Mengalahkan Ahok Seperti Memenangkan Pertempuran Melawan Kolonialisme China

0
367

Nusantara.news, Jakarta –  Ada suatu yang melegakan setelah Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang kalah telak dengan selisih suara lebih 15 persen dalam Plkada DKI Jakarta tanggal 19 April 2017. Yakni, rakyat Jakarta, atau rakyat Indonesia seperti memenangkan pertempuran melawan kolonialisme China yang direpresentasikan oleh sosok Ahok.

Kolonialisme China

Kata-kata kolonialisme China mungkin berlebihan. Tetapi faktanya, isu pilkada DKI Jakarta, tidak lagi sekadar adu program, tetapi berkembang dan dikuasai isu etnis, agama dan NKRI

Isu ini awalnya hanya karena Ahok berasal etnis China. Keadaan berubah ketika Ahok dinyatakan menista agama Islam terkait pernyataannya yang menyinggung surat Al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu yang dijawab umat Islam dengan menggelar beberapa kali aksi super damai yang heroik dihadiri jutaan umat dari berbagai daerah di Indonesia.

Aksi super damai nyaris mengubur hal hal yang terkait dengan program. Yang menonjol kemudian adalah isu agama dan etnis. Isu ini sempat dilawan dengan isu yang mengedepankan kebinekaan sebagai bentuk pembelaan terhadap Ahok.

Pembelaan ini sempat naik daun. Tetapi, dalam perjalanan pudar setelah isu penistaan terhadap agama berkombinasi dengan isu reklamasi, ketidaksopanan Ahok dan hal hal yang terkait dengan etnis China lainya. Perlawanan terhadap Ahok  kemudian bertumpu pada isu nasionalisme.

Cermati misalnya pernyataan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) saat didaulat berbicara dalam diskusi bertajuk “Kebangsaan dalam Kebudayan” yang diselenggarakan Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta (PWSY) di Yogyakarta, Senin (17/4/2017), dua hari sebelum hari pencoblosan.

“Saya menjadi nasionalis justru karena saya seorang muslim. Bagi saya nasionalisme itu wajib, karena asal-usulnya oleh Tuhan saya ditentukan lahir dan menjadi anak orang Indonesia sehingga saya wajib merawat Indonesia,” kata Cak Nun seperti diberitakan Nusantara.news, 18 April 2017. Sebuah pernyataan yang menggiring memori publik pada aksi super damai yang heroik yang diikuti jutaan umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia.

Jelang hari pencoblosan, seorang keturunan China bernama Hadisurya Sulistyo marah-marah sambil menghina Gubernur NTB, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi dengan kata-kata yang tak pantas, “Tiko“ tikus kotor”, “Tiko” memiliki arti “Ti = babi” dan “ko =anjing”.

Hinaan itu viral di media cetak dan media sosial. Tak pelak isu nasionalisme dalam Pilkada DKI semakin panas sampai ke titik didih.  Pertarungan antara Anies-Sandi vs Ahok–Djarot berubah bak pertempuran antara rakyat Indonesia melawan kolonialis China yang sudah lama bercokol di nusantara.

Libido Politik China Perantauan

Pilkada DKI Jakarta sudah usai. Ahok kalah telak. Tetapi “pertempuran” tidak atau belum serta merta selesai.

Sebab, kehadiran Ahok di panggung politik Indonesia secara terbuka, menumbuhkan kesadaran baru tentang keberadaan etnis China di Indonesia.

Muncul semacam pertanyaan, mengapa etnis China yang selama ini cenderung membatasi diri bergerak di ranah bisnis, kini tampil di panggung politik secara terbuka?

Apakah ini konsekuensi logis sekadar euforia setelah orde reformasi membuka berbagai ruang yang sebelumnya ditutup oleh orde lama dan orde baru?

Ditelisik lebih jauh, cukup banyak etnis China yang saat ini duduk di institusi negara baik di daerah maupun di pusat, eksekutif maupun legislatif.

Realitas ini menggiring pemikiran bahwa isu isu nasionalisme yang hidup saat Pilkada DKI Jakarta, bukan sekadar rekayasa untuk kepentingan pragmatis mengalahkan Ahok, tetapi dicurigai sebagai fakta yang sebenarnya, di mana China perantauan memang benar-benar ingin mendudukan Ahok menguasai pemerintahan, bukan untuk kepetingan warga DKI jakarta, melainkan untuk kepentingan Tiongkok.  Partai Komunis Cina (PKC) dalam sebuah konferensi internasional China Perantauan, memang pula mendaulat China perantauan sebagai patriot.

Kecurigaan seperti ini bukan tanpa alasan. Presedennya sudah ada, yakni di Afrika yang praktis sudah dikuasai China.

Memang, belum ada bukti bahwa tampilnya Ahok di panggung pemilu didasari keinginan jahat untuk menguasai politik Indonesia. Namun, demikian satu hal pasti bahwa tampilnya Ahok di panggung pemilu, menunjukkan libido politik China perantauan.

Libido politik China perantauan ini-lah yang sekarang jadi persoalan dan oleh sebab itu perlu direspon oleh pemerintah agar pilkada ke depan tidak lagi menegangkan atau mengusik isu sensitif seperti SARA, nasionalisme, kebinekaan dan NKRI.

Bagaimana pemerintah akan meresponnya? Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tampil berpasangan dengan Ahok pada Pilkada DKI tahun 2012, diharapkan mampu memberikan respon yang memuaskan. []

Berikan Komentar anda!

Please enter your comment!
Please enter your name here