus bekerja lebih keras. “Karena kosong (tidak ada calon dari mataraman), tentu PDIP akan bekerja lebih keras. Malah bagus kalau kosong (tidak ada calon dari Mataraman). Kalau ada malah jadi masalah,” ujar Kanang.

Kanang sendiri gagal mendapat rekomendasi Megawati Soekarnoputri. Pendamping Gus Ipul jatuh pada Azwar Anas. Sayangnya, bupati Banyuwangi itu hanya kuat di wilayah Arek. Meski tidak terpilih sebagai penerima rekomendasi dan Mataraman gagal memiliki figur yang mewakili daerahnya, Kanang mengaku siap bertempur habis-habisan. “Kita dukung habis. PDIP tidak boleh lelah,” tegasnya.

Memang, secara geopolitik zona Mataraman merupakan basis suara terbesar PDIP. Di setiap perhelatan pemilu, Mataraman menjadi kunci kemenangan PDIP. Suara akan semakin terjaga jika salah satu figur (cagub dan cawagub) yang diusung PDIP berasal dari sana. Sementara pasangan Gus Ipul dan Anas sama-sama berasal dari kawasan tapal kuda (Pasuruan dan Banyuwangi).

Guru Besar Ilmu Sosiologi Universitas Airlangga (Unair) Hotman Siahaan, mengatakan hal senada. Setelah Khofifah mendapatkan dukungan para kiai senior NU yang berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, guna menyusun kekuatan menghadapi Gus Ipul-Azwar Anas, tampaknya Khofifah juga akan memobilisasi kekuatan dari sosok calon wakilnya. Menurut Hotman, Khofifah bakal mencari tandem dari wilayah Mataraman yang tidak terwakili dalam konfigurasi calon usungan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Kebangkitan Bangsa.

Berkaca dari dua kontestasi sebelumnya, pasangan pemimpin ideal di provinsi paling timur Pulau Jawa itu adalah nasionalis dan religius. Gus Ipul dengan pendampingnya dari wilayah Arek, maka Khofifah dengan pendampingnya dari wilayah Mataraman. “Kalau Khofifah bawa orang Mataraman, pasti seru Pilgub 2018. Bisa ketat hasilnya,” kata Hotman.

Sampai saat ini dukungan resmi buat Khofifah baru berasal dari Golkar dan Nasdem. Namun Demokrat besar kemungkinan Partai Demokrat merapat ke Khofifah. Kecil kemungkinan bagi Demokrat untuk memberikan dukungan bagi calon asal PDIP karena riwayat perseteruan dua elitenya.

Baca juga: Siapa pun Calonnya, Sosok Ini Penentu Kemenangan Pilgub Jatim

Partai Mercy juga mengkalkulasi tidak mendapatkan keuntungan berarti bila hanya menjadi pendukung Gus Ipul-Azwar Anas. Apalagi, Demokrat masih ingin melanjutkan estafet Jatim-1 dari Gubernur Soekarwo yang merupakan kadernya.

Hotman mengatakan apabila koalisi yang dimotori Golkar-Demokrat ini terbentuk, maka langkah mereka selanjutnya adalah mencari Cawagub. Sebagai partai nasionalis, keduanya dipastikan menyodorkan calon asal Mataraman sebagai pendamping Khofifah.

Belum lagi Demokrat selama ini sangat perkasa dan mampu menandingi PDIP di wilayah Mataraman. Hal itu dapat terlihat dari Pemilu Legislatif (Pileg) di mana suara Edhi Baskoro Yudhoyono (Ibas) masih menjadi mascot. Ibas bahkan berhasil mendulang suara terbanyak dibandingkan calon legislatif (Caleg) DPR-RI lain. Diakui tim pemenangan Ibas, dalam Pileg 9 April 2014, suaranya ada penurunan dibandingkan di Pileg 2009 lalu. Namun, penurunan suara Ibas di daerah pemilihan (Dapil) 7 ini tidak begitu berarti.

Karena keberhasilan Ibas mengeruk suara ini, mampu mengatrol suara Partai Demokrat sehingga total mencapai 70.815, mengungguli PDIP yang memperoleh total suara 59.806. Keberhasilan Ibas mempertahankan perolehan suara di wilayah Mataraman ini karena selama lima tahun menjadi wakil masyarakat di Dapil 7, Ibas konsisten dengan janji-janjinya.

Gerilya Khofifah Mencari Pasangan

 Hanya kurang satu yang belum dimiliki Khofifah, yakni calon pendamping. Belum diumumkannya calon pendamping, tak pelak membuat Khofifah terus bergerilya menemui sejumlah tokoh dan kiai untuk menentukan calon wakilnya.

Sempat ada usulan agar Khofifah memilih Bupati Trenggalek Emil Dardak. Alasannya Emil dapat meraup suara dari kalangan muda terutama di wilayah Mataraman. Emil dinilai dapat mengimbangi Khofifah yang memiliki kekuatan basis suara dari Nahdlatul Ulama (NU).

Selain Emil, nama Bupati Ponorogo Ipong Muchlissoni juga sempat disinggung bakal menjadi cawagub Khofifah. Ya, pasangan Khofifah-Ipong dipercaya akan membuat konstelasi politik Jawa Timur menjelang Pilgub makin hangat. Sebab keduanya bisa saling melengkapi secara politik. Khofifah yang identik dengan santri dan Muslimat NU akan dilengkapi dengan Ipong yang identik dengan figur nasionalis dan Abangan. Apalagi Ipong punya hubungan yang harmonis dengan warga Nahdliyiin karena kakeknya pernah menjadi Ketua PCNU Kabupaten Ponorogo.

Direktur Eksekutif Bangun Indonesia Agus Mahfud Fauzi mengungkapkan, figur Ipong bisa juga diidentikkan dengan keterwakilan wilayah Mataraman yang tidak terwakili di pasangan Saiful-Anas. Ceruk pemilih di wilayah Mataraman ini bisa saja bersimpati pada pasangan Khofifah-Ipong karena ada figur Ipong yang dianggap mewakili mereka.

“Saya kira pasangan Khofifah – Ipong bisa saling melengkapi secara politik. Mereka bisa mengimbangi pasangan Saiful – Anas yang sudah lebih dulu running,” beber Dosen Universitas Negeri Surabaya (UNESA) ini.

Komisioner KPU Jatim periode 2009-2014 ini menambahkan, meskipun posisi calon wakil gubernur hanya pendamping, namun Ipong harus mulai meningkatkan elektabilitas sebagai bakal calon kepala daerah. Karena kalau bicara prestasi, Bupati Ponorogo itu belum punya prestasi monumental seperti Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi atau Suyoto di Bojonegoro. “Pak Ipong harus menaikkan elektabilitas bila mau berpasangan dengan Khofifah. Dengan begitu akan makin menguatkan figur Khofifah yang elektabilitasnya sudah tinggi,” tandas akademisi asal Ponorogo ini.

Mahasiswa Doktoral di Universitas Airlangga (Unair) ini menjelaskan, sebagai politisi kawakan Ipong memiliki jaringan yang kuat tidak hanya di Ponorogo tapi juga di wilayah sekitar. Kalau mantan Ketua Partai Gerindra Kalimantan Timur itu fokus menggarap wilayah Mataraman saja, itu sudah modal politik yang besar menuju kemenangan, karena Khofifah sudah kuat di Tapal Kuda dan sebagian Madura. Apalagi kalau bisa mengakomodir kekecewaan massa PDIP di wilayah Mataraman yang kecewa tidak terpilihnya Kanang sebagai pendamping Gus Ipul.

Terlebih, bila nantinya Partai Demokrat secara resmi mendukung pasangan Khofifah-Ipong. Hal itu akan menjadi keuntungan buat mendulang suara terutama di wilayah Mataraman. Sebab Pakde Karwo punya pengaruh dan basis massa yang besar di wilayah ini. “Kalau Pakde Karwo turun berkampanye di wilayah Mataraman, maka wilayah ini bisa dikuasai oleh pasangan Khofifah-Ipong. Itu dengan catatan Demokrat mendukung pasangan ini,” jelas Agus.

Namun, agaknya Demokrat memiliki pandangan berbeda. Merespons munculnya Gus Ipul-Mas Anas, Demokrat justru tertarik untuk menyandingkan Khofifah dengan tokoh muda. Untuk menggaet suara Mataraman, Demokrat mengusulkan kadernya sendiri yakni Ony Anwar yang kini menjabat Wakil Bupati Ngawi.

“Putra Pak Harsono (Ony Anwar), Bupati Ngawi dua periode yang sekarang menjadi Direktur RSU dr Soetomo. Beliau sendiri masih umur 37 tahun. Beliau Ketua KNPI, Ketua Badan Amil Zakat, dan Ketua Badan Narkotik di Ngawi,” ujar Sekretaris DPD Partai Demokrat Jawa Timur Renville Antonio di sela acara diskusi ‘Peta Politik Warga NU Pasca Penetapan Gus Ipul-Anas sbg Cagub-Cawagub PKB dan PDIP dlm Pilgub Jatim’ yang digelar Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Jawa Timur di sebuah rumah makan di Surabaya, Senin (16/10/2017).

Baca juga: Tambah Kekuatan Khofifah, Demokrat Munculkan Kader Muda

Renville menambahkan, bukan hanya warga Ngawi yang dilihatnya, tetapi animo warga di kabupaten lain, mulai Magetan, Ponorogo, sampai Madiun, juga bereaksi sangat baik. Apakah Ony dapat menguasai suara dari warga Mataraman di Pilgub Jatim 2018?

Renville menyebut, Ony merupakan sosok alternatif Mataraman yang berasal dari kader muda. Sebab, saat ini banyak figur Mataraman yang sudah berumur. Pilihan Demokrat Jatim menjatuhkan pilihan ke Ony (Wabup Ngawi) karena sosoknya baru. Demokrat Jatim sendiri sudah mengirimkan nama-nama bakal calon gubernur dan wakil gubernur. Karena adanya perubahan peta politik setelah Ketum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengumumkan duet Gus Ipul-Anas, Demokrat langsung gerak cepat mencari bacawagub mendampingi Khofifah untuk menyaingi duet yang diusung PKB-PDIP. Salah satunya melakukan hasil penjajakan ke Ony Anwar dari kabupaten hingga kota.

Meski sudah memiliki nama-nama untuk calon pendamping, namun semua pilihan kembali ke Khofifah. Hingga saat ini Khofifah sendiri masih enggan mengomentari pasangannya. Ia tetap ‘berikhtiar’ untuk menentukan siapa pasangan yang paling cocok mendampinginya di Pilgub, termasuk intens mendatangi para kiai di Jatim.

Bagi Khofifah, peran kiai sangat penting dalam menentukan sosok terbaik yang akan ikut dicalonkan memegang amanah warga Jawa Timur. Ia juga mengapresiasi sikap partai pengusung yang turut mendukung langkah tersebut. Termasuk partai menentukan pilihan siapa yang akan dimajukan untuk bertarung di Pilgub Jatim 2018.

Khofifah mengungkapkan, tim yang membantunya mencari pendamping untuk Pilkada Jawa Timur dinamai Tim Sembilan. Tim tersebut diisi oleh sejumlah kiai sepuh seperti KH Solahudin Wahid, Kiai Saiful halim, dan lainnya. Menurut dia, tim tersebut menyarankan agar dirinya mencari pendamping berlatar belakang santri nasionalis. “Intinya adalah kalau mau mencari calon wakil itu diminta oleh para kiai yang santri nasionalis. Itu bahasa mereka (kiai sepuh),” ujarnya.

Ketua Umum Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) itu pun mengaku bahwa partai-partai yang mengusungnya sepakat dengan masukan para kiai. “Saya menyampaikan bahwa kepada partai, izinkan saya meminta pertimbangan dengan para kiai dan para sepuh dulu. Alhamdulillah masing-masing (partai) tidak mempersyaratkan bahwa calon wakilnya dari partai yang bersangkutan. Jadi komunikasi dengan ketua umum partai juga sangat penting. Mereka memberikan kesempatan kepada saya untuk mengkomunikasikan dengan beberapa elemen yang signifikan di Jawa Timur untuk memberikan pertimbangan, siapa yang akan disiapkan menjadi calon wakil gubernurnya,” pungkasnya.[]

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here