Menanti Pendamping Khofifah di Pilgub Jatim

0
100
Khofifah Indar Parawansa menghadiri acara wisuda di Surabaya (Nusantara.news)

Nusantara.news, Surabaya – Khofifah Indar Parawansa mengatakan kesiapannya maju di Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jatim 2018, sudah bulat dan “modal” yang dimiliki sudah cukup. Dia menyebut, tim 9 (terdiri dari para kiai di Jatim) yang diketuai oleh KH Shalahuddin Wahid akan mengumumkan hasil survei terhadap 8 nama yang sebelumnya telah diinventarisir dan dibahas oleh tim 9, sebagai bakal cawagub.

“Berikan kesempatan, tim survei sedang turun. Pesan dari tim kiai, yang diketuai oleh KH Shalahuddin Wahid pada saat itu, meminta supaya hasil survei dilaporkan hasilnya, itu bisa disampaikan pada 5 Nopember 2017,” ujar Khofifah usai menghadiri Wisuda Institut Agama Islam Al Khoziny di Gedung DBL Arena di Jalan Ahmad Yani Surabaya Minggu, (29/10/2017).

Menteri Sosial RI itu menambahkan, tanggal 5 Nopember itu adalah pengumuman hasil survei, bukan sosok nama bakal calon wakil gubernur yang akan mendampingi dirinya. Dari survei tersebut masih akan ada tahapan selanjutnya.

“Kalau sudah ada hasilnya, akan dikomunikasikan dengan para pimpinan partai. Setelah dengan pimpinan partai final, barulah akan kita sampaikan, siapakah yang akan bersama-sama dalam formasi Pilgub Jatim 2018,” terangnya.

Khofifah juga meminta agar para pendukungnya bersabar dan ikut mendoakan agar hasilnya adalah yang terbaik termasuk hasil penjaring yang dilakukan oleh tim kiai. Saat ini, tim survei masih terus menggodok delapan nama yang masuk dan diinventarisir sebagai bakal calon wakil gubernur yang akan mendampingi Khofifah.

Khofifah menjelaskan, soal survei yang dilakukan oleh tim tidak hanya soal angka saja. Tetapi juga faktor lain yang merujuk pada karakter, kredibilitas dan lainnya menyangkut bakal calon, termasuk soal potensi keterpilihannya.

“Kemudian akan dibuat semacam swot analisis. Strengths atau kekuatannya, kelemahannya, opportunity dan lainnya. Seperti itulah yang akan dilakukan,” ungkap Khofifah menjelaskan kepada wartawan yang hadir di acara itu.

Selebihnya, lanjut Ketua Umum PP Muslimat NU itu tim juga akan memastikan bahwa dukungan dan usulan dari partai-partai pengusung juga terwakili dengan hasil survei yang dilakukan oleh tim 9.

Untuk diketahui, aroma jelang Pilgub Jatim yang akan digelar Juni 2018, terus menyeruak, kemunculan dua nama beken dari Nahdlatul Ulama (NU), Saifullah Yusuf atau Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa terus menjadi bahasan. Tetapi tak kalah menariknya banyak yang membahas soal teka-teki kemunculan sejumlah nama muda alias dari generasi milenial. Mereka diharapkan akan membawa perubahan tak hanya di kancah politik, tetapi juga untuk masa depan Provinsi Jatim untuk menjadi lebih baik.

Sejumlah nama yang terus disebut itu di antaranya Abdulah Azwar Anas, Emil Dardak, serta Agus Harimurti Yudhoyono anak mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Nama-nama tersebut digadang untuk bisa mendampingi Khofifah di Pilgub Jatim, 2018.

Lantas, siapa di antara mereka yang layak ikut maju sebagai bakal calon gubernur? Peneliti Politik, Mochtar W Oetomo menyebut, kalau nama AHY kemungkinannya kecil untuk bisa berlaga di Pilgub Jatim. Menurutnya, karena orientasi politik AHY bukan untuk di Pilgub Jatim, tetapi untuk nasional.

“Menurut saya, AHY adalah untuk politik nasional, bukan untuk Pilgub Jatim,” terang Mochtar.

Sementara, nama Emil Dardak masih menurut dosen Universitas Trunojoyo, Bangkalan, Madura itu, disebutkan Emil sepertinya yang paling besar kansnya. Karena dia akan bisa diterima oleh semua partai pengusung.

“Kalau Emil, menurut saya dia memiliki daya ledak dan potensi elektoral yang bisa menandingi Anas,” terangnya.

Nama Emil, disebut juga memenuhi kriteria sebagai santri nasionalis dan dari Mataraman. Kriteria itu sepertinya sama dengan keinginan yang diharapkan bisa mendampingi Khofifah.

Sebagai sosok muda yang punya kharisma, pintar dan cerdas nama Emil lanjut dia juga dijagokan oleh Partai Demokrat. Kekuatan itu akan ditopang langsung oleh keberadaan SBY dan Soekarwo sebagai simbol kekuatan Demokrat di Jatim.

Soekarwo Dukung Khofifah di Pilgub Jatim

Khofifah Indar Parawansa

Masih kata lelaki berkacamata itu, kekuatan nama Emil serta dukungan SBY dan Soekarwo akan total diberikan untuk Khofifah, itu lantaran nama Emil juga diusulkan oleh Partai Demokrat untuk bisa mendampingi Khofifah maju di Pilgub Jatim 2018.

“Sehingga tidak perlu kuatir, karena Demokrat dan Pakde Karwo akan mendukung koalisi pengusung KIP (Khofifah Indar Parawansa-red),” tegasnya.

Sementara, soal munculnya kabar “ancaman” dan terkait keanggotaan PDIP, itu karena posisi Emil juga diharapkan akan kuat dan juga memiliki peluang jika diusung oleh “poros alternatif” misalnya yang akan dimunculkan oleh Partai Gerindra, PAN dan PKS sebagai bakal calon wakil gubernur bukan sekedar untuk posisi cawagub.

“Jika benar, ini pilihan yang lebih menarik,” tambahnya.

Jika Emil tidak bersedia kemungkinannya adalah nama Ipong dan Hasan Aminuddin. Maka, jika nasionalis Mataraman adalah syarat yang kaku jadinya peluang munculnya nama Ipong akan lebih besar termasuk juga nama Hasan Aminuddin.

Tidak salah jika nama Khofifah sangat laris dan paling banyak disebut oleh sejumlah kalangan dan pengamat. Mereka memastikan sejumlah nama terus menanti untuk bisa bersanding dengan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan di era Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid itu.

Seminggu terakhir, nama-nama tenar yang terus dispekulasikan bisa mendampingi Khofifah adalah, jika dari wilayah Mataraman muncul nama Emil Dardak yang saat ini menjabat sebagai Bupati Trenggalek, juga ada nama Muchlissoni alias Ipong yakni Bupati Ponorogo, kemudian Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang juga Ketua Umum Partai Demokrat.

Soal munculnya nama-nama milenial tersebut, peneliti Surabaya Survey Center (SSC) Surochim Abdussalam menilai sosok AHY paling ideal mendampingi Khofifah dan bakal lebih unggul menandingi Abdullah Azwar Anas.

“Menurut saya, paling banyak memenuhi kriteria adalah AHY,” katanya.

Ditambahkan, AHY selain populer pasca mengikuti Pilkada DKI Jakarta, dia juga sebagai sosok muda yang cerdas, dan memiliki relasi karena dari keluarga mantan presiden.

“Dukungan amunisi finansial juga kuat, ditambah lagi basis massa Partai Demokrat juga kuat. Itu nilai plus yang dimiliki AHY dibanding dengan calon lainnya,” terangnya.

Jika yang menguat benar-benar nama AHY, maka kekuatan pasangan Khofifah nantinya akan semakin lengkap, karena memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh pasangan lain. Wilayah atau basis pilihan pasangan yang bersanding dengan Mensos itu tidak akan beririsan dengan Khofifah.

“Artinya bisa menyumbang suara signifikan. Khofifah kuat di Pantura, AHY punya basis massa Demokrat dan akan kuat di Mataraman,” terangnya.

Ditambahkan, satu hal lagi yang menjadi kekuatan lain atau faktor X, yakni kekuatan relasi yang tidak tidak disangka sebelumnya.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here