Meneror Ketua KPK, Baru Uji Coba

0
92

KEMBALI KPK diteror. Kemarin ditemukan benda mirip bom  di rumah Ketua KPK Agus Rahardjo di Bekasi dan rumah Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif di Jakarta. Untungnya tidak ada korban dalam kejadian tersebut.

Tetapi, ini bukan perkara ada atau tidak ada korban. Penemuan benda menyerupai bom di rumah kedua pimpinan KPK ini saja sudah sangat menakutkan. Agus Rahardjo dan Laode mungkin menerima ancaman itu sebagai bagian dari risiko tugas mereka. Begitu mereka mendaftar sebagai calon komisioner KPK dulu, mereka tentu sudah paham gambaran ancaman yang bakal dihadapi.

Lembaga antikorupsi di mana pun pasti sarat risiko, penuh intimidasi, bersahabat dengan teror. Sebab mereka ada pemimpin KPK, lembaga yang musuh utama para koruptor yang sedemikian banyak bergentayangan di negeri ini. Koruptor – yang  sudah pasti kaya raya dan berkuasa—berkepentingan melenyapkan atau setidaknya membuat aparatnya jeri.

Tanpa bermaksud  mengecilkan, teror yang ditujukan kepada KPK selama ini barangkali belum apa-apa dibandingkan dengan teror yang dihadapi para penegak hukum di negara-negara yang mempunyai tradisi sindikat mafia organized crime. Banyak di antara mereka yang mati dalam tugas.

Tapi untuk ukuran Indonesia teror terhadap pimpinan KPK itu sangat menakutkan. Sebab, kedua orang itu seharusnya sangat terlindung. Sementara di negara kita tidak terdapat punya tradisi gangster seperti di negara-negara Amerika latin yang selalu mengincar penegak hukum.

Mengapa teror kini sudah mengarah ke pimpinan KPK? Mudah menjawabnya. Karena kasus penganiayaan Novel Baswedan tak kunjung terungkap. Hingga hari ini kasus ini sudah menggantung hampir dua tahun. Sejak penyidik senior KPK itu disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April tahun lalu, sehingga matanya mengalami cacat seumur hidup, belum ada juga titik terang.

Bahkan Komnas HAM menilai polisi bekerja terlalu lambat dalam menangani kasus Novel. Menurut anggota tim pemantau Komnas HAM Bivitri Susanti, ada abuse of procces di balik lambannya polisi menangani kasus Novel. “Ada pelanggaran prosedur,” ujar Bivitri.

Karena polisi maupun otoritas politik negeri ini tidak memperlihatkan keseriusan yang kuat

untuk mengungkap kasus Novel sampai tuntas, maka teror terhadap KPK menjadi sesuatu yang “biasa”. Apalagi Novel pernah mengungkapkan bahwa sebelum dirinya sudah banyak penyidik KPK yang menjadi sasaran teror. Artinya, eskalasi jumlah dan target teror terhadap KPK sudah menjadi keniscayaan.

Tidak mentoleransi pelanggaran kecil, akan mencegah pelanggaran besar. Itu pesan utama teori Broken Windows.

Broken Windows sebetulnya teori dalam kriminologi hasil uji coba Philip Zimbardo di akhir dasawarsa 1960-an di California dan New York. Zimbardo memecahkan kaca jendela mobil yang diparkir, dan karena polisi tidak mengambil tindakan apa pun, orang-orang di sekitar pun ikut-ikutan memecahkan kaca-kaca mobil. Itu sebabnya disebut Broken Windows. Uji coba ini dirumuskan secara teoritis oleh James Q. Wilson dan George L. Kelling di tahun 1982 yang menyimpulkan, kalau kejahatan kecil tidak ditindak maka kejahatan besar akan mengikutinya dengan mudah.

Ketika William Bratton diangkat menjadi kepala New York Police Departement dia menerapkan teori Broken Windows ini, dan hasilnya angka kriminalitas di kota itu turun dengan drastis.

Logika teori Broken Windows ini harus dipakai dalam menanggapi  kasus teror terhadap aparat dan pimpinan KPK. Kalau negara tidak bersikap keras terhadap pelanggaran kecil, dia akan dimakan oleh pelanggaran besar.

Nah, pesan ini semestinya tersampaikan dan terbaca oleh siapa pun yang hendak meneror KPK atau lembaga penegak hukum lain. Pesan itu hanya bisa terbaca jika pemerintah menunjukkan ketegasannya. Jika tidak, ancaman akan bereskalasi secara alamiah. Novel, Laode atau Agus mungkin baru uji coba. Setelah uji coba ini “sukses”, akan ada sasaran yang lebih tinggi.[]

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here