Menantang Tito Karnavian

0
493

PEKAN lalu beredar di jagat media sosial, surat pemanggilan Kapolri Jenderal Tito Karnavian oleh KPK untuk diperiksa sebagai tersangka atas dugaan tindak pidana korupsi penerimaan suap dari petinggi CV Sumber Laut Perkasa. Surat bernomor Spgl/5511/Dik.01.00/40/10/2018 tertanggal 29 Oktober 2018 itu tentu bukan surat asli. “Itu surat palsu,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo di Jakarta, Jumat (26/10/2018).

Isu suap untuk Tito Karnavian ketika menjabat Kapolda Metro Jaya ini berawal dari laporan Indonesialeaks, sebuah platform investigasi bersama dari beberapa media. Investigasi itu menemukan sebuah buku bank bersampul merah yang mencatat adanya aliran uang kepada Kapolda Metro Jaya. Buku itu merupakan salah satu barang bukti kasus korupsi yang menjerat bos CV Sumber Laut Perkasa Basuki Hariman dan anak buahnya Ng Fenny.

Namun, menurut laporan Indonesialeaks, buku tersebut dirusak oleh dua penyidik KPK,  yang merupakan perwira aktif Polri. Kedua penyidik merobek 15 lembar catatan transaksi dalam buku itu. Keduanya diduga membubuhkan tipp ex untuk menghapus sejumlah nama penerima uang dari perusahaan Basuki Hariman. Hal itu terekam dalam CCTV di ruang kolaborasi lantai 9 Gedung KPK pada 7 April 2017.

Laporan itu tak pelak lagi membuat heboh. Kapolri Tito Karnavian tentu saja membantah tuduhan itu. Sementara Indonesialeaks bersikeras temuannya bukan hoaks, sebab buku bersampul merah itu memang ada, dan rekaman CCTV perusakan buku itu pun ada. Secara jurnalistik pun, proses investigasinya tidak pula cacat.

Tapi, sampai di situ, cerita berhenti. Tak ada kelanjutan apa pun. Padahal, banyak yang mengharapkan Tito Karnavian menggugat laporan tersebut secara hukum, agar dapat dibuktikan siapa yang salah. Sayangnya kesempatan itu tidak digunakan Kapolri –mungkin karena kesibukannya atau karena ada pertimbangan yang lain.

Entah karena cerita tak berlanjut, muncullah hoaks surat pemanggilan Kapolri oleh KPK. Seandainya ada proses penyelidikan yang serius dan independen mengenai kebenaran laporan Indonesialeaks itu, besar kemungkinan hoaks tersebut tak akan muncul.

Tentang hoaks surat KPK ini, Polri akan mencari siapa pelakunya. “Direktorat Tindak Pidana Siber Polri akan mencari siapa yang menyebarkan dan membuat,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto.

Menurut kita, tentang perkara ini bukan sekadar membantah atau mencari siapa penyebar fitnah. Tapi yang terpenting adalah membuat terang semua yang gelap. Sebab, fitnah, hoaks atau syak wasangka tak akan hidup di tempat terang, dan hanya bisa berkembang dalam gelap.

Karena itu, Kapolri mestinya yang berinisiatif menyinari kegelapan itu dengan membawa perkara ke tempat terang. Ketimbang sibuk membantah dugaan korupsi itu, akan sangat bermanfaat Polri justru bersikap proaktif dengan meminta KPK untuk mengusut dugaan tersebut. Atau, akan lebih indah, jika Tito Karnavian sendiri yang datang langsung ke KPK untuk diklarifikasi. Akan sangat dahsyat dampaknya jika Polri juga meminta bantuan PPATK untuk membuktikan apakah benar ada transfer dana seperti yang dituduhkan.

Bahkan ini bisa menjadi semacam “negative marketing” yang jitu untuk makin memperkuat citra transparansi dan akuntabilitas Polri.

Berbagai survei masih menempatkan Polri sebagai salah satu lembaga yang dianggap paling korup. Untuk tahun 2017, Indonesia Corruption Watch (ICW), misalnya, memposisikan Polri di urutan teratas terkorup. Sementara survei Global Corruption Barometer (GCB) 2017 yang disusun Transparency International Indonesia (TII), menempatkan Polri di posisi keempat, setelah duduk di peringkat pertama di tahun 2013.

Meski Polri membantah, tetapi itulah anggapan publik, setidaknya publik yang disurvei sebanyak seribu orang dari seluruh Indonesia.

Semua benang kusut ini akan teratasi ketika Tito Karnavian, alih-alih  membantah tuduhan Indonesialeaks, tapi justru meminta KPK untuk mengusut tuduhan kepada dirinya, dan membuka semua akses yang diperlukan..

Dengan mendatangi KPK, Tito seperti memainkan prinsip sepakbola, attack is the best defence. Konon Sir Alex Fergueson pernah bilang, “Attack wins you games, defence wins you titles.”

Tetapi, dalam melakukan serangan, tentu harus mengukur kekuatan diri sendiri dan kekuatan lawan. Sebagai jenderal, Tito pasti sangat paham soal itu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here