Menanti “Duel” Jokowi-Mahfud Vs Prabowo-Sandi di Pilpres 2019

0
232
Prabowo-Sandiaga (kiri) dan Jokowi-Mahfud (kanan)

Nusantara.news, Jakarta – Tampaknya, pertarungan di Pilpres 2019 sudah mulai ada titik terang. Jika sebelumnya orang masih menebak-nebak misteri inisial “M”: bisa Mahfud MD, Ma’ruf Amin, Moeldoko, Mulyani, atau Muhaimin sebagai cawapres Jokowi, dan inisial “A” untuk cawapres Prabowo: mungkin Abdul Somad, Anies Baswedan, Agus Harimurti Yudjoyono, mungkin juga Ahmad Heryawan, kini dua pasang calon sudah terbentuk. Ada Jokowi-Mahfud MD dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Akankah dua pasangan itu benar-benar naik ring Pilpres 2019? Entahlah. Yang jelas, indikasi mengarah ke sana amat kuat.

Sejauh ini diketahui ada 4 tokoh yang mengurus syarat Pilpres 2019 ke pengadilan. Jokowi, Prabowo, dan Sandiaga Uno sudah mengurus surat tidak pailit ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat. Sementara Mahfud Md mengurus dokumen syarat ikut Pilpres 2019 ke PN Sleman. Tentu saja kepastiannya masih harus menunggu deklarasi kedua kubu: kabarnya hari ini.

Drama penentuan cawapres Jokowi dan Prabowo hingga detik akhir pendaftaran memang diwarnai berbagai spekulasi dan semakin dinamis. Keduanya sama-sama tersandera siapa cawapres definitif yang bisa diterima semua anggota koalisi. Di pihak Jokowi, masih ada batu sandungan dengan isu hengkangnya PKB jika Muhaimin Iskandar tak jadi pendamping Jokowi.

Begitu pula di pihak Prabowo, kesepakatan koalisi masih alot karena PKS dan Demokrat masih ingin kadernya menjadi cawapres. Koalisi ini bahkan sempat menengang setelah elite Partai Demokrat menyebut Prabowo “Jenderal Kardus” karena kecewa terhadap langkah Prabowo yang tak cakap dalam memperhitungkan harmonisasi koalisi.

Di kubu Prabowo, munculnya nama Wakil Gubernur DKI Jakarta di detik-detik akhir pendaftaran capres-cawapres ini tentu mengejutkan banyak pihak. Selain dianggap sama-sama dari partai Gerindra yang dikhawatirkan tak akan banyak mendongkrak elektabilitas pasangan ini, juga berpotensi tak mendapatkan dukungan total dari basis massa PKS ataupun Demokrat.

Pun begitu, Sandi dianggap bisa merebut suara pemilh muda yang jumlahnya lebih dari 50 persen dari total jumlah pemilih pada Pilpres 2019. Dia juga diyakini mewakili kombinasi militer-sipil, Jawa-luar Jawa, dan Tua-Muda. Pun jangan lupa, tampilan luar seperti wajah tampan Sandi dan estetika lainnya, masih jadi penentu preferensi pemilih tradisional. Di luar itu, sebagai orang yang pernah masuk jajaran orang terkaya di Indonesia versi Forbes, Sandi dinilai mampu “mengamankan logistik” pencapresan Prabowo.

Sementara di kubu Jokowi, dipilihnya Mahfud MD sebagai cawapres tak terlalu mengejutkan sebab namanya masuk dalam lima nama yang ada di kantong Jokowi. Mahfud dianggap bisa melengkapi Jokowi, utamanya dari segi kepakarannya dalam bidang hukum dan pengelolaan tata pemerintahan. Karier kenegeraannya bahkan telah melintasi tiga ranah politik (trias politik): Legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Mantan Ketua mahkamah Konsitusi ini pun bisa masuk ke semua kelompok Islam (tradisional dan modern) sehingga kehadiranya bisa menangkal sentimen anti-Islam yang melekat pada Jokowi.

Hanya saja, faktor geopolitik barangkali yang bakal menjegal langkah Mahfud dan Jokowi dalam Pemilu 2019. Fakta bahwa Jokowi dan Mahfud sama-sama berasal dari Pulau Jawa, akan berpengaruh besar dalam perolehan suara di berbagai wilayah Nusantara lain. Selain itu, Mahfud dipandang kurang cocok untuk mendampingi Jokowi dalam pemerintahan Indonesia yang tengah menggenjot laju pertumbuhan ekonomi. Mahfud jelas bukan pakar soal ini. Terakhir, dia kurang “diakui” sebagai kader NU dan masih terjadi penolakan dari PKB terhadap pen-cawapresan-nya.

Kembali ke dua pasang kandidat tersebut, sesungguhnya hingga saat ini masih menyisakan pertanyaan di benak publik: apakah pasangan Prabowo-Sandi dan Jokowi-Mahfud itu sekadar gimmick atau memang fakta? Lagi-lagi kita hanya bisa menunggu.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here