Meneropong Dampak Pertambangan Bagi Kesejahteraan Rakyat

0
137

Nusantara.news, Banyuwangi – Geliat sektor pertambangan akhir-akhir ini menjadi sorotan publik ketika dampak positifnya bagi rakyat sudah mulai dipertanyakan.  Sering terdengar bahwa pertambangan dapat membuka lapangan pekerjaan yang besar, mendorong pemasukan untuk pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan serta kualitas hidup rakyat.

Untuk menelisik lebih jauh tentang seluk beluk dampak pertambangan bagi rakyat, Forum Banyuwangi (ForBanyuwangi) bekerjasama dengan Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumber Daya Alam (FNKSDA) Banyuwangi, Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) Osing serta Forum Komunikasi Mahasiswa dan Masyarakat (ForkoMM) Banyuwangi menggelar bedah buku berjudul “Mitos Tambang untuk Kesejahteraan”.

Acara yang digelar pada hari Jum’a’t (10/2/2017) di sebuah cafe di Kecamatan Glagah itu dihadiri oleh budayawan, mahasiswa hingga pegiat wisata. Dalam acara ini,  Hendra Try Ardianto sebagai narasumber memaparkan pokok-pokok pemikiran dari buku yang sekaligus menjadi karya tulisnya dalam meraih gelar Master of Arts (MA) di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Menurut Hendra, tambang tidak selamanya memberikan dampak positif bagi masyarakat. “Lapangan kerja besar terserap saat pembangunan saja, setelah itu hanya sedikit tenaga yang terserap. Pemasukan ke Pemerintah Daerah juga belum tentu disalurkan ke masyarakat kecil, terlebih dana CSR yang selalu disalurkan ke usaha masyarakat yang telah mapan untuk menjamin citra ‘CSR sukses bermanfaat utuk masyarakat’, bukan pengusaha kecil yang justru sangat membutuhkan,” kata Hendra dalam acara itu, Jum’at (10/2/2017).

Dalam konteks ini, Hendra mencontohkan daerah asalnya yaitu Kabupaten Tuban. Menurutnya pendapatan Pemda Tuban dari tambang sekitar Rp 50 miliar, dan angka tersebut bukan sumber pendapatan terbesar. Pendapatan terbesar justru dari rumah sakit yang mencapai Rp 160 miliar.

Di sisi lain,  efek kerusakan lingkungan yang ditimbulkan pertambangan cukup besar. Lebih lanjut ia mengemukakan, dengan adanya penambangan, misalnya semen,  dapat berpengaruh terhadap lapisan ozon dan konsumsi air yang sangat boros. “Dalam proses pengolahan semen, proses yang disebut “klinker” membutuhkan air sebanyak 23 liter per detik”, ungkapnya. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here