Mencari Super President

0
182

MENJADI presiden tentu bukan sekadar boleh atau tidak boleh menurut Undang-undang. Tapi lebih dari itu. Moralitas, kapabilitas, integritas dan segala macam syarat rumit lainnya harus menyatu dalam diri seorang pemimpin nasional. Jika tak punya seabrek syarat ini, mustahil bisa memimpin negeri ini dengan baik.

Negeri ini bukan negeri yang mudah. Berbagai madah lama yang menyebut negeri ini gemah ripah loh jinawi, sukar dilihat kenyataannya saat ini. Ini sebuah negeri yang sulit dan penuh kesulitan. Alamnya pernah kaya, tapi kini miskin papa, karena puluhan tahun dikuras tanpa mendatangkan hasil yang setimpal bagi kemakmuran.

Banjir bandang di musim hujan, dan kering kerontang di musim kemarau, adalah pertanda alam negeri ini sudah mencapai puncak eksploitasi. Sementara manusianya berpendidikan terbatas. Utang luar negeri menggunung. Utang baru akan lunas dicicil dalam tempo puluhan tahun, itupun kalau tidak menambah utang baru.

Sudah begitu, persaudaran sesama bangsa pun nyaris retak. Hukum tak pernah bisa ditegakkan, karena senantiasa dapat ditawar. Hampir semua aparat pemerintah korup. Entah apa lagi yang tersisa di negeri ini.

Itu sedikit gambaran dari peta maha besar masalah bangsa ini yang bakal dihadapio pemimpin nasional hasil pemilu tahun ini. Adakah di antara tokoh yang sekarang beredar dalam blantika calon presiden sanggup mengatasi itu?

Rakyat, dalam pemilu mendatang, harus memilih calon presiden yang terbaik untuk mengendalikan negeri ini memasuki gelombang yang makin berbahaya. Dibanding masa lalu, rakyat benar-benar bisa memilih pemimpinnya. Karena presiden akan dipilih secara langsung. Presiden tidak lagi dipilih oleh lembaga yang mengklaim diri mewakili suara dan aspirasi rakyat. Artinya, di atas kertas, tidak akan ada lagi politik “dagang sapi” yang lazim terjadi dalam proses tawar-menawar kekuasaan.

Kalau mengikuti kebutuhan, negara ini membutuhkan presiden yang benar-benar super. Sebab, pekerjaan rumah yang sekarang berserakan juga benar-benar super sulit. Korupsi sudah menjadi bagian dari nafas penyelenggaraan negara. Dari situ berpangkal segala kerusakan, baik yang tak terlihat maupun yang tampak. Karena korupsi adalah nafas penyelenggaraan negara, maka merajalela penebangan liar yang menggunduli hutan. Karena penebangan liar seperti sudah diperbolehkan, maka terjadilah banjir bandang, terjadilah kekeringan, dan seterusnya.

Karena korupsi adalah nafas penyelenggaraan negara, maka bangsa ini tak pernah merangkak maju, bahkan kian hanyut ditelan gelombang. Nyaris tak ada lagi yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Karena dalam hampir segala keburukan, kita  adalah “juara dunia”.

Pada 2016, Indonesia mendapatkan poin 37 dan menempati urutan 90 dari 176 negara yang diukur. Jauh di bawah Singapura, Brunei dan Malaysia.

Dalam soal korupsi, menurut The Transparency International, Indonesia menjadi negara ketiga paling korup setelah Nigeria dan Kamerun dari 99 negara yang diteliti, dengan indeks korupsi CPI (corruption perceptions index)  pada tahun 2008 sebesar 2,6.

Dalam perkara penebangan liar, Indonesia menduduki peringkat ketujuh di dunia dalam bidang perdagangan kayu ilegal setelah Bolivia, Brasil, Kamboja, Kamerun, Kolombia dan Ghana. Lembaga Political and Economic Risk menyebutkan pula Indonesia bersama Vietnam berada di peringkat paling buntut sebagai negara tujuan investasi di Asia.

Bahkan dalam pembangunan masyarakat,  Human Development Report UNDP 2016 , menempatkan Indonesia terpencil di posisi ke 113 dari 188 negara di dunia. Negara-negara tetangga, Malaysia, Thailand, Filipina berada jauh di atas, apalagi jika melihat posisi Singapura. Bahkan, terjadi penurunan dibanding tahun 2015 yang masih di posisi 110.

Bisa kita bayangkan, superman macam apa yang layak menjadi presiden negeri ini agar mampu mengatasi masalah yang luar biasa kronis itu. Sementara sejauh ini di depan kita hanya tersaji nama yang itu-itu saja, yang sungguh besar nafsunya untuk menduduki singasana kepresidenan.

Jadi, selain belitan aneka ragam masalah tadi, ada juga satu masalah yang justru lebih kronis: Keringnya sumber-sumber kepemimpinan, sehingga kita tidak pernah bisa memilih yang benar-benar terbaik.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here