Mencari The Super President

0
68

HARI ini pasangan calon presiden dan calon wakil presiden akan mendaftar ke KPU untuk menjadi peserta Pemilu 2019. Mereka adalah Petahana Joko Widodo berpasangan dengan K.H. Ma’ruf Amin, dan Prabowo Subianto yang berpasangan dengan Sandiaga Salahudin Uno.

Salah satu dari pasangan itulah yang nanti akan memimpin Indonesia –sebuah negeri yang tidak mudah. Berbagai madah lama yang menyebut negeri ini gemah ripah loh jinawi, sukar dilihat kenyataannya saat ini.

Ini sebuah negeri yang sulit dan penuh kesulitan. Alamnya pernah kaya, tapi kini miskin papa, karena puluhan tahun dikuras tanpa mendatangkan hasil yang setimpal bagi kemakmuran rakyatnya. Korupsi sudah menjadi bagian dari nafas penyelenggaraan negara. Dari situ berpangkal segala kerusakan, baik yang tak terlihat maupun yang tampak. Banjir bandang di musim hujan, dan kering kerontang di musim kemarau, adalah pertanda alam negeri ini sudah mencapai puncak eksploitasi. Sementara manusianya berpendidikan terbatas, dipaksa pula bersaing di pertarungan pasar bebas dengan bangsa lain yang lebih tinggi pendidikannya. Utang luar negeri menggunung. Utang baru akan lunas dicicil dalam tempo puluhan tahun, itupun kalau tidak menambah utang baru.

Sudah begitu, persaudaran sesama bangsa pun nyaris retak. Orang mudah sekali menghunus pedang, hanya karena beda pandangan.  Hukum tak pernah bisa ditegakkan, karena  senantiasa dapat ditawar. Patung Dewi Justicia di negeri ini hanya sekadar penghias ruangan penegak hukum.

Entah apa lagi yang tersisa di negeri ini. Itulah sedikit gambaran dari peta maha besar masalah bangsa ini yang bakal dihadapi pemimpin nasional hasil pemilu tahun depan. Adakah di antara mereka yang mendaftar sebagai calon presiden dan wakil presiden ini sanggup mengatasi semua masalah itu?

Kalau mengikuti kebutuhan, negara ini membutuhkan presiden yang benar-benar super. Sebab, pekerjaan rumah yang sekarang berserakan juga benar-benar super sulit.

Seharusnya setiap presiden itu ditanya, mau dibawa kemana negeri ini. Dia harus tahu hendak kemana, tahu jalan mencapai tujuan, dan paham apa saja yang harus dilakukan dalam perjalanan itu agar tujuan tidak makin menjauh.

Tempo hari kita menggugah hal yang sama sehubungan dengan pemilihan kepala daerah. Masyarakat daerah harus menguji calon-calon kepala daerah itu tentang apa yang akan mereka perbuat.

Kini pertanyaan serupa juga harus diajukan kepada calon kepala negara, bahkan dengan bobot dan intensitas yang lebih tinggi. Sebab, jika kepala daerah tak mampu bekerja, kegagalannya masih bisa disangga oleh pemerintah pusat. Namun jika kepala negara yang tak mampu berbuat, bangsa dan negara ini jadi taruhannya.

Itu sebabnya, seluruh elemen masyarakat harus menguji capres dan cawapres: apakah mereka tahu hendak kemana, atau tahukah mereka “rute” perjalanan.

Gerakan perburuhan, misalnya, harus juga menanyai capres tentang konsep mereka dalam ketenagakerjaan, pengentasan pengangguran, pemberdayaan serikat buruh, hubungan industrial, profesionalisme, upah, perlindungan buruh migran dan lokal, antisipasi masuknya tenaga kerja asing, dan sebagainya.

Kalangan pengusaha juga mesti tahu juga apa konsep mereka dalam membangun ekonomi, perpajakan, industrialisasi, investasi dan segala rupa masalah ekonomi. Hal yang sama juga harus dilakukan oleh kalangan pendidikan. Sebab, pendidikan kita seolah jalan di tempat, dan tidak menghasilkan produk pendidikan yang bermutu. Padahal, semua negara maju merintis kesuksesan mereka melalui peningkatan kualitas pendidikan bangsanya.

Begitu juga dengan para aktivis pemberdayaan perempuan, aktivis mahasiswa, pers, atau bahkan para penyandang cacat. Semuanya harus bertanya kepada para capres tentang apa yang akan mereka lakukan.

Sebab, kita tidak bisa menyerahkan nasib bangsa ini kepada calon pemimpin yang tidak punya konsep dan rencana. Akan makin gelap nasib negeri ini jika dikelola oleh orang-orang yang tak tahu harus berbuat apa ketika mereka duduk di kursi kekuasaan.

Dari berbagai dialog itu nanti akan terpapar jelas seberapa hebat seseorang yang begitu bernafsu menjadi presiden atau mempertahankan kursi presiden. Apakah mereka hanya jenis orang yang ingin melancungkan kekuasaan, atau justru pribadi-pribadi yang memasuki kepemimpinan negara dengan berbekal konsep dan rencana.

Dalam kampanye nanti kita pasti akan sering mendengar janji para capres itu akan melakukan ini-itu. Mereka menjanjikan memberantas korupsi, mereka berjanji akan meningkatkan anggaran pendidikan, mewujudkan keamanan, menciptakan lapangan kerja, dan sebagainya. Tapi, bagaimana merealisasikannya, kita belum tahu. Cara merealisasikannya itulah yang harus dikritisi.

Negara ini tidak membutuhkan presiden yang hanya pandai membuat program yang rumit dan canggih. Tapi, bagaimana mewujudkan program sederhana dengan efektif dan efisien.

Inilah semestinya yang menjadi satu-satunya bagi masyarakat untuk memilih mereka.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here