Menentang Trump Sheriff Florida ini Lindungi Imigran

0
65
Pekerja migran tidak takut lagi kepada polisi yang mendatangi perkebunan tempatnya bekerja/ NBC News

Nusantara.news, Orlando – Tanpa hadirnya imigran, ladang-ladang pertanian dan peternakan di Kabupaten negara bagian Florida ini akan mati. Selanjutnya, imigran tak berdokumen bukan pelaku kejahatan sebagaimana sering diungkapkan oleh Trump, justru acap kali menjadi korban kejahatan yang sempurna karena keluarganya tidak mungkin melapor. Kurang lebih kasusnya mirip dengan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia.

Memang, meskipun Trump menang di Florida tapi umumnya orang-orang di sana khawatir dengan kebijakan anti-imigran yang dicanangkannya. Biar bagaimana pun, para imigran asal Meksiko itu penggerak utama perekonomian, khususnya di Volusia County. Jadi bisa dimaklumi ketika mobil patrol menghampiri areal perkebunan pakis, ratusan pekerja tampak bersembunyi di rimbun dedaunan pagi.

Menangkan Trump

Sersan Roy Galarza (34) dan kedua saudaranya – juga deputi sheriff keluar dari mobil. Menyapa seorang pamannya yang bekerja di sana. Sejak itu lah para pekerja migran keluar dari tempat persembunyian, bahkan reriungan dengan para deputi yang juga keturunan Meksiko. Ada yang mengeluhkan seringnya pemeriksaan di lampu merah, ada juga yang bicara kesalahpahaman seorang teman dengan polisi yang melibatkan anak-anaknya.

Ketiga polisi itu datang untuk membangun kepercayaan di komunitas imigran/NBC News

Galarza bersaudara – Roy, Daniel (36) dan Billy (26) – ke ladang itu bukan untuk menegakkan peraturan anti-pendatang yang diserukan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald J Trump. Mereka datang ke sana sebagai bagian dari upaya Departemen Sheriff Volusia County untuk membangun kepercayaan di lingkungan komunitas imigran yang takut akan polisi dan deportasi sebagaimana perintah eksekutif Donald Trump.

Trump berulang kali menjelek-jelekkan sejumlah “kota suaka” bagi penjahat dan aktivitas ilegal yang diizinkan oleh politisi setempat meraja lela. Departemen Kehakiman telah mengancam menarik dana federal dari daerah-daerah yang disebutnya melanggar hukum federal, dan – bulan lalu – mengumumkan gugatan terhadap negara bagian California atas kebijakannya melindungi imigran dari deportasi.

Pasangan paruh baya yang suah menikah, keduanya bekerja di ladang pakis

Namun ada satu kenyataan yang jarang dipublikasikan, sebagian kawasan pedesaan di negara bagian Florida – seperti Volusia County – pada Pemilu Presiden 2016 memilih Trump dengan keuanggulan 13 poin, namun petugas hukumnya mengatakan mereka perlu melindungi imigran yang bekerja di masyarakat dan mendorong kembali upaya federal, negara bagian dan lokal untuk menutupnya.

Volusia Country adalah alamat bagi NASCAR Daytona 500 dan Daytona Beach – dengan populasi penduduk sekitar 500 ribu jiwa di wilayah seluas 1.101 mil persegi. County ini terletak di pantai timur negara bagian Florida berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Orlando. Kota terbesarnya adalah Deltona – berpenduduk 90 ribu jiwa – namun kota itu juga mencakup kota kecil Pierson yang menyebutkan dirinya ibu kota dunia.

“Begitu Trump dilantik menjadi presiden, itu adalah kekhawatiran besar – orang-orang dideportasi,” kata Roy kepada NBC News. Ïtu akan mempengaruhi hubungan kantor sheriff dan komunitas Hispanik, ‘Sekarang jika saya berhenti, apa yang akan terjadi?”’

Roy khawatir meningkatnya kasus kekerasan dalam rumah tangga akan lebih sering lagi tidak dilaporkan di Pierson, dan para penjahat akan menyasar keluarga-keluarga imigran yang tidak berdokumen. “Sebab mereka tahu tahu imigran tak berdokumen tidak akan melapor ke polisi.”

Memang, para pekerja tak berdokumen saat berbicara dengan NBC News – melalui seorang penerjemah – mengatakan mereka semua takut kepada penegak hukum, dan secara hati-hati mempercayai ketiga polisi dari keluarga Galarza.

Asal Kejahatan

Pada 2016, di Volusia County – County terjemahan dalam bahasa Indonesia ada yang menyebut provinsi ada pula yang menyebut kabupaten – memilih calon presiden dan seorang sheriff untuk mengembalikan kepercayaan di komunitas imigran.

“Dari mana kejahatan berasal? Kejahatan berasal ketika anda meminggirkan ras atau agama tertentu dan menjatuhkan mereka dari masyarakat arus utama,” papar Sheriff Michael Chitwood – seorang politisi independen yang dilantik di bulan yang sama dengan pelantikan Donald Trump menjadi presiden, “ketika saya pertama kali terpilih, saya pergi ke gereja dan meminta para pendeta untuk mempercayai saya dan meyakinkan ada pendekatan berbeda yang kami lakukan (terhadap komunitas imigran).”

Ayah dari para polisi masih seorang buruh tani di perkebunan pakis

Chitwood mengatakan dia menerapkan kebijakan dengan cara mengintensifkan pendekatan rutin ke gereja-gereja dan sekolah-sekolah, sekaligus meyakinkan masyarakat kalau berhubungan dengan polisi tidak akan berakhir dengan deportasi.

Saat berkunjung ke gereja – Sheriff memberi tahu NBC News – empat atau lima orang menghampirinya untuk melaporkan satu deputi yang terus menerus mengancam mereka, sekaligus memperlihatkan foto deputi itu ke Sheriff dari ponselnya. Setelah Chitwood memeriksa catatan departemen, dia menemukan catatan secara rutin deputi ini keluar sekitar 10 mil dari zona yang ditugaskan dan kerap melakukan razia di lingkungan imigran.

Chitwood membuka penyelidikan keesokan harinya, dan deputi itu menjalani sanksi pensiun dipercepat. Sheriff menulis kebijakan baru yang mengatakan polisi perlu mencari penyebab-penyebab kejahatan yang lebih masuk akal – seperti keanggotaan geng kejahatan atau kartel narkoba yang biasanya ditandai dengan tattoo tertentu – untuk menanyakan kewarganegaraan di persimpangan lampu merah.

Tidak ada definisi yang jelas tentang apa yang membuat sebuah kota menjadi “tempat perlindungan” bagi para imigran gelap, dan mayoritas sebenarnya adalah wilayah, menurut kelompok-kelompok yang melacak persoalan ini. Departemen Kehakiman AS sendiri menolak memberikan definisi resmi tentang istilah itu.

Sebaliknya Departemen Kehakiman (DOJ/ Department of Justice) menunjukkan surat-surat yang dikirim otoritas kota yang mengatakan menolak untuk menanyakan status imigrasi dan kegagalan menghormati permintaan penahanan dari ICE (US Immigration and Custom Enforcement) – ketika perintah federal meminta kota-kota menahan seseorang di penjara selama 48 jam ditambah akhir pekan dan libur, sehingga petugas imigrasi dan bea cukai dapat mendatanginya – adalah pelanggaran hukum federal.

Meskipun Volusia membangkang dari perintah sejak 2014, Chitwood berpendapat daerahnya bukan tempat perlindungan – departemennya telah melakukan komunikasi dengan ICE – itu hanya karena kepolisian Volusia tidak mau melakukan pekerjaan yang menjadi kewenangan ICE, sekaligus membenarkan daerahnya sangat sedikit menerima permintaan dari ICE.

“Apabila ICE memberi tahu saya ada seorang imigran gelap melakukan pembunuhan, kami akan mengupayakan secara penuh untuk menangkapnya. Tetapi jika Anda memberi tahu saya, saya harus mendapatkan seseorang yang melebihi visa mereka? Terus terang saya tidak terlatih dan tidak memiliki tenaga untuk itu,” beber Chitwood.

Selama 2018 hingga awal bulan April, Volusia hanya memiliki satu permintaan penahanan dari ICE. Orang yang disasar ditemukan dengan barang bukti 0,5 Kg amfetamin, juga memiliki catatan kriminal yang luar biasa, dan Departemen Sheriff Volusia tetap menahannya karena memang dia seorang penjahat.

“Saya harus melihat apa fakta-gakta di Volusia County, dan fakta-fakta di Volusia County adalah sekitar US$ 30 – 60 juta berasal dari ladang pertanian di Pierson,” kata Chitwood. “Tanpa imigran atau pekerja keliling, peternakan itu tidak ada lagi. Saya tidak akan datang ke sana dan memasuki ladang pertanian atau melakukan razia di perlintasan untuk menciptakan masalah di mana saya tidak punya masalah.”

Dilemma Kemanusiaan

Departemen Kehakiman Trump – saat masih dipimpin Jaksa Agung Jeff Sessions – telah menghabiskan tahun terakhir dengan menekan kabupaten atau kota yang dilaporkan sejumlah pejabat memiliki kebijakan perlindungan imigran – sejak Albany, New York, hingga ke Albuquerque di New Meksiko – untuk menegakkan undang-undang imigrasi federal, meskipun tindakan itu telah dibatalkan oleh pengadilan.

Pada bulan Januari, tercatat 17 sheriff di negara bagian Florida menandatangani kesepakatan seluruh biaya penahanan seseorang yang ditargetkan ICE akan diganti oleh ICE.

“Ketika seseorang di penjara kami dan mereka telah melakukan kejahatan dan ICE meminta kami menahan seseorang itu hingga diserahkan ke ICE,” kata Sheriff Pinellas County Bob Gualtieri – satu di antara sheriff yang menandatangani kesepakatan – mengatakan kepada NBC News. Ïtu yang harus kami lakukan.”

Sheriff ini mengatakan tidak melihat ketakutan yang meluas di komunitas imigran di daerahnya dan percaya apabila menolak untuk “menghormati” tahanan ICE adalah “mengerikan”. Sebagai negara yang telah memilih Trump, lanjut Gualtieri, siapapun wajib mengikuti kepemimpinan presiden, dan negara-negara di seluruh AS mestinya juga menghukum kota-kota suaka.

National Council on State Legislature sebenarnya mencatat ada 54 rancangan Undang-Undang untuk menangani “kota suaka” dan penegakan imigrasi sedang dipertimbangkan di 25 badan legislatif negara bagian tahun ini. Florida menganggap RUU larangan “kota suaka” dan mendesak agar kota-kota menghormati tahanan ICE – namun terhenti di Senat negara bagian. Suatu hukum telah diberlakukan di Iowa; RUU diveto di Virginia, dan 41 menunggu hingga awal April.

Seorang ayah yang buruh tani dan ketiga anaknya yang menjadi polisi

Saat ditanya tentang kebijakan di Volusia County atas kebijakan penahanan dan upaya membangun kepercayaan di lingkungan imigran, ketua partai Republik setempat – Tony Ledbetter – mengatakan dia belum menyadari kalau penjara County belum menghormati permintaan ICE untuk melakukan penahanan sejak 2014.

“Saya tidak tahu itu, tapi saya tidak setuju dengan itu. Jika mereka kriminal dan mereka ada di sini secara ilegal, maka semua orang harus mendukung penyelesaian situasi,”katanya. Dia menambahkan dia mempercayai Chitwood adalah sheriff yang bagus. “Tapi kalau dia menciptakan ruang antara saya dan presiden, saya berpihak kepada presiden.”

Chitwood yang secara terbuka menentang undang-undang anti-perlindungan di negara bagian Florida dalam sebuah opini terbuka mengatakan, dia belajar lewat pengalaman tragis tentang ketidak-percayaan komunitas imigran kepada polisi. “Ketika menjadi kepala polisi di Daytona saya menangani kasus pembunuhan tragis yang menimpa imigran,” tuturnya. “Kami gagal.”

Saat mendapatkan panggilan tentang kasus kekerasan dalam rumah tangga, kenangnya, polisi diberi tahu korban tak berdokumen. Petugas pun bertanya status imigrasinya.

“Dia mati,” kata Chitwood – mengingat apa yang dia lihat di rekaman kamera petugas yang menangani kasusnya. “Kami kembali delapan jam kemudian ketika anak bungsunya bangun, dan menemukan ada celah di tenggorokannya karena kekejaman suami. Ketika Anda menonton video itu, Anda akan mengakatan jika para petugas tidak terlalu bertele-tele menanyakan status keimigrasian… perempuan itu mungkin masih hidup hari ini.”

Kerabat Imigran

Sebagai orang yang dilahirkan dari keluarga imigran tak berdokumen – Roy, Daniel dan Billy – dibesarkan di Pierson di antara perkebunan pakis yang daunnya dijual untuk keperluan dekorasi. Ayah tiri mereka – Panteleon – yang baru saja menjadi warga negara AS, menyeberangi Rio Grande dengan berjalan kaki dan masih bekerja di salah satu ladang saat ketiga anak lelakinya berkunjung di sore hari yang cerah.

Galarza bersaudara memiliki kenangan masa kecil memilukan saat ikut bekerja memotong tanaman dan membundelnya – kemudian dijual ke toko bunga – sejak sebelum dan sesudah sekolah, pada setiap akhir pekan dan selama liburan.

Roy benci saat butiran es menutupi daun pakis di musim dingin, merendam sarung tangannya dengan air yang membeku. Daniel pernah secara dramatis menjatuhkan tubuhnya ke tanah ketika lelah memotong daun yang akan memberikan penghasilan US$40 – 50 sehari, tergantung keuletan bekerja. Billy masih bocah, usianya baru 10 tahun saat ibunya meninggal dan saudara-saudaranya membiarkannya istirahat. []

 

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here