Menebak Kandidat Dirjen Pajak

0
958
Tiga kandidat kuat calon Dirjen Pajak yang akan menggantikan Ken Dwijudiasteadi yang akan memasuki masa pensiun pada 1 Desember 2017. Manakah dari ketiga kandidat itu yang akan dipilih?

Nusantara.news, Jakarta – Pada 1 Desember 2017, tepat usia Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi berusia 60 tahun. Usia pensiun, setelah dilakukan masa perpanjangan tugas, tentu saja sudah berjejer nama calon pengganti jabatan paling basah ini.

Apakah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati cq Presiden Jokowi akan memilih orang dari internal Direktorat Jenderal Pajak (DJP) atau justru dari Kementerian Keuangan? Atau justru dari luar?

Sampai saat artikel ini ditulis, belum ada tanda-tanda siapa yang bakal duduk di kursi panas itu. Bahkan belum ada informasi mengenai lelang jabatan, sehingga muncul spekulasi Menkeu akan menunjuk langsung Dirjen Pajak dimaksud.

Penggantian Dirjen Pajak ini menjadi menarik karena di tengah perburuan target penerimaan pajak oleh badan pemungut pajak itu. Apakah akan tercapai target penerimaan pajak? Atau justu shortfall, terjadi selisih kurang? Makin besar atau makin kecil shortfall pajak? Dan beribu pertanyaan lain yang patut diajukan.

Yang lebih menarik lagi, 1 Desember 2017 adalah waktu penentuan seberapa besar target pajak itu tercapai. Pada saat itu terlihat ketidakpiawaian atau ketidakmampuan sang Dirjen Pajak di tengah kebutuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sangat besar.

Otomatis sang pengganti harus memenuhi semua ekspektasi ideal: cekatan, pandai mengolek pajak, bisa memenuhi keinginan program infrastruktur Presiden, dan yang terpenting bisa melakukan ekstensifikasi dan intensifikasi pajak.

Tanpa seleksi terbuka

Kabar yang kuat merebak ke permukaan dalam proses pergantian Dirjen Pajak kali ini tidak dilakukan lewat seleksi, melainkan penunjukkan langsung. Hal ini bisa difahami karena waktu semakin mepet, sehingga dengan menunjuk langsung, sang Dirjen Pajak terpilih bisa langsung bekerja.

Menteri Keuangan terdahulu, Bambang PS Brodjonegoro pernah menerapkan metode seleksi alias lelang jabatan Dirjen Pajak pada akhir 2014 untuk menggantikan Fuad Rahmany yang pensiun.

Selama proses seleksi berlangsung, Bambang mengangkat Mardiasmo sebagai pelaksana tugas (PLT) Dirjen Pajak. Dari hasil seleksi, terpilih Sigit Priadi Pramudito. Ia dilantik pada 9 Februari 2015. Namun, tak sampai setahun, Sigit mengundurkan diri. Ketika itu, Bambang mengungkapkan bahwa Sigit mundur lantaran merasa tak mampu mengejar target pajak ketika itu yang mencapai Rp1.294,2 triliun. Setelah itu, Bambang menunjuk Ken sebagai penggantinya.

Kementerian Keuangan maupun DJP harus belajar dari pengalaman sebelumnya. Seleksi terbuka belum tentu menghasilkan yang terbaik, tapi penunjukan juga belum tentu menghasilkan Dirjen Pajak yang buruk.

Yang terpenting adalah memetakan dulu tantangan dan peluang yang dihadapi DJP untuk menentukan profil pimpinan yang dibutuhkan saat ini beserta indikator peniaiannya. Kualitas utama yang dibutuhkan seorang Dirjen Pajak adalah leadership yang kuat.

Leadership yang kuat diperlukan agar bisa menuntaskan reformasi perpajakan. Di sisi lain, Dirjen Pajak harus lah orang yang sangat kompeten tentang pajak, sehingga sang Dirjen tahu di mana sumber pajak yang harus dikejar.

Sekjen Kementerian Keuangan Hadiyanto membuka kemungkinan mekanisme yang dipakai yaitu penunjukan langsung alias mutasi eselon I lainnya. Sebab, jika dilakukan melalui seleksi atau lelang dibutuhkan persiapan jauh-jauh hari.

Adapun di lingkungan Kementerian Keuangan saat ini ada 10 pejabat eselon I selain Dirjen Pajak Ken Dwijugiasteadi. Mereka adalah Sekretaris Jenderal Hadiyanto, Inspektur Jenderal Sumiyati, Dirjen Anggaran Askolani, Dirjen Bea dan Cukai Heru Pambudi, Dirjen Perbendaharaan Marwanto Harjowirono, Dirjen Kekayaan Negara Isa Rachmatawarta.

Selain itu, Dirjen Perimbangan Keuangan Boediarso Teguh Widodo, Dirjen Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Robert Pakpahan, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara, Kepala badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan Astera Primanto Bhakti.

Sementara di jajaran internal DJP berkembang rumors yang kuat beberapa kandidat yang dianggap capable ada beberapa nama. Seperti Edi Slamet Irianto (Kakanwil DJP Jakarta Selatan II), Suryo Utomo (Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Pajak), Awan Nurmawan Nuh (Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Peraturan dan Penegakkan Hukum Pajak), Peni Hirjanto (Direktur Intelijen Pajak DJP), Arfan (Sekretaris DJP).

Selain itu ada nama Catur Rini Widosari (Kakanwil DJP Banten), Rida Handanu (Kakanwil DJP Jawa Tengah II), Puspita Wulandari (Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengawasan Pajak).

Dari nama-nama yang tersebut di atas, nampaknya nama Edi Slamet Irianto, Suryo Utomo dan Awan Nurmawan Nuh yang menjadi kandidat paling kuat. Tergantung seberapa kuat konsep penerimaan pajak yang akan diajukan keduanya, juga seberapa dekat kedua kandidat itu dengan Menteri Keuangan dan tentu saja lingkaran Presiden Jokowi.

Yang paling menentukan sebenarnya, apa tema yang akan diangkat Menteri Keuangan pada 2018, jika yang diutamakan menggenjot penerimaan pajak asing dan pajak korporat maka Slamet Edi Irianto yang berpeluang. Tapi kalau tema yang akan diangkat soal kepatuhan pajak maka yang layak tampil adalah Suryo Utomo.

Sementara jika tema DJP pada 2018 menyangkut bidang penegakkan hukum (law enforcement), sosok Awan Nurmawan Nuh yang layak menjadi Dirjen Pajak.

Tentu saja calon Dirjen Pajak yang dipilih nanti akan mengemban tugas maha berat untuk melanjutkan pengejaran target pajak tahun ini yang mencapai  Rp1.283,6 triliun. Mengingat sampai September 2017, realisasinya penerimaan pajak baru mencapai 60% atau sekitar Rp770,7 triliun. Artinya, masih ada sekitar Rp512,9 triliun yang harus dikejar dalam tiga bulan tersisa.

Apalagi tahun 2018, sesuai postur sementara APBN 2018, penerimaan pajak ditargetkan naik 7,97% menjadi Rp1.385,9 triliun. Tentu saja target tahun 2017 dipastikan tidak tercapai, bahkan Dirjen Pajak baru harus mengejar penerimaan pajak yang lebih tinggi pada 2018.

Sepertinya kita tunggu saja kemana arah Dewi Fortuna berpihak, ketika itu kita segera mendapatkan sosok Dirjen Pajak ideal dimaksud.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here