Mencari Sosok The New Leader of Jatim

1
232

Nusantara.news, Surabaya – Mencari sosok penerus tongkat estafet Gubernur Soekarwo bukan urusan gampang. Ke depan, pemimpin Jawa timur ini harus paham dan mengerti tentang kondisi yang dihadapinya, termasuk juga dengan segala aspek kehidupan dari masyarakat Jatim itu sendiri. Apakah harus pemimpin yang populer tapi pemikirannya kosong? Ataukah pemimpin yang tidak hanya baik dalam pencitraan tapi punya semangat untuk membenahi Jatim lebih baik lagi?

Menurut Budayawan MH Ainun Nadjib yang akrab disapa Cak Nun saat menyinggung kriteria pemimpin masa depan di Jatim adalah seorang pemimpin yang paham betul karakteristik dari wilayah yang akan dipimpinnya. Termasuk juga paham dengan permasalahan yang sedang dihadapi,

“Pencitraan itu adalah pemalsuan, bibirnya hitam dikasih merah. Yang merah itu bibirnya apa falsunya, itulah pencitraan. Setiap calon Gubernur selalu melakukan pencitraan.”

Itulah sepenggal pesan dari Cak Nun yang ditujukan kepada setiap pemimpin negeri atau calon gubernur Jawa Timur, saat gelaran Halal bi Halal e Arek Suroboyo di Gedung SHW Center Surabaya, Rabu (19/7/2017). Menurutnya, bahwa pemimpin itu tidak harus melakukan pencitraan saja, tapi bukti yang lebih konrik dan diharapkan bisa membawa masyarakat Jatim lebih baik lagi.

Seperti diketahui berdasarkan leader opinion yang berkembang saat ini petahana Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Mensos Khofifah Indar Pawansa serta Walikota Tri Rismaharini dinilai sebagai kandidat yang layak untuk memimpin Jatim. Namun, masyarakat Jatim masih perlu bukti nyata bahwa penerus dari Soekarwo nanti bisa mengedepankan kepentingan rakyat Jatim daripada memenuhi ambisi politik praktis saja.

Bagaimana tanggapan Gubernur Soekarwo soal kriteria sosok yang pantas pantas menjadi penerusnya? Menurut pria yang akrab disapa Pakde Karwo bahwa figur penerusnya nanti diharapkan yang bisa menghargai pluralisme dan keberagaman. Mengapa? Pasalnya Jatim membutuhkan sosok yang kuat dalam pluralisme baik kultur, suku, agama dan perbedaan lain.

Ditambahkan, provinsi Jawa Timur sangat beranekaragam, diharapkan figur nanti bisa mengayomi dan menghargai perbedaan. Dan yang paling penting, sosoknya nanti bisa mengedepankan kepentingan ansional daripada kepentingan pribadi untuk kekuasaan saja. “Karena pemimpin harus memiliki beberapa kriteria dan komitmen khas Jatim, yang demokratis, aspiratif, dan partisipatoris untuk menggerakkan pemikiran yang disumbangkan masyarakat,” tegas Soekarwo.

Tanggapan Kaum Muda Terhadap Sosok Pemimpin Jatim
Dari kalangan muda Jatim, Khairul Anam, Ketua Umum Pelita Institut memberikan pandangan politiknya, menurutnya pendidikan politik dan mempersipkan pemuda untuk berperan aktif dalam Pilgub Jatim sangatlah penting, di samping mencari sosok penerus Soekarwo. Menurutnya, pemuda di Jatim harus menjadi seorang pemilih yang cerdas, kriteria yang bagaimana yang patas untuk memimpin Jatim berikutnya.

Idealnya, pemimpin itu harus cerdas, amanah, berpengalaman memimpin daerah dan pemerintahan, menjadi energi baru sebagai penyempurna kepemimpinan sebelumnya dan tak kalah pentingnya menjadi representasi mayoritas kultur masyarakat Jatim.

“Pemuda harus bisa berperan aktif dalam Pilgub Jatim nanti, serta membuka wawasan demokrasi dan mendorong peran sosial pemuda dalam mengisi demokrasi juga. Dan diharapkan bisa mengawasi obyek demokrasi yang baik pula sesuai dengan harapan UUD 45,” jelasnya kepada nusantara.news, Jumat (28/7/2017).

Sekjen PPI (Persatuan Insinyur Indonesia) Jwa Timur Ir. Andira Reoputra bahwa konsep pembangunan Jawa Timur serta konsensi kebijakan yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat Jawa Timur, terutama di bidang infrastruktur dan pelayanan masyarakat.

“Sebagai bagian masyarakat profesional bahwa figur pemimpin yang tepat memimpin Jawa Timur harus memiliki visi ekonomi yang kuat untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi Jawa Timur. Sekaligus tanggap terhadap segala aspek pembangunan daerah yang mana lebih diutamakan,” kata Sekjen PII Jatim tersebut.

Sementara koordinator Jaringan Muda Nahdlatul Ulama (Jarmunu) Jawa Timur Fairouz Huda pernah mengatakan, Jatim di bawah kepemimpinan Soekarwo dengan segala kekurangannya bisa membawa Jatim lebih baik lagi. Mulai dari petumbuhan ekonomi, kondusifitas sosial-politik, Jatim bisa membuktikan sebagai rujukan nasional.

Dengan segala yang dimiliki Jatim saat ini, Fairouz menambahkan, hedaklah figur nantinya bisa menjaga prestasi saat ini, dan kalau bisa dikembangkan akgar menjadi lebih baik lagi dengan program-program yang lebih visioner, demia terwujudnya masyarakat Jatim yang lebih baik lagi.

“Untuk itu, keberlanjutan pembangunan Jatim, harus seiring dengan keberlanjutan kapasitas kepemimpinannya. Wajib hukumnya, Jatim miliki pemimpin yang berkapasitas, cerdas, dan ulet dalam menjawab tantangan-tantangan jaman yang lebih modern dan komplek dengan segala atributnya,” katanya.

Dengan melihat kondisi di atas, Fairouz menegaskan ada beberapa nama yang dinilai masuk dan patut dipertimbangkan menjadi penerus tongkat estafet Soekarwo. Pertama, dari kalangan NU ada Khofifah Indar Parawansyah dan Gus Ipul dan Tri Rsimaharini. Untuk Khofifah semua orang tahu, sosok perempuan progresif ini adalah figur seorang pemimpin dambaan masyarakat Jatim.

“Gaya hidupnya yang sederhana, kapasistas berfikirnya yang selalu miliki lompatan atau terobosan dalam menghadapi tantangan, integritasnya yang sangat teruji, jam terbangnya di dunia sosial-politik yang mumpuni, sekaligus cara kerjanya yang disiplin dan pekerja keras,” bebernya.[]

 

1 KOMENTAR

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here